Sejak sekitar pertengahan tahun lalu, Australia sedang mengalami fenomena kebakaran hutan yang tercatat merupakan salah satu kebakaran hutan terburuk dalam sejarah. Hutan merupakan salah satu penghasil sumber daya alam yang penting bagi Australia, sekaligus habitat bagi binatang-binatang khasnya seperti Koala dan Kangguru. Kebakaran hutan telah menyerang hampir di semua bagian Australia, namun yang terparah berada di New South Wales. Beberapa kota besar di Australia seperti Melbourne dan Sidney juga terkena dampaknya, sehingga fenomena ini tidak dapat diabaikan begitu saja oleh penduduk setempat, bahkan telah menarik simpati masyarakat lain di seluruh dunia. Selama berbulan-bulan, peristiwa ini telah menyentuh titik tenggara Australia hingga menyebabkan area tersebut memiliki salah satu tingkat polusi udara terburuk di dunia.

Sejak September, lebih dari 18 juta hektar hutan kering telah terbakar. Setidaknya telah memakan 28 korban jiwa, menghancurkan 3000 rumah warga, serta sekitar satu milyar binatang juga terkena dampak dari kebakaran tersebut. Meski hujan deras yang telah turun di bagian pesisir timur telah membantu meringankan kebakaran yang ada untuk sementara waktu, namun hal tersebut tak berlangsung lama karena seminggu berikutnya, pemerintah Canberra mengumumkan status darurat di sepanjang wilayah tersebut karena api yang mulai muncul kembali.

Fenomena kebakaran hutan ini utamanya disebabkan oleh alasan-alasan natural, seperti petir kering yang kemudian dapat menciptakan percikan api, seperti yang terjadi di wilayah Victoria’s East Gippsland pada akhir Desember, yang mana percikan tersebut bergasil menyebar hingga sejauh 20 kilometer dalam waktu lima jam saja. Selain itu, fenomena the Indian Ocean Dipole (the IOD) juga dikatakan telah berpengaruh terhadap kebakaran ini. Namun, fenomena ini juga tidak lepas dari campur tangan manusia. Polisi New South Wales telah menahan setidaknya 24 orang yang dipandang telah menyebabkan kebakaran, dan telah memberikan aksi legal pada 183 orang terkait api yang terjadi sejak November lalu.

Para peneliti telah memperingatkan selama lebih dari 10 tahun terkait musim kebakaran hutan yang ekstrim, sebagai hasil dari perubahan iklim yang terjadi di dunia. Sejak tahun 1910, suhu temperatur Australia telah memanas sekitar lebih dari 1°C, yang mana hal ini dapat berakibat pada gelombang panas yang lebih sering dan intens. Berdasarkan data the Australian Bureau of Meteorology, tahun lalu merupakan tahun yang paling panas dan kering sepanjang sejarah Australia.

Selain suhu panas yang begitu ekstrim, telah terjadi pula penurunan tingkat intensitas hujan di Australia, yang umumnya terjadi saat bulan-bulan musim dingin. Kota-kota di New South Wales misalnya, telah mengalami kekurangan air mengingat wilayah tersebut hanya memperoleh tingkat hujan kurang dari 125 mm setiap tahunnya sejak 2017. Fenomena seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Tanpa hujan, hutan-hutan kering kemudian menjadi bahan bakar untuk kebakaran yang terjadi. Terjadinya percikan kecil saja dapat memicu dan menyebabkan kebakaran hutan besar di wilayah-wilayah tersebut.

Kemarahan publik terkait kebakaran ini juga telah melunjak, dengan banyak protes ditujukan pada Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan para anggota kabinetnya terkait kebijakan-kebijakan iklim dan respon terhadap kebakaran. Di awal tahun 2020, lebih dari 400 peneliti iklim, cuaca, dan kebakaran telah menandatangani surat terbuka yang diajukan pada para pemimpin Australia untuk segera mengambil tindakan terkait pengurangan emisi global dari gas-gas rumah kaca. Para peneliti tersebut kemudian menghubungkan kebakaran hutan tersebut dengan ulah tindakan manusia.

Secara bersamaan peningkatan resiko kebakaran, gelombang panas yang semakin intens, dan berkurangnya curah hujan dapat terus terjadi di Australia jika negara-negara di seluruh dunia tidak membatasi pemanasan global hingga 1,5°C di atas tingkatan pra industri, sesuai dengan Perjanjian Paris. Hal ini dikarenakan, emisi karbondioksida global hingga kini telah memberikan dampak yang mengkhawatirkan bagi terjadinya fenomena-fenomena alam di dunia.

Dalam hal ini kemudian muncul pembahasan mengenai bagaimana masa depan yang lebih panas tersebut dapat berdampak pada sumber-sumber mata air, kehidupan manusia, bisnis, pariwisata, bahkan kemungkinan untuk tinggal di suatu wilayah. Sehingga, dalam menghadapi hal ini penting bagi Australia untuk mengambil pendekatan-pendekatan tertentu untuk dapat bertahan hidup dalam dekade-dekade ke depan atau dengan kata lain harus dapat beradaptasi dengan kondisi yang ada. Menurut Nerilie Abram, seorang profesor di the Australia National University Research School of Earth Sciences, berganti dari fossil fuel energy menjadi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan adalah kuncinya.

Referensi:

Regan, Helen. 2020. “Australia’s Climate Crisis has been Building for Years but No One Listened” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/02/12/australia/australia-extreme-climate-bushfire-intl-hnk/index.html [diakses 13 Februari 2020]

Yeung, Jessie. 2020. “Australia’s Deadly Wildfires are Showing no Sigs of Stopping. Here’s What You Need to Know” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/01/01/australia/australia-fires-explainer-intl-hnk-scli/index.html [diakses 13 Februari 2020]

Readfern, Graham. 2020. “Explainer: What are the Underlying Causes of Australia’s Shocking Bushfire Season?” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/environment/2020/jan/13/explainer-what-are-the-underlying-causes-of-australias-shocking-bushfire-season [diakses 13 Februari 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com