Kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang strategis baik secara geografis terkait jalur perdagangannya, maupun secara ekonomi terkait keberadaan minyak bumi yang melimpah khususnya di wilayah teluk. Hal ini mendorong tindakan negara-negara besar seperti Amerika Serikat untuk menaruh perhatian terhadap dinamika yang terjadi di Timur Tengah. Meski begitu, dari masyarakat Timur Tengah sendiri, terdapat sentimen-sentimen anti-Barat yang telah muncul sejak masa penjajahan dahulu hingga intervensi-intervensi yang dilakukan oleh negara-negara Barat terhadap negara-negara Timur Tengah. Peristiwa 9/11 pada tahun 2001 yaitu aksi teror yang dilakukan dengan cara membajak pesawat komersil di Washington DC dan menabrakkannya ke gedung World Trade Center. Peristiwa ini menunjukkan adanya penolakan atas campur tangan Barat di wilayah Timur Tengah. Selain itu, tragedi 9/11 dipandang sebagai titik awal terbentuknya jaringan terorisme untuk melawan negara-negara Barat. Tulisan ini akan membahas lebih lanjut terorisme sebagai bentuk ancaman terhadap stabilitas di Timur Tengah, struktur jaringan terorisnya, dan strategi negara-negara Timur Tengah untuk mengatasi hal ini.

Peristiwa 9/11 yang dilakukan oleh kelompok teroris Al-Qaeda yang berasal dari salah satu negara Timur Tengah yakni Iraq, menyebabkan istilah terorisme seringkali dikaitkan dengan negara-negara di Timur Tengah. Islam yang merupakan dasar budaya dan aturan hidup mayoritas masyarakat di Timur Tengah kemudian juga turut dikaitkan dengan terorisme. Dalam Islam, terdapat ajaran jihad yang diartikan oleh Filiu (2009) sebagai bentuk perjuangan anti penjajahan untuk membangun negaranya tanpa campur tangan dari pihak asing. Jihad kemudian muncul sebagai motif atau alasan utama dari para kelompok teroris untuk melaksanakan aksinya. Namun pada kenyataannya, aksi terorisme yang dilakukan tidak hanya berdampak pada stabilitas dan perdamaian di negara-negara tempat teror dituju seperti Amerika Serikat saja, melainkan juga berdampak pada stabilitas di negara-negara Timur Tengah sendiri.

Bagi negara-negara Timur Tengah, aksi terorisme melahirkan sentimen anti-Islam atau Islamophobia dan aksi keras negara-negara Barat terhadap negara-negara di Timur Tengah. Aksi-aksi terorisme kemudian melahirkan keinginan dan ambisi negara-negara Barat untuk semakin mengintervensi Timur Tengah agar terorisme tidak semakin meluas (Jenkins, 2017). Seruan war on terror oleh Presiden Bush menunjukkan bahwa Amerika Serikat menaruh perhatian penuh terhadap terorisme dan menyebutnya sebagai ancaman bagi keamanan internasional. Namun pada kenyataannya, kelompok teroris seperti Al-Qaeda tidak hanya menebarkan teror di negara Barat saja namun juga secara regional, khususnya di negara-negara yang dianggap mendukung Amerika Serikat. Beberapa aksi teroris juga ditujukan kepada pemerintah lokal untuk meningkatkan prestis global dan menarik perhatian orang-orang untuk direkruit menjadi anggota (Jenkins, 2017). Penulis beropini bahwa banyaknya aksi terorisme yang berasal dari Timur Tengah justru membuka jalan dan alasan bagi negara Barat untuk mengintervensi kawasan Timur Tengah. Ditunjukkan dengan meningkatnya peran Amerika Serikat dalam invasi Afghanistan di tahun 2001, invasi Iraq di tahun 2003, serta pemboman Suriah tahun 2014 (Jenkins, 2017).

Lebih lanjut, struktur jaringan terorisme di Timur Tengah sendiri dapat dikatakan cukup kompleks. Sebagai contohnya kelompok teroris Al-Qaeda, mengawali aksinya dari usahanya untuk menggulingkan rezim Perancis di Aljazair dan berlanjut dengan Perang Gerilya untuk melawan ekspansi Rusia di tahun 1834-1858 (Filiu, 2009). Berawal dari ketidaksukaan sebagian masyarakat Timur Tengah terhadap penjajahan dari negara-negara Barat, kelompok-kelompok teroris kemudian mulai bersatu dan menyebar ke berbagai wilayah lain baik didalam maupun diluar Timur Tengah. Jihad kemudian digunakan sebagai alat untuk menutupi kepentingan politik dan kebencian yang merupakan motif utama dari aksi-aksi teror mereka (Filiu, 2009). Kelompok-kelompok teroris yang ada, kemudian semakin berkembang hingga menjadi kelompok yang mengglobal sehingga terorisme menjadi permasalahan global pula. Hingga saat ini, kelompok teroris berusaha meluaskan pengaruhnya dan merekruit anggota dari berbagai negara. Kelompok teroris seperti ISIS juga kerap menggunakan internet dan media sosial seperti Youtube untuk melakukan terornya (Jenkins, 2017).

Menurut Karmon (2006), dalam menghadapi persebaran terorisme di Timur Tengah yang berkelanjutan, negara-negara Timur Tengah memiliki strategi-strateginya sendiri. Salah satu strategi yang dilakukan adalah deradikalisasi yang merujuk pada upaya-upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk menetralisir dan menurunkan intensitas radikalisme Islam di Timur Tengah. Strategi ini dilakukan melalui berbagai pendekatan termasuk psikologi dan sosial budaya melalui aturan-aturan yang mengarahkan pemikiran radikal menjadi lebih moderat dan anti kekerasan. Tahapan-tahapan deradikalisasi dilakukan pula dengan cara meluruskan pandangan terkait jihad yang seringkali digunakan oleh kelompok-kelompok teroris untuk menarik dan merekruit anggota baru agar bergabung di kelompoknya (Karmon, 2006).

Dapat disimpulkan bahwa peristiwa 9/11 merupakan awal dari rekognisi terorisme sebagai konflik internasional. Peristiwa tersebut juga menyebabkan munculnya identifikasi dan pengaitan terorisme dengan Timur Tengah yang mayoritas beragama Islam. Jihad menjadi alat yang digunakan oleh kelompok-kelompok teroris untuk memenuhi kepentingannya. Bagi Timur Tengah sendiri, aksi terorisme menyebabkan adanya sentimen anti-Islam dari negara Barat yang ditunjukkan dengan semakin ketatnya regulasi dan kerjasama dengan negara-negara Timur Tengah, serta intervensi-intervensi Barat terhadap konflik-konflik di Timur Tengah. Penulis beropini bahwa sebagai sebuah masalah global, aksi pencegahan dan penanggulangan terorisme membutuhkan partisipasi dari seluruh masyarakat dunia, yang diikuti dengan pembelajaran lebih lanjut mengenai ajaran Islam non-radikal agar Islamophobia tidak lagi berkembang di masyarakat.

Referensi:

Filiu, Jean-Pierre. 2009. “The Local and Global Jihad of Al-Qa’ida in the Islamic Maghrib” dalam Middle East Journal, Vol. 63, No. 2. Pp. 213-226

Jenkins, Brian Michael. 2017. “Middle East Turmoil and the Continuing Terrorist Threat – Still No Easy Solution” [online] tersedia dalam www.rand.org/pubs/testimonies/CT462.html [diakses 24 September 2018]

Karmon, Elly. 2006. “Al-Qa’ida and the War of Terror After the War in Iraq” dalam Middle East Review of International Affairs, Vol. 10, No. 1. Pp. 1-22

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com