Globalisasi memberikan pengaruh yang signifikan bagi dunia, tak hanya pada sektor politik, ekonomi, dan hukum saja melainkan juga sektor-sektor vital lainnya. Globalisasi dinilai telah mampu mengubah konstelasi dan tatanan politik global. Tak hanya itu, globalisasi juga memberikan pengaruh yang kuat dalam skala nasional, regional, maupun global. Bukti kuatnya pengaruh globalisasi dapat dilihat dari perubahan kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah yang kian mengarah pada konvergensi dalam berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, dan politik.

Drezner (2001, 53) menjelaskan bahwa konvergensi yang dilangsungkan pemerintah saat ini adalah tendensi untuk menyamakan kebijakan-kebijakan demi peningkatan struktur, proses, dan kinerja. Demi bertahan dalam arus globalisasi, negara-negara membentuk kebijakan bersama demi membantu satu sama lain melalui konvergensi. Drezner (2001, 57) menjabarkan dua teori yang dapat menjelaskan penyebab munculnya konvergensi. Teori pertama menyatakan bahwa konvergensi muncul akibat adanya tekanan dari struktur yang kemudian mepengaruhi kondisi lingkungan sebuah negara. Hal ini sejalan dengan pendapat Dowrick dan DeLong (2003, 195) yang menyatakan bahwa adanya transfer teknologi, meningkatnya perdagangan dan investasi internasional, serta meluasnya tingkat pendidikan dapat memicu  munculnya konvergensi. Pada teori kedua, konvergensi justru tercipta oleh tindakan yang dilakukan para agen independen.

Menurut Hay (2000, 8) terdapat empat macam konvergensi yaitu: (i) konvergensi dalam menekan dan mendesak penempatan ekomoni politis (input konvergensi); (ii) konvergensi dalam penarikan kebijakan oleh (atau memberitahu paradigma) negara khusus (kebijakan konvergensi); (iii) konvergensi dalam konsekuensi, efek, dan hasil dari kebijakan khusus (output konvergensi); dan (iv) konvergensi dalam sebuah proses mendukung dalam membangun jalan negara khusus (proses konvergensi). Globalisasi secara tidak langsung memaksa negara-negara untuk membuka pasar, keleluasaan pertukaran ekonomi, dan persaingan bebas.

Proses konvergensi dalam perkembangannya merupakan peristiwa yang tak terelakkan, tak terhindarkan, dan mengglobal. Proses konvergensi sebagai bentuk dari homogenitas dari masyarakat melalui industrialisasi dan modernisasi, kemudian mempengaruhi masyarakat dalam suatu regional  untuk membentuk satu identitas dan menjadi satu kesatuan (Drezner 2001, 56). Proses konvergensi dalam regionalisme tidak lepas dari pengaruh globalisasi. Menurut para ahli, globalisasi berfungsi untuk meniadakan perbedaan masyarakat dalam suatu region yang memiliki keragaman nasionalisme, bahasa, maupun budaya dengan mengutamakan proses deteritorialisasi dan konvergensi masyarakatnya. Globalisasi dianggap turut meniadakan nasionalisme dengan mengubah fokus masyarakat untuk mengutamakan kepentingan regional. Regionalisasi dianggap sebagai salah satu cara untuk melawan adanya globalisasi (Hay 2000, 522).

Ekonomi merupakan salah satu faktor utama dalam konvergensi suatu region, sebagaimanya dinyatakan Higgott dan Perraton (dalam Hay 2000, 523) bahwa globalisasi mempengaruhi regionalisasi dengan integrasi ekonomi yang kemudian membentuk pasar bebas dalam suatu regional sebagai bentuk konvergensi. Pasar bebas yang berkembang jauh lebih efisien, instan dengan pelaku pasar yang rasional, serta memiliki informasi dan faktor-faktor produksi yang sempurna sehingga pasar bebas pun berkembang pesat (Hay 2000, 525). Menurut Soskice and Iversen (Hay 2001, 28-9), konvergensi ekonomi meningkatkan integrasi ekonomi bahkan hingga menyatukan segala aspek ekonomi dalam satu region seperti Uni Eropa yang mempunyai mata uang dan bank sentral sendiri. Konvergensi ini tak hanya memberikan kemudahan namun juga kerugian karena menimbulkan neoliberalisasi dan penurunan sistem kolektif sosial bagi negara-negara yang bergabung. Selain fenomena pengangguran, konvergensi ekonomi akan memunculkan integrasi moneter yang menimbulkan inflasi dan mengarah pada keterpurukan ekonomi region tersebut (Hay 2001, 29). Di Eropa sendiri, masyarakat lebih condong kepada integrasi regional daripada integrasi global.

Dalam mekanisme seleksi ekonomi periode 1970-an, diberlakukan mobilitas modal gratis serta deregulasi aktivitas dari setiap pemerintah yang mengikuti sistem perkekonomian kapitalis Amerika Serikat. Terjadilah ketimpangan ekonomi negara maju serta tekanan dari negara-negara Asia Timur. Krisis pun muncul sebagai dampak dari kebjikan tersebut. Oleh karena itu, Higgot (dalam Hay 2000, 527) berpendapat bahwa dengan koordinasi secara regional lah yang dapat mengatasi krisis globalisasi, baik itu sekadar diskusi atau penerapan kebijakan dengan proses integrasi lebih lanjut krisis. Kapasitas suatu negara dalam menanggapi dampak globalisasi seperti signifikansi mobilitas yang tinggi dilemahkan oleh adanya institusi regional. Namun, absennya institusi-institusi regional dapat menghilangkan mediasi dalam menanggapi tendensi globalisasi sehingga mengakibatkan kecenderungan reproduksi perbedaan dan keragaman nasional yang hanya dapat diselesaikan melalui konvergensi regional (Hay 2000, 526-7).

Dowrick dan DeLong (2003, 35) menyebutkan bahwa terjadi berbagai macam perubahan dalam skala regional seperti munculnya East Asean Miracle, sekelompok negara di Asia dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dalam hanya kurun 25 tahun. Fenomena ini terjadi pada Indonesia, Malaysia, Thailand, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan China. Pada akhirnya, globalisasi mampu ‘memaksa’ pemerintah untuk membentuk atau mengubah kebijakan-kebijakan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan yang ada dan dampaknya kemudian mengglobal. Selain itu, globalisasi mampu membawa dunia dalam aspek perdagangan dengan meliputi isu lingkungan, tenaga kerja, dan perlindungan konsumen yang dikenal dengan istilah race to the bottom (Drezner 2001, 57).

Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa globalisasi memiliki implikasi yang signifikan terhadap tak hanya aturan-aturan level nasional namun hingga level nasional dan regional. Pengaruh globalisasi yang kuat dalam berbagai tata aturan ini kemudian turut memicu proses konvergensi. Konvergensi sendiri adalah kecenderungan pemerintah-pemerintah dalam satu region untuk menyamakan kebijakan-kebijakannya demi meningkatkan struktur, proses, dan kinerja bersama. Dalam regionalisme sendiri, konvergensi memiliki dampak dalam berbagai aspek keberlangsungan negara-negara yang tergabung di dalamnya tak hanya dalam konstelasi politik namun juga dalam perkembangan ekonomi, pergeseran tatanan sosial, dan sebagainya.

Referensi

Hay, Colin, 2000. “Contemporary Capitalism, Globalization, Regionalization and the Persistence of National Variation”, dalam Review of International Studies 26 (4), pp. 509 – 531.

Dowrick, Steve dan J. Bradford DeLong. 2003. “Globalization and Konvergensi”, dalam Bordo, Michael D., Alan M. Taylor, dan Jeffrey G Williamson (ed.), Globalization in Historical Perspective. Chicago: University of Chicago Press.

Drezner, Daniel W. 2001. “Globalization and Policy Konvergensi”, dalam International Studies Review 3 (1), pp. 53-78.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.