Tatanan internasional saat ini bersifat anarki, terbagi dalam ratusan negara berdaulat dengan kedudukan sama dalam hukum internasional. Tentunya, hubungan di antara negara-negara tersebut tidak selalu harmonis. Berbicara mengenai politik dan keamanan dalam ranah internasional, tentu yang terbesit ialah bagaimana menjaga stabilitas di antara negara-negara internasional tersebut. Perlu diketahui, terdapat salah satu konsep yang lazim digunakan agar sistem internasional terus stabil, yakni balance of power. Ide awal dari balance of power ini terinspirasi dari mekanisme politik di era Yunani Kuno tepatnya pada buku Thucydides berjudul History of Polynesian War, yang dianggap sebagai pola klasiknya, merupakan pembagian kekuatan antara Athena dan Sparta dan terus digunakan hingga pada masa renaissance benar-benar diakui sebagai salah satu formula dalam perpolitikan (Evans dan Newnham, 1998: 5). Konsep balance of power tersebut pun dianggap cukup berhasil sebagai dasar dari stabilitas antara satu pihak dan pihak yang lain. Hedley Bull (dalam Evans dan Newnham, 1998: 6) menyebutkan tiga dampak positif dari balance of power, yakni mencegah sistem menjadi tidak stabil akibat tindak penaklukan, melindungi kedaulatan antar negara dari ancaman kekuatan dominan, dan menyediakan kondisi yang ideal bagi praktik-praktik kerjasama internasional zaman sekarang berkembang – seperti diplomasi, perang, hukum internasional, dan manajemen great power.

Namun sekalipun pada konsep dasarnya terlihat menjanjikan, pada kenyataannya balance of power tidak dapat sepenuhnya mencegah sistem dari ancaman ketidakstabilan, utamanya akibat ulah dari salah satu aktornya – dalam hal ini negara. Negara memang setara, tapi tetap ada sejumlah negara yang punya daya lebih besar dari lainnya (Evans dan Newnham, 1998: 6). Kita dapat menyimpulkan bahwa fenomena ketidakstabilan inilah yang membuat balance of power tidak selalu balance, namun tetap membuka peluang adanya ancaman dari kekuatan yang lebih besar dari kekuatan lain di sekitarnya. Jikapun ada cara untuk mencegah keangkuhan negara, Emmanuel Kant (1964) sesungguhnya pernah menawarkan solusi yakni dengan merangkul kekuatan masyarakat atau demokrasi. Kant berpendapat bahwa masyarakat seharusnya turut berperan dalam pengambilan keputusan terkait apa negara perlu berperang. Dengan begitu perpetual peace, atau perdamaian abadi dapat dicapai (Kant, 1964). Namun sekali lagi, terjadinya banyak perang hingga sekarang seolah membuat kita masih harus mempertanyakan konsep yang berbau liberalis tersebut.

Keen Booth (2007) dalam bukunya berjudul Theory of World Security memaparkan keadaan dunia kontemporer sedang mengalami krisis keamanan. Hal tersebut dilihat dari aktivitas humanitas yang semakin lama mendekati kebobrokan. Rasa berperikemanusiaan dipercaya mengalami efek penurunan diakibatkan oleh faktor globalisasi yang mengakibatkan dampak pada tantangan intelektual, politik, dan spiritual. Setidaknya ada lima hal yang ditulis Booth (2007: 403) untuk menandakan krisis dan kekacauan tengah terjadi pada dunia. Pertama, munculnya ancaman security dilemma menimbulkan adanya tantangan strategi, seperti yang terjadi pada aksi provokasi penyebaran Ballistic Missile Defense milik Amerika Serikat menimbulkan kemungkinan negara-negara lain merespon atas dasar asumsi fatalistik. Kedua, ancaman globalisasi membuat ketegangan dunia makin besar. Untuk itu, diperlukan keputusan yang baik untuk memahami inklusivitas kepentingan. Ketiga, masalah stres populasi yang muncul akibat pertumbuhan demografi secara global. Kenaikan jumlah penduduk tersebut menimbulkan bahaya baru yang berpotensi merusak kestabilan dunia global. Keempat, keadaan lingkungan dunia mengalami sejumlah kerusakan juga merupakan poin penting yang menandai kekacauan dunia kontemporer. Terakhir, konsep global governance nyatanya mengalami ancaman dalam perang melawan terorisme. Hal tersebut mengundang sejumlah aktivitas diantaranya dalam penetapan ruang persejataan, meningkatkan kekuatan nuklir, langkah pemberantasan kemiskinan global melalui utang, pada akhirnya memperkeruh situasi dunia, serta membawa dampak pada relasi antara negara Islam dan lainnya.

Di era kontemporer, ancaman dan konflik tidak hanya datang dari aktor negara. Pengaruh aktor non negara pun semakin signifikan, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Salah satu isu keamanan internasional yang menurut tim penulis cukup membahayakan saat ini adalah keberadaan ISIS atau Islamic State of Iraq and Syria. Kelompok ISIS pertama kali dibentuk pada tahun 1999 oleh Abu Musab al-Zarqawi dengan nama Jamaat al-Tawhid wal Jihad (Zelin, 2014). Pada tahun 2003, Jamaat al-Tawhid wal Jihad bergabung bersama jaringan terorisme al-Qaeda dan lebih dikenal dengan nama al-Qaeda in Iraq (AQI). Bersama dengan kelompok lain, jaringan terorisme tersebut menyebarkan pengaruhnya di Suriah pada tahun 2011 dan di Irak pada tahun 2014. Kemudian, AQI mengganti namanya menjadi ISIS setelah melepaskan diri dari jaringan al-Qaeda.

ISIS bertujuan untuk membentuk negara dengan dasar ideologi Islam Sunni berbentuk kekhalifahan (Office of the Director of National Intelligence, 2005). Untuk mewujudkan tujuannya tersebut, ISIS memanfaatkan daerah-daerah konflik seperti Suriah dan Irak sebagai basis dari calon negaranya. Dengan merekrut pendukung dari kedua negara tersebut, ISIS berhasil menguasai beberapa wilayah di Suriah dan Irak. ISIS menggunakan pendekatan koersif dengan melakukan penyerangan dengan senjata api dalam mengembangkan pahamnya. Berawal dari titik-titik tertentu, ISIS mengokupasi tidak hanya di satu negara sebagaimana gerakan separatis umumnya bergerak, melainkan lintas negara antara Suriah dan Irak. Selain itu, ISIS bahkan telah menguasai wilayah di beberapa negara lain, yaitu Afghanistan dan Libya (Shalizi, 2005).

Selain perilaku ekspansif ke berbagai negara sebagaimana pola kolonialisme pada umumnya, isu keamanan lain yang mengkhawatirkan dunia terkait dengan ISIS adalah pola penyebaran pesan ke dunia. Mendelsohn (2016) berpendapat bahwa ISIS terinspirasi dengan cara yang digunakan oleh al-Qaeda, yaitu melakukan aksi terorisme seperti peristiwa 9 September 2001. Apabila aksi-aksi ekspansif dapat terlihat pergerakannya secara nyata serta dapat ditanggulangi, aksi terorisme memiliki pola yang lebih acak dan langsung menyerang warga sipil di manapun. Aksi terorisme tersebut tidak hanya dikoordinasi langsung oleh ISIS, melainkan terkadang dilakukan oleh lone wolf. Lone wolf adalah individu atau kelompok yang terinspirasi oleh kelompok teroris meskipun tidak tergabung dalam kelompok tersebut. Setidaknya, terdapat 18 aksi terorisme oleh lone wolf yang terinspirasi oleh ISIS yang umumnya terjadi di negara-negara Barat (Yourish, 2016).

 

Menurut Mendelsohn (2016), terdapat beberapa keuntungan dari strategi lone wolf yang digunakan oleh ISIS. Pertama, biaya yang diperlukan untuk melakukan aksi terorisme relatif lebih murah karena aksi dibiayai secara mandiri oleh lone wolf. Kedua, aksi lone wolf tidak dapat diprediksi karena tidak adanya keterikatan antara lone wolf dengan ISIS sehingga arus informasi relatif lebih sedikit akibat tidak adanya bantuan intelijen. Ketiga, aksi yang dilakukan oleh lone wolf dapat menimbulkan efek teror yang lebih besar karena menimbulkan kesan seakan-akan pemerintah tidak dapat mengontrol warga negaranya sendiri. Keempat, banyaknya aksi lone wolf dapat meningkatkan citra ISIS serta mendorong adanya aksi-aksi lone wolf lainnya.

Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa gagasan balance of power nyatanya belum sepenuhnya berhasil berperan dalam meningkatkan keadaan dunia yang stabil dan harmonis. Di era kontemporer, ancaman keamanan internasional muncul dalam bentuk ketidakstabilan yang diakibatkan oleh aktor negara dan non negara. Opini tim penulis, keberadaan ISIS dapat mengganggu kondisi kestabilan keamanan internasional tidak hanya di wilayah Suriah dan Irak, melainkan dalam ruang lingkup global. Hal ini dikarenakan penyebaran ideologi radikal seperti ISIS dapat terus berjalan meskipun tanpa campur tangan langsung dari ISIS dan dapat melahirkan lone wolf baru. Aksi terorisme oleh lone wolf yang dapat mengancam keamanan dunia karena selain berdampak destruktif secara langsung, juga dapat merusak kestabilan sosial dunia.

Referensi:

Booth, Keen. 2007. Theory of World Security. Cambridge University Press.

Graham, Evans dan Jeffrey Newnham. 1998. Dictionary of International Relations, St. Penguin Books, Suffolk.

Kant, Immanuel. 1964. Perpetual Peace A Philosophical Sketch.

Mendelsohn, Barak. 2016. ISIS’ Lone-Wolf Strategy. [online] Foreign Affairs. Available at: https://www.foreignaffairs.com/articles/2016-08-25/isis-lone-wolf-strategy [Accessed 18 Sep. 2016].

Office of the Director of National Intelligence, (2005). Letter Dated 9 July 2005.

Shalizi, H. 2015. Exclusive: In Turf War with Afghan Taliban, Islamic State Loyalists Gain Ground. [online] Reuters. Available at: http://www.reuters.com/article/us-afghanistan-islamic-state-idUSKCN0P91EN20150629 [Accessed 18 Sep. 2016].

Yourish, Karen, et al. 2016. How Many People Have Been Killed in ISIS Attacks Around the World. [online] Nytimes.com. Available at: http://www.nytimes.com/interactive/2016/03/25/world/map-isis-attacks-around-the-world.html?_r=0 [Accessed 18 Sep. 2016].

Zelin, Aaron. 2014. The War between ISIS and al-Qaeda for Supremacy of the Global Jihadist Movement. Research Notes The Washington Institute for Near East Policy, 20.

Ditulis oleh:
Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com,
Ruth Mery Lucyana,
Fahri Syadia Fa’iz