Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di era globalisasi kini banyak mengantarkan manusia menuju ke arah dunia tanpa batas atau borderless world. Batas-batas teritorial negara yang seolah mengabur merupakan hal yang tidak dapat dihindari dengan meningkatnya interkonektivitas antar negara dalam berbagai aspek, termasuk dalam ranah ekonomi. Isu terkait pertumbuhan dan ketimpangan merupakan isu ekonomi global yang bukan merupakan hal yang baru lagi. Integrasi ekonomi, implementasi kebijakan neoliberal, hingga perubahan pola perdagangan internasional di era globalisasi kemudian memunculkan pertanyaan mengenai dampak apa sajakah yang sebenarnya dibawa oleh globalisasi beserta kompleksitasnya. Urgensi terkait hal ini kemudian mulai meningkat dan menjadi salah satu fokus utama para akademisi, pembuat kebijakan, dan organisasi-organisasi internasional. Maka dari itu, tulisan ini menganalisis perkembangan dan dinamika isu ekonomi global khususnya terkait pertumbuhan dan ketimpangan di era globalisasi.

Merujuk pada definisi yang diberikan oleh Shin (2009) dalam tulisannya yang berjudul A Study on the Economic Benefits of Globalization: Focusing on the Poverty and Inequality between the Rich and the Poor, globalisasi ekonomi dapat diartikan sebagai suatu proses integrasi ekonomi nasional menuju ke ekonomi internasional dan ekspansi pasar melalui aktivitas perdagangan, Foreign Direct Investment (FDI) oleh Multinational Corporations (MNC), arus kapital, arus pekerja internasional, dan arus teknologi. Sejalan dengan pemaknaan itu, globalisasi ekonomi menunjukkan peningkatan interdependensi ekonomi antar negara dan keterbukaan ekonomi terhadap perdagangan internasional. Shin (2009) menjelaskan lebih lanjut bahwa sejatinya, globalisasi membawa dampak yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi global. Ia memandang bahwa keterbukaan ekonomi oleh negara-negara dapat menurunkan garis kemiskinan baik di negara berkembang maupun negara maju, serta meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya dengan mengirimkannya ke wilayah yang paling membutuhkan. Selain itu, perkembangan teknologi transportasi juga memudahkan para migran untuk bekerja di luar batas negaranya untuk mendapat upah yang lebih tinggi. Namun, Shin (2009) menemukan bahwa pencapaian dalam penurunan garis kemiskinan yang diperoleh oleh setiap negara tidaklah sama karena tergantung pada kapabilitas negara untuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari globalisasi itu sendiri, sehingga ketimpangan dalam ekonomi global dapat terjadi.

Lebih lanjut, Babones dan Vonada (2009) memandang bahwa terdapat ambiguitas dalam globalisasi yang ditunjukkan dengan ketidaksesuaian teori dengan fakta empiris yang terjadi. Analisis yang dilakukan olehnya menunjukkan bahwa terdapat inkonsistensi dalam dampak yang dihasilkan oleh kebijakan-kebijakan terkait globalisasi dengan tingkat kemiskinan di negara-negara. Sedangkan Kollmeyer (2015) berargumen bahwa dampak globalisasi pada ekonomi negara bergantung pada tingkat pengeluaran pemerintah di sektor publiknya. Oleh karenanya, globalisasi dianggap dapat menyebabkan adanya ketimpangan, namun dampak tersebut dapat dihindari jika sektor publik dikembangkan. Dengan kata lain, dampak yang dihasilkan oleh globalisasi bergantung kepada bagaimana aktor internasional seperti negara menyikapinya. Dengan sikap dan kebijakan tertentu, maka globalisasi dapat dimanfaatkan untuk keuntungannya. Hal inilah yang dapat menyebabkan adanya ketimpangan negara-negara maju dan berkembang yang tentu memiliki masalah serta strategi yang berbeda untuk mengatasinya.

Dari tiga pandangan diatas, penulis dapat menilai bahwa globalisasi merupakan fenomena berkelanjutan yang tidak dapat dihindari dan begitu kompleks sehingga tidak dapat dipahami dari satu sudut pandang saja. Hal ini didukung oleh argumen Shin (2009) bahwa kontradiksi pemikiran masih kerap terjadi dalam pembahasan mengenai dampak globalisasi pada ekonomi global karena beberapa orang menganggap globalisasi telah menurunkan tingkat kemiskinan global, sedangkan di sisi lain, beberapa orang justru menganggap globalisasi menyebabkan ketimpangan dan kemiskinan semakin tinggi. Penulis memandang bahwa dalam dinamikanya, globalisasi dengan perkembangan teknologi dan komunikasinya telah membawa kemajuan bagi manusia di era modern saat ini. Kemajuan zaman telah membawa kesejahteraan dan kemudahan bagi aktivitas manusia khususnya yang melampaui lintas batas negara. Akan tetapi, pada kenyataannya kondisi ini tidak dirasakan oleh semua bagian dunia karena terdapat ketimpangan yang terjadi antara negara maju dan berkembang, serta ketimpangan antara golongan kaya dan golongan miskin di suatu negara tertentu.

Merujuk pada pemaparan sebelumnya, penulis mengambil posisi bahwa globalisasi dapat memengaruhi tingkat kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di dunia, namun tidak secara langsung. Premis ini didukung oleh Babones dan Vonada (2009) yang menegaskan bahwa efek kausal yang disebabkan oleh globalisasi seringkali bergantung pada periode waktu dan wilayah yang diteliti sehingga data yang diperoleh harus dibandingkan terlebih dahulu untuk mencapai akurasi yang tepat. Selain itu, Shin (2009) juga menjelaskan bahwa ketimpangan dapat terjadi karena dua hal. Pertama, sejak awal memang telah terdapat perbedaan dalam kemajuan dan kekuatan ekonomi yang terdapat diantara negara maju dan negara berkembang dan kedua, terdapat pula perbedaan dalam hal strategi manajemen dalam mengambil keputusan yang dapat menguntungkan mereka di era globalisasi ini. Maka dari itu, ketimpangan dan perbedaan tingkat pencapaian yang diperoleh berbeda bagi setiap negara, namun bukan berarti hal ini menunjukkan bahwa globalisasi sepenuhnya menyebabkan ketimpangan tersebut, melainkan juga terdapat faktor sikap dan tindakan yang diambil.

Terkait permasalahan kemiskinan dan ketimpangan, penulis dapat memberikan contoh kasus pertumbuhan ekonomi di negara-negara Baltik. Di awal tahun 1990-an pasca runtuhnya Uni Soviet, negara-negara Baltik seperti Estonia, Latvia, dan Lithuania tidak lagi merupakan negara komunis namun berubah menjadi negara kapitalis. Dengan tujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan integrasi dengan ekonomi global, negara-negara tersebut melakukan liberalisasi dan membuka perekonomiannya pada pasar internasional. Bumbure (2014) menjelaskan bahwa dalam hal ini, globalisasi telah memberi dampak positif sekaligus negatif bagi negara-negara diatas. Di satu sisi, indikator ekonomi seperti FDI dan GDP per kapita menunjukkan implikasi positif bahwa ekonomi nasional mengalami pertumbuhan dan perkembangan taraf hidup. Namun di sisi lain, keterbukaan ekonomi juga memunculkan permasalahan-permasalahan baru seperti pengangguran, ketimpangan pendapatan, dan resiko kemiskinan dalam negeri. Resesi ekonomi di tahun 2007-2009 kemudian juga memberi dampak langsung pada ekonomi domestic negara-negara yang telah terintegrasi secara global (Bumbure, 2014). Oleh karenanya, interdependensi antar negara semakin besar dan kondisi suatu negara dapat memengaruhi kondisi negara lainnya dengan mudah.

Berdasarkan paparan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa globalisasi yang kerap dikaitkan dengan integrasi ekonomi global, juga tidak dapat dilepaskan dari isu-isu pertumbuhan dan ketimpangan baik antar negara maju dan negara berkembang, maupun ketimpangan domestik di suatu negara. Meski tidak memengaruhi secara langsung, namun globalisasi tetap memiliki dampak baik positif dan negatif terhadap perekonomian nasional tiap-tiap negara. Oleh karenanya, penulis berpendapat bahwa untuk mengatasi problematika yang terjadi, tiap negara membutuhkan strategi yang sesuai dan efisien, serta tidak dapat terlalu bergantung pada negara lain, meski aktivitas ekonomi keduanya telah terintegrasi dengan baik. Globalisasi merupakan proses yang tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dihindari, sehingga terdapat kemungkinan-kemungkinan yang penting untuk diperhatikan dan dipertimbangkan.

Referensi:

Babones, Salvatore J., dan Vonada, Dorian C. 2009. “Trade Globalization and National Income Inequality – Are They Related”, dalam Journal of Sociology, vol. 45 (1). Hawthorn: The Australian Sociological Association.

Bumbure, Ieva. 2014. Effects of Globalization on Developing Countries: A Case Study of the Baltic States, Master Thesis, Bahcesehir University

Kollmeyer, Christopher. 2015. “Globalization and Income Inequality: How Public Sector Spending Moderates this Relationship in Affluent Countries” dalam International Journal of Comparative Sociology, Vol. 56, no. 1, pp. 3-28

Shin, Sang-Hyup. 2009. “A Study on the Economic Benefits of the Globalization: Focusing on the Poverty and Inequality between the Rich and the Poor”, dalam International Area Review, vol. 12 (2). Kyung Hee University: South Korea.

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com