Pembahasan mengenai dinamika perekonomian internasional tidak dapat dilepaskan dari sistem moneter yang sedang berlaku saat itu. Sistem moneter internasional itu sendiri banyak dipengaruhi oleh kondisi domestik dan stabilitas perekonomian antar negara-negara di dunia. Dalam sejarahnya sistem moneter internasional telah mengalami beberapa perubahan periode yakni gold system standard, sistem Bretton Woods, dan pasca Bretton Woods atau kapitalisme kasino. Diawali oleh adanya kebutuhan negara-negara untuk memiliki suatu acuan tertentu bagi nilai tukar mata uang masing-masing negara untuk memudahkan perdagangan antar negara yang mana pada akhirnya emas ditetapkan sebagai dasar nilai tukar mata uang suatu negara dalam kegiatan ekonomi internasional sehingga menggunakan prinsip fixed exchange rate (Helleiner, 2008). Kemudian, sistem ini mulai mengalami keruntuhan saat terjadi Depresi Besar yang melemahkan perekonomian negara-negara termasuk Britania Raya dan adanya nilai defisit pada neraca pembayaran. Lalu dibentuklah sistem Bretton Woods yang mana emas kemudian dikaitkan dengan dolar Amerika Serikat agar perekonomian dapat berjalan dengan lebih stabil. Namun pada akhirnya sistem ini juga mengalami kegagalan pada tahun 1970-an hingga sistem moneter internasional kembali mengalami perubahan.

Sistem Bretton Woods dinyatakan gagal pada tahun 1971 yang mana pada saat itu terjadi banyak gejolak khususnya dalam perekonomian Amerika Serikat. Pada saat itu, Amerika Serikat terlibat dalam Perang Vietnam yang menyebabkan banyaknya pengeluaran dolar. Selain itu, terdapat tekanan eksternal dari negara-negara terhadap Amerika Serikat untuk mendevaluasi nilai dolar karena negara-negara yang baru merdeka mulai menerapkan sistem substitusi impor dengan menurunkan nilai mata uangnya agar kegiatan ekspor menjadi lebih kompetitif. Maka dari itu, harga dolar menjadi sangat tinggi sehingga untuk menjaga stabilitas internasional maka Amerika Serikat harus melindungi dolar dengan melakukan devaluasi. Namun devaluasi tersebut juga harus dilakukan dengan meningkatkan suku bunga dan mengurangi pengeluaran yang mana hal ini akan mengantarkan ekonomi domestik Amerika Serikat ke situasi resesi (Helleiner, 2008). Peristiwa ini disebut juga dengan dilema “triffin” yang mana Amerika Serikat sebagai negara penjaga stabilitas ekonomi internasional bertanggung jawab untuk mempertahankan sistem Bretton Woods, namun juga tidak dapat lepas dari tanggung jawabnya terhadap perekonomian domestiknya sendiri. Pada akhirnya pada tahun 1971, Presiden Nixon resmi menghentikan pengaitan dolar dengan emas sehingga IMF kemudian meresmikan kegagalan sistem Bretton Woods yang berusaha menyeimbangkan kepentingan ekonomi nasional dan integrasi ekonomi internasional (Gilpin, 2001).

Lebih lanjut, kehancuran sistem Bretton Woods yang disebabkan oleh tidak adanya peran Amerika Serikat sebagai penjaga stabilitas mata uang dunia kemudian menandai lahirnya periode baru dalam sistem moneter internasional yang menggunakan floating exchange rate yakni penentuan nilai tukar mata uang dilakukan oleh bank central setiap negara dengan melihat kondisi pasar uang (Frieden, 2006). Sistem ini menyebabkan negara memiliki tanggung jawab terhadap kuat atau lemahnya nilai tukar mata uangnya yang mana hal tersebut dapat memberi dampak pada negara lain pula. Pada awalnya sistem ini dianggap efektif karena negara-negara dirasa lebih independen dari Amerika Serikat dan dapat menciptakan keuntungan tak terduga. Namun pada kenyataannya sistem ini sangatlah fluktuatif dan memunculkan ketidakpastian dan meningkatkan peran spekulasi dalam perekonomian dunia (Frieden, 2006).

Menilik lebih dalam, situasi tersebut kemudian melahirkan tatanan baru yang disebut dengan kapitalisme kasino. Strange (1986) menjelaskan bahwa sistem finansial Barat yang mulai mendominasi tatanan perekonomian dunia dapat diibaratkan sebagai arena kasino yang penuh dengan faktor keberuntungan dan spekulasi yang dilakukan oleh aktor-aktor besar seperti negara dan MNC sebagai pemainnya. Kesuksesan dalam sistem ini dapat dicapai dengan melakukan spekulasi yang tepat untuk meningkatkan suku bunga sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang besar. Namun sistem ini memiliki sifat tidak pasti dan tidak dapat dihindari, sehingga dapat memengaruhi keuntungan dan kerugian negara lain. Dengan kata lain, keuntungan hanya dapat dirasakan oleh para pemain dalam kasino, namun kerugian yang didapat dapat dirasakan dalam setiap level perekonomian yang ada (Strange, 1986). Selain itu, kapitalisme kasino juga memiliki kelemahan-kelemahan lain antara lain adanya kesenjangan yang lebih lebar antar negara sehingga hutang semakin banyak, pertumbuhan melambat, adanya ketidakstabilan sistem perbankan, ketidakpastian harga minyak, dan ketidakjelasan situasi politik.

Dapat disimpulkan bahwa sistem moneter internasional memiliki tiga periode utama sejak masa Perang Dunia yakni masa gold standard, sistem Bretton Woods, dan masa pasca runtuhnya sistem Bretton Woods atau masa kapitalisme kasino. Sistem Bretton Woods yang dimulai pada tahun 1944 sempat mengalami keberhasilannya dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi domestik dan internasional, utamanya bagi Amerika Serikat. Namun pada tahun 1970-an, terdapat faktor internal dan eksternal yang kemudian mendorong Amerika Serikat untuk tidak lagi mengikat nilai dolar dengan emas sehingga sistem Bretton Woods mengalami kehancuran. Sebagai akibatnya, sistem pertukaran mata uang menjadi floating exchange rate yang mana kuat atau lemahnya mata uang ditentukan oleh tiap-tiap bank central yang dimiliki negara dengan melihat permintaan dan penawaran dalam pasar uang. Hal ini kemudian menyebabkan munculnya sistem kapitalisme kasino yakni “permainan” pasar ekonomi oleh aktor-aktor besar yang menonjolkan aspek spekulasi dan keberuntungan. Sistem ini menguntungkan bagi para aktor-aktor besar namun dapat sangat merugikan bagi aktor-aktor kecil karena tidak adanya kapabilitas untuk ikut bermain dalam lingkar kasino tersebut.

Referensi:

Frieden, Jeffrey A. 2006. “The End of Bretton Woods”, dalam Global Capitalism: Its Fall and Rise in the Twentieth Century. New York: W.W. Norton & Co. Inc

Gilpin, Robert. 2001. Global Political Economy: Understanding the International Economic Order. Princeton: Princeton University Press.

Helleiner, Eric. 2008. “The Evolution of the International Monetary Financial System” dalam Ravenhill, John. Global Political Economy. Oxford: Oxford University Press

Strange, Susan. 1986. “Casino Capitalism” dalam Casino Capitalism. Oxford: Basil Blackwell Ltd.