Dalam dekade terakhir, Tiongkok telah berupaya untuk menciptakan sebuah realitas dunia mayanya sendiri tanpa Facebook dan Google. Industri teknologi milik Amerika Serikat dan negara-negara Barat lain harus mengembangkan diri tanpa partisipasi dari Tiongkok yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia saat ini. Namun kini, keadaan tersebut justru dirasakan oleh perusahaan-perusahaan teknologi asal Tiongkok antara lain Alibaba Group dan Tencent akibat pemblokiran yang dilakukan oleh pemerintah India.

Peristiwa menegangnya hubungan Tiongkok dan India dalam beberapa waktu terakhir telah memicu pertengkaran dan persaingan yang ketat di antara keduanya khususnya pasca kematian dari setidaknya 20 prajurit India yang terbunuh dalam perseteruan mereka dengan People’s Liberation Army milik Tiongkok pada bulan Juni lalu. Pasca peristiwa tersebut, pemerintah India memutuskan untuk memblokir 59 aplikasi buatan Tiongkok termasuk TikTok, Wechat, dan lainnya. Tindakan ini digunakan sebagai sebuah peringatan untuk Beijing yang telah lama bersembunyi dibalik “the Great Firewall”-nya dan menutup diri dari aplikasi buatan Amerika, namun tetap gencar menyebarkan pengaruhnya sendiri di negara-negara lain. Selain itu, tindakan India juga dipicu oleh kecurigaan atas pencurian dan penyalahgunaan data-data personal pengguna yang kemudian digunakan untuk keuntungan korporat meski tuduhan ini dibantah oleh Beijing.

Posisi Tiongkok sejatinya dapat dikatakan telah memiliki alur yang stabil dalam upayanya untuk memasuki arena persaingan teknologi modern global, termasuk India yang dipandang sebagai salah satu pasar dengan potensi keuntungan yang sangat tinggi. Aplikasi TikTok tercatat telah mendapatkan lebih dari 200 juta pengguna di India, perusahaan Xiaomi adalah brand nomor satu, serta eksistensi perusahaan Alibaba dan Tencent yang semakin berkembang luas. Namun, kesuksesan tersebut harus terhambat akibat kebijakan pemerintah untuk memblokir aplikasi-aplikasi Tiongkok, bahkan mempertimbangkan untuk memblokir semua impor barang dari Tiongkok.

Pada dasarnya, belum jelas bagaimana pemerintah akan menjalankan kebijakan ini karena kebanyakan dari aplikasi-aplikasi tersebut sudah terunduh dan digunakan dalam skala besar oleh masyarakat India sendiri. Namun terlihat bahwa telah terdapat upaya-upaya India untuk meminimalisir masuknya barang-barang dari Tiongkok dan menghimbau masyarakat untuk tidak membeli barang yang dibuat di Tiongkok. Pemerintah India juga telah mendesak situs-situs jual beli daring seperti Amazon.com dan Flipkart milik Walmart untuk menampilkan asal barang yang dijual dalam situs-situs mereka. Menurut Dev Lewis, seorang peneliti di Digital Asia Hub Shanghai, langkah ini sejatinya sama dengan Tiongkok yang melakukan blanket bans dengan menguatkan batasan nasional dalam dunia maya hingga dapat membangun “the Great Firewall”. ByteDance, perusahaan teknologi Tiongkok yang melahirkan aplikasi TikTok mengakui bahwa pemblokiran ini akan sangat terdampak pada keuntungan mereka. Sebelumnya, beberapa peneliti memperkirakan bahwa perusahaan tersebut dapat kehilangan hingga setengah juta dolar setiap harinya tanpa pengguna dari India. Kepala perusahaan TikTok India, Nikhil Gandhi, mengatakan bahwa selama ini perusahaannya telah patuh terhadap perlindungan privasi data pengguna dan persyaratan keamanan di bawah hukum serta tidak membocorkan informasi pengguna dengan pemerintah mana pun termasuk Beijing.

Hal ini kemudian juga dapat berimbas pada dinamika geopolitik yang ada, utamanya dengan Amerika Serikat yang tengah berusaha untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara lain untuk memblokir pemakaian Huawei dalam jaringan 5G. Pemerintah India juga sepakat bahwa aplikasi-aplikasi seperti TikTok, Wechat UC Web, dan Baidu dapat mengancam kedaulatan dan keamanan masyarakat, sehingga pemblokiran ini dipandang sebagai langkah yang tepat. Menurut Alex Capri, seorang peneliti dari Hinrich Foundation Singapura, tekno-nasionalisme akan muncul dengan sendirinya dalam semua aspek geopolitik seperti keamanan nasional, kompetisi ekonomi, bahkan nilai sosial. Sehingga, dalam situasi seperti ini akan sulit untuk memisahkan kepentingan perusahaan Tiongkok dari ambisi geopolitiknya. Dengan kata lain, pemerintah Tiongkok sendiri tidak memiliki banyak pilihan dalam menghadapi hal ini. Direktur the Centre for Asian Pacific Studies di Lingnan University Zhang Baohui mengatakan bahwa Beijing sudah sepatutnya khawatir atas dampak dari pertengkarannya dengan India karena dapat berpotensi mendorong India mendekati Amerika.

Referensi:

Aljazeera. 2020. “How India’s TikTok Ban Could Dent China’s Global Tech Ambitions” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/ajimpact/india-tiktok-ban-dent-china-global-tech-ambitions-200701010458408.html [diakses 2 Juli 2020]

Kynge, James. 2020. “The India-China bust Up and What it May Mean for Tech” [online] tersedia dalam https://asia.nikkei.com/Spotlight/Comment/The-India-China-bust-up-and-what-it-may-mean-for-tech [diakses 2 Juli 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R