Sejak masa perkembangan teknologi kemaritiman dan memasuki masa eksplorasi di abad ke-15, kaum Barat mulai melakukan penjelajahan ke seluruh dunia dengan menggunakan kapal layar. Penjelajahan ini pada awalnya membawa tiga misi utama yakni gold, gospel, and glory. Dengan perluasan jangkauan dan mobilitas dari satu wilayah ke wilayah lain kemudian mulai terjadi interaksi antar bangsa dan kelompok-kelompok masyarakat yang ada di dunia. Pada masa inilah kemudian salah satu bentuk interaksi yang terjadi adalah kolonialisme atau penjajahan terhadap masyarakat di wilayah tertentu. Jika hal ini ditinjau dari sudut pandang masyarakat di negara-negara Dunia Ketiga, maka kolonialisme membawa dampak dan perubahan bagi kehidupan sosial di wilayah tersebut. Hal ini terus berlanjut hingga masa dekolonialisasi dan pencapaian kemerdekaan bagi negara-negara yang sebelumnya terjajah. Namun meski demikian, terdapat pandangan bahwa hingga kini, praktik-praktik kolonialisme masih dapat dirasakan meski memiliki bentuk dan sistem penerapan yang berbeda. Sehingga, dibutuhkan adanya tanggapan dan strategi-strategi baru untuk dapat menghadapi hal tersebut. Dalam tulisan ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai masing-masing konsep di atas yakni kolonialisme, dekolonialisasi, dan poskolonialisme, serta hubungannya dengan konsep nasionalisme. Selanjutnya, tulisan ini juga akan membahas dampak-dampak yang dirasakan oleh negara-negara Dunia Ketiga terkait praktik-praktik kolonial di era poskolonialisme itu sendiri.

Keterkaitan Kolonialisme, Dekolonialisasi, dan Poskolonialisme dengan Nasionalisme

Secara definisi, kolonialisme berkaitan dengan pemahaman mengenai penaklukan atau penguasaan suatu wilayah oleh pihak tertentu dengan maksud untuk memperluas teritorinya sekaligus menguasai sumber daya yang terdapat di dalamnya. Emerson (1969: 3) memaparkan bahwa kolonialisme adalah kondisi pembentukan dan perkembangan aturan kolonial yang dapat menyebabkan terjadinya disparitas kekuasaan antara pihak yang memerintah dan pihak yang diperintah. Jika dilihat secara lebih mendasar, berdasarkan kata yang membentuknya, kolonialisme berasal dari kata “koloni” yang merujuk pada pengertian terkait kultur (Mishra dan Hodge, 2005: 375). Melalui praktik-praktik kolonialisme, kesadaran nasionalisme kemudian mulai tumbuh dalam masyarakat seiring dengan praktik kekerasan, penekanan, dan peraturan sewenang-wenang yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Terkait hal ini, Kacowicz (1999) memaparkan bahwa kontes penjajahan dalam masa kolonialisme tersebut merupakan bentuk utama dari bagaimana negara-negara tersebut membangun rasa nasionalismenya dengan melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah baru di dunia. Pada periode ini, konsep dasar dari nasionalisme dapat dipahami sebagai sebuah keinginan bagi negara-negara untuk mengontrol wilayah teritorialnya dan mencoba untuk menguasai wilayah teritorial milik pihak lain. Masa periode ini berlangsung selama beberapa abad dan lambat laun mulai berangsur-angsur menghilang hingga terjadi masa dekolonialisasi pasca Perang Dunia II.

Masa dekolonialisasi ditandai dengan banyaknya wilayah-wilayah koloni yang berhasil meraih atau memeroleh kemerdekaannya masing-masing sebagai sebuah negara yang berdaulat. Konsep dekolonialisasi sendiri dapat dipahami sebagai proses pembebasan daerah pendudukan oleh negara kolonial. Mengutip Hopkins (2008: 211), proses dekolonialisasi sendiri dapat dilihat dengan adanya upacara kemerdekaan, perubahan dalam sistem politik dan militer negara, penciptaan lagu nasional, hingga perancangan bendera negara. Sejak kolonialisme Inggris pada tahun 1783 hingga berakhirnya kolonialisme di Kepulauan Karibia di tahun 1983, tercatat bahwa 165 wilayah bekas kolonial kini telah memeroleh kemerdekaannya dan telah menjadi negara-negara berdaulat (Strang, 1991: 429). Oleh karenanya, proses dekolonialisasi hanya dapat terjadi ketika negara tersebut pernah mengalami penaklukan dan proses kolonialisasi oleh pemerintah kolonial. Perlu diketahui bahwa proses dekolonialisasi telah meningkatkan rasa nasionalisme dalam masyarakat khususnya bagi negara yang terjajah, sebab terdapat kebanggaan tersendiri bagi negara tersebut yang telah berhasil melawan kekuatan bangsa kolonial.

Meski telah melewati masa dekolonialisasi, pada kenyataannya praktik-praktik kolonial masih dapat ditemui di dunia kontemporer meski memiliki bentuk-bentuk dan metode-metode yang berbeda. Masa ini kemudian disebut dengan poskolonialisme yang mana istilah ini sejatinya tidak merujuk pada masa pos-kemerdekaan saja atau masa setelah koloniasme, melainkan sebuah periode yang dimulai ketika terjadinya kontak kolonial untuk pertama kalinya dan merupakan bentuk pertentangan terhadap segala hal yang dibawa sejak masa kolonialisme (Ashcroft et al, 1995: 117). Argumen ini didukung oleh Mishra dan Hodge (2005: 378) yang menyatakan bahwa poskolonialisme bukanlah akhir dari masa kolonialisme, namun justru merupakan awal dari bentuk-bentuk kolonialisme baru. Tidak hanya itu, Gikandi dalam Mishra dan Hodge (2005: 377) memandang adanya resonansi kultur kolonialisme yang dipandang sebagai warisan atau tradisi dari negara-negara koloninya yang diteruskan oleh negara-negara terjajah. Hal ini disebut dengan istilah cultural metissage yang dikemukakan oleh Emily Apter, yang mana secara empiris, praktiknya dapat dilihat dalam negara-negara bekas jajahan Inggris yang masih menerapkan beberapa kultur yang sudah dikenal sejak zaman kolonial, seperti tata cara transportasi masal hingga sistem hukum yang berlaku di negara tersebut (Mishra dan Hodge, 2005: 378). Penerapan budaya secara kontinuitas tersebut dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk praktik poskolonialisme.

Berkaitan dengan paragraf di atas, masa kolonialisme, dekolonialisasi, hingga poskolonialisme dapat membangun semangat nasionalisme untuk memerdekakan negara hingga mempertahankan kedaulatan yang telah diraihnya sehingga hal ini berkaitan dengan proses nation building dari sebuah negara. Akan tetapi, di sisi lain praktik-praktik poskolonialisme dapat kemudian menghambat proses nation building tersebut karena memasukkan praktik-praktik pembagian dan diskriminasi secara internal antara kelompok nasionalis marjinal dan kelompok nasionalis dominan (Cederman, t.t: 17). Keberlanjutan praktik kolonial di masa poskolonialisme kemudian juga dipandang dapat memengaruhi pola pikir masyarakat sebagai suatu bentuk penjajahan model baru yang dicirikan dengan bentuknya yang tidak lagi menyerang kondisi fisik manusia melainkan juga melalui cara-cara psikologis dan menciptakan sistem atau kondisi yang menyebabkan adanya dependensi dari negara-negara jajahan dengan negara-negara kolonialnya yang terdahulu (Mishra dan Hodge, 2005: 376). Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat pada negara-negara seperti Malaysia dan India yang memiliki hubungan erat dengan Inggris sebagai negara penjajahnya di masa lampau, kini kedua negara tersebut tetap banyak terpengaruh oleh Inggris dan memiliki tanggung jawab untuk mendukung Inggris secara politik maupun ekonomi.

Implikasi Kolonialisme, Dekolonialisasi, dan Poskolonialisme terhadap Negara Dunia Ketiga

Bagi negara Dunia Ketiga, tekanan yang diberikan oleh negara penjajah di masa kolonialisme hingga dekolonialisasi membangun rasa self determination dan semangat nasionalisme untuk mendirikan negaranya sendiri yang terbebas dari pengaruh kolonial. Halliday (1997) memaparkan bahwa konsep nasionalisme yang bersifat self determination muncul sebagai akibat dari kolonialisme yang menimbulkan keinginan bagi negara tersebut untuk melepaskan diri dari para penjajah. Miscevic (2001: 379) menambahkan bahwa munculnya insurjensi nasionalisme di negara-negara yang terkolonialisme inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya proses dekolonialisasi di negara Dunia Ketiga. Sedangkan, pada masa pasca dekolonialisasi, negara-negara Dunia Ketiga berupaya untuk mencapai kemajuan yang dibawa oleh globalisasi dengan memperluas pengaruh intelektual dan kebudayaannya di ranah global. Tidak hanya itu, negara-negara Dunia Ketiga juga senantiasa menyuarakan aspirasinya agar didengar oleh dunia internasional, mengingat bahwa kepentingan yang dimilikinya seringkali terabaikan dan dilupakan (Dirlik, 1994: 329). Oleh karena itu, kesadaran nasionalisme semakin mengalami peningkatan karena negara Dunia Ketiga berupaya untuk menghilangkan segala perbedaan di antara core dan periphery, serta berusaha menunjukkan keberagaman dan keunikan yang dimiliki oleh masyarakat beserta kebudayaannya.

Memahami lebih lanjut, maka khususnya periode poskolonialisme dapat memberi dua implikasi utama bagi negara Dunia Ketiga. Pertama, dapat memunculkan rasa nasionalisme sebagaimana dijelaskan dalam paragraf sebelumnya. Melalui persamaan nasib dan sejarah di masa lampau menumbuhkan sense of belonging dari masyarakat yang mendorong terjadinya perlawanan terhadap negara-negara penjajah (Mayall, 1994: 184). Dengan kata lain, praktik kolonialisme dapat memicu semangat dari negara-negara yang terjajah untuk menemukan jati dirinya dan terbebas dari jajahan pihak lain yang sejatinya tidak memiliki hak apapun atas sumber daya yang terdapat dalam wilayah tersebut. Meski pada kenyataannya sulit kemudian bagi negara-negara Dunia Ketiga untuk benar-benar terbebas dan menjalankan pemerintahannya secara independen dari negara-negara bekas kolonial, namun semangat itu tetap ada dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Sistem yang ada di dunia saat ini memang cenderung lebih menguntungkan bagi negara-negara maju dan merugikan bagi negara Dunia Ketiga, bahkan dapat mengarah pada proses eksploitasi, akan tetapi, dengan rasa nasionalisme yang kuat, negara-negara Dunia Ketiga dapat bersatu dan mengutamakan kepentingan bersama.

Akan tetapi, di sisi lain, kolonialisme juga berdampak negatif dan masih dapat dirasakan hingga sekarang, ketika terdapat pengaruh yang masih melekat di negara-negara Dunia Ketiga seperti kultur, sistem hukum, sistem politik, dan sebagainya.Terdapat rasa ketakutan terhadap sesuatu yang lain yang mana dinterpretasikan sebagai poskolonialisme. Pengaruh kultur tersebut belum sepenuhnya hilang dari kesadaran masyarakat (Mishra dan Hodge, 2005: 375). Adapun terjadinya dekolonisasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang dapat melemahkan negara koloni sehingga gerakan atau rasa nasionalisme dan perjuangan untuk mendepatkan kemerdekaan atas kedaulatan negara semakin kuat. Era poskolonialisme merupakan peninggalan kultur yang masih tersisa dari bentuk kolonialisme. Masa poskolonialisme yang terjadi pada akhir abad 20-an merupakan pola aau bentuk baru dari kolonialisme namun masih dengan elemen yang sama dari negara-negara maju kepada negara-negara dunia ketiga (Ashcroft et al, t.t: 2).

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep kolonialisme, dekolonialisasi, dan poskolonialisme merupakan konsep yang mampu menggerakkan dinamika nasionalisme baik bagi negara-negara kolonial maupun negara-negara yang terjajah. Pada masa kolonialisme, konsep nasionalisme dapat dimaknai sebagai semangat ekspansi suatu negara ke negara lain untuk memperluas teritori dan mendapatkan manfaat-manfaat sumber daya, dan menyebarkan paham-paham yang dimilikinya (gold, gospel, glory). Kemudian pada masa dekolonialisasi, nasionalisme mulai tumbuh di antara negara-negara Dunia Ketiga yang bersatu karena terdapat rasa senasib sebagai masyarakat yang terjajah hingga mendorong adanya insurjensi nasional yang berupaya untuk meruntuhkan pemerintah kolonial dan kolonialisme itu sendiri secara umum. Akan tetapi, pada kenyataannya praktik-praktik kolonialisme tidak berhenti sampai pada titik tersebut karena terdapat masa poskolonialisme yang ditunjukkan dalam pola pikir hingga warisan kebudayaan dari negara-negara penjajah terhadap negara-negara koloninya yang kemudian dapat memengaruhi sistem dan dependensi dari negara-negara Dunia Ketiga terhadap negara-negara kolonial atau negara-negara maju saat ini.

Kata Kunci: Kolonialisme, Dekolonialisasi, Poskolonialisme, Nasionalisme, Negara Dunia Ketiga

Referensi:

Ashcroft, Bill & Griffiths, Gareth dan Tiffin, Helen. n.d. Introduction to Postcolonial Studies, dalam The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-Colonial Literatures. London: Routledge. pp. 1-10.

Cederman, Lars-Erik. T.t. “Nationalism: Anti-Colonial and Postcolonial Nationalism” dalam Lecture 8, Swiss: Swiss Federal Institute of Technology

Halliday, Fred. 1997. “Nationalism” dalam Baylis, John & Smith, Steve [eds.] The Globalization of World

Hopkins, A. G. (2008). “Rethinking Decolonization”, Past & Present, 200: 211-247.

Kacowicz, Arie M. 1998. “Globalization, Regionalization, Nationalism: Convergent, Divergent, or Overlapping?” dalam Alternatives: Global, Local, Political, Vol. 24, No.4

Mayall, James, 1994. Nationalism in the Study of International Relations, dalam: A.J.R. Groom, & M. Light, eds. Contemporary International Relations: A Guide to Theory. Pinter, pp. 182-194.

Miscevic, Nenad. 2001. Nationalism and Beyond. Budapest: Central European University Press

Mishra, Vijay, dan Bob Hidge. 2005. “What was Postcolonialism” dalam New Literary History, Vol. 36, No. 3, pp. 375-402

Strang, David. (1991). “Global Patterns of Decolonization, 1500-1987”, International Studies Quarterly, 35 (4): 429-254.