Setelah tingginya angka kasus positif virus corona di negara-negara Eropa khususnya Italia dan Spanyol, kebijakan penanganan secara ketat kemudian diterapkan hingga berhasil “melandaikan kurva” kasus baru. Dengan kata lain, kebijakan ditujukan untuk memperlambat penyebaran virus sehingga semakin sedikit pasien yang membutuhkan pengobatan dalam waktu yang bersamaan. Hal ini dapat meringankan beban tenaga medis dan rumah sakit, serta memberi waktu pasien untuk sembuh. Dua bulan setelah program physical distancing dan rapid tes diterapkan, pemerintah di beberapa negara di Eropa berencana untuk melonggarkan kebijakan dan membuka kembali perekonomiannya.

Pada hari Jumat lalu, pemerintah Jerman dan Austria telah memperbolehkan restoran-restoran buka kembali – selama mereka bersedia mematuhi aturan physical distancing – untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. Para pengunjung beda rumah kini dapat duduk di meja yang sama, meski tetap harus memberi jarak 1,5 meter satu sama lain. Mereka dihimbau untuk tetap memakai masker, meski sifatnya tidak memaksa. Sedangkan bagi para pelayan, masker tetap wajib untuk digunakan. Selain itu, meski para pelanggan tidak diwajibkan untuk membuat reservasi, pemerintah menghimbau para pemilik restoran untuk mencatat identitas pelanggannya agar program pelacakan tetap dapat berjalan jika terjadi infeksi di salah satu restoran. Sekolah-sekolah kini telah dibuka kembali untuk anak-anak yang tengah menjalani ujian. Sedangkan kegiatan belajar mengajar akan kembali berjalan dengan normal setelah libur musim panas. Di Austria, semua restoran, café, bar, tempat ibadah, dan beberapa museum telah dibuka kembali pada Jumat lalu, namun tetap dengan aturan penggunakan masker dan menjaga jarak. Bahkan sejumlah acara kebudayaan juga direncanakan akan dilaksanakan setidaknya bulan depan – dengan 100 orang yang boleh hadir dan 1000 orang pada Agustus.

Menurut World Health Organization (WHO), negara-negara Eropa yang tengah berupaya membuka kembali perekonomiannya saat ini sebaiknya fokus pada beberapa hal antara lain melonggarkan program physical distancing secara berkala, tetap melacak penyebaran virus melalui tes dan pelacakan kontak, tetap memantau sistem kesehatan, dan menerapkan kebijakan-kebijakan sosial dan ekonomi yang dapat mendukung masa transisi tersebut. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan berdasarkan data di masing-masing wilayah. Di Prancis misalnya, diterapkan sistem “lampu lalu lintas” untuk menunjukkan tingkat penyebaran COVID-19 di lokasi-lokasi yang berbeda – “merah” untuk wilayah yang masih dalam program lockdown, “hijau” untuk wilayah yang lebih aman. Dengan mengedepankan kesehatan dan keselamatan masyarakat, pemerintah kemudian dapat bergerak maju dan mundur dalam tahap-tahap di atas. Dengan kata lain, kebijakan yang dikeluarkan bersifat fleksibel karena bergantung pada keadaan dan data di wilayah tersebut.

Dengan melandainya kurva kasus positif corona di Eropa, perjalanan antar negara internal kemudian menjadi lebih mudah. Beberapa negara kini telah membuka perbatasannya untuk sesama negara Uni Eropa dan di waktu yang sama, mempersiapkan diri untuk kembali membuka kembali perbatasannya bagi pendatang dari luar Eropa yang masih ditutup hingga secepat-cepatnya tanggal 15 Juni. Jumat lalu, Slovenia menjadi negara pertama yang membuka perbatasannya untuk arus masuknya masyarakat Uni Eropa, sedangkan orang-orang dari luar Uni Eropa harus melewati masa karantina terlebih dahulu.  Meski demikian, tiap negara memiliki kebijakannya masing-masing karena terdapat kebutuhan dan kondisi keamanan yang berbeda-beda pula. Italia misalnya, telah memperbolehkan perjalanan antar wilayah sejak 18 mei lalu dan berencana akan menghapuskan semua hambatan perjalanan mulai 3 Juni mendatang. Sedangkan Yunani baru akan membuka turis luar negeri mulai 1 Juli dengan memprioritaskan pendatang dari negara-negara dengan resiko COVID-19 rendah.

Lebih lanjut, jika ditinjau secara geografis, wilayah Eropa terdiri dari puzzle negara-negara yang saling berbatasan satu sama lain. Terkait hal ini, Eropa kemudian membentuk pola yang disebut dengan travel bubble. Istilah tersebut merujuk pada alur perjalanan yang diperbolehkan hanya antar negara yang berdekatan. Contohnya adalah Jerman, Austria, Prancis, dan Swiss yang saling membuka perbatasan satu sama lain, sehingga masyarakat antar keempat negara tersebut dapat keluar dan masuk dengan bebas mulai musim panas mendatang. Travel bubble lainnya ditemukan juga antar negara-negara Baltik yakni Estonia, Latvia, dan Lithuania. Seiring berjalannya waktu, travel bubble yang hanya terbatas pada negara-negara yang saling berdekatan saja kemudian diharapkan akan melebar hingga mencakup negara-negara di luar Eropa juga.

Referensi:

Harding, Luka dan Connolly, Kate. 2020. “Coronavirus in Europe: Germany and Austria Reopen Restaurants as New Normal Beckons” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/may/15/coronavirus-in-europe-states-take-small-steps-towards-normality [diakses 16 Mei 2020]

Thiessen, Tamara. 2020. “Europe Travel: Good (and Bad) News About When You Can Visit” [online] tersedia dalam https://www.forbes.com/sites/tamarathiessen/2020/05/15/europe-travel-when-you-can-visit/#7ea65663abe7 [diakses 16 Mei 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti