Sistem politik dan politik internasional merupakan serangkaian yang dinamis dan selalu berubah dari masa ke masa. Sistem liberalisasi pasar yang diterapkan oleh negara-negara Barat menyebabkan terjadinya kesenjangan yang signifikan antara negara maju dan negara berkembang sehingga pertumbuhan dan pendapatan tidak merata. Hal ini kemudian mendorong terjadinya eksploitasi dan ekspansi wilayah oleh negara-negara Barat dengan mempraktekkan sistem kolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme. Dalam tatanan ekonomi dan politik dunia, perkembangan pasar juga menyebabkan munculnya hegemon-hegemon baru yang menguasai dan memonopoli perdagangan dunia. Berkaca kembali melalui sejarah dari masing-masing negara, praktek imperialisme telah dilakukan sejak dahulu dan masih ditemukan dalam masa sekarang meski bentuk dan cara penerapannya sudah berbeda.

Magdoff (1978) dalam bukunya yang berjudul Imperialism: From the Colonial the Present membagi periodisasi terkait praktek-praktek imperialisme yang ada. Periode pertama pada akhir abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-17 ditandai dengan mulai mengglobalnya pasar Eropa. Blokade Kerajaan Ottoman terhadap negara-negara Eropa mendorong Inggris untuk melakukan misi penjelajahan hingga ke Amerika, Asia, dan Afrika. Kelebihan yang dimiliki Inggris adalah teknologi kapal perangnya yang dapat menghancurkan kapal-kapal dagang lain sehingga perdagangan di wilayah perairan dapat dikuasai (Magdoff, 1978). Selain itu, kesuksesan bangsa Eropa pada masa ini juga disebabkan oleh eksploitasi logam perak dan emas di Amerika Selatan, perbudakan dari Afrika, barang-barang mentah dari Asia, dan dibukanya pasar baru di Eropa sendiri. Meski begitu, banyak konflik antar negara-negara Eropa sendiri sehingga kesulitan yang dihadapi adalah meningkatnya jumlah rempah-rempah namun dengan harga yang tinggi karena persaingan pasar (Magdoff, 1978). Periode kedua terjadi dari pertengahan abad ke-17 hingga abad ke-18, kesuksesan Inggris menyebabkan aliran dana cukup untuk mengembangkan manufaktur hingga mendorong terjadinya revolusi industri dan membuat Inggris menjadi negara terkuat baik secara ekonomi maupun politik. Dibawah kondisi monopoli yang diterapkan melalui kekuatan maritimnya mengalahkan Belanda dan Spanyol, Inggris menguasai pasar ekspor, perdagangan barang mentah dan perbudakan, serta mendapat dominasi politik (Magdoff, 1978).

Lebih lanjut, periode ketiga terjadi pada akhir abad ke-18 hingga tahun 1870-an sebagai masa kemajuan sektor industri global. Perebutan kekuasaan terjadi antara Inggris dan Prancis hingga dalam Perang Napoleon Prancis berhasil dikalahkan dan Inggris muncul sebagai negara hegemon yang menguasai perekonomian dunia. Kemajuan teknologi menyebabkan munculnya barang-barang baru seperti wol, kapas, dan sebagainya. Sejak tahun 1875, mulai terdapat koloni-koloni formal baru yang memunculkan pinjaman dana secara internasional bagi negara-negara peri-peri untuk membangun jalan raya, kegiatan pertambangan dan industri sebagai investasi (Hoogvelt, 1997). Inggris juga menyebarkan liberalisasi pasar ke negara-negara koloninya agar perdagangan dunia dapat berlangsung dengan lebih mudah. Sistem liberal yang sudah mulai mengglobal menyebabkan pertumbuhan industri di negara-negara lain berlangsung dengan cepat. Pada Eksposisi Paris pada tahun 1900, dapat dilihat perkembangan teknologi baru yang beragam seperti Jerman mengembangkan teknologi listrik dan kimia serta Amerika mengembangkan metode produksi dalam jumlah besar sehingga masa ini disebut juga dengan Revolusi Industri Kedua (Frieden, 2006). Namun, perkembangan tersebut tidak diikuti dengan ekspansi pasar sehingga terjadi deflasi dan produksi yang berlebihan. Untuk mengatasi hal ini, negara-negara besar selain Inggris menerapkan tarif dan hambatan-hambatan perdagangan untuk menjaga harga tetap stabil sekaligus melindungi industri domestik (Hobsbawm, 1987). Kondisi ini kemudian mengancam hegemoni Inggris hingga pada tahun 1913, produksi barang Jerman dan Amerika Serikat adalah enam kali lipat jika dibandingkan dengan Inggris (Frieden, 2006).

Menilik lebih dalam, persaingan serupa tidak dialami oleh negara-negara Dunia Ketiga karena kebebasan berdagang tetap dibatasi oleh pengaruh kolonialisme yang terjadi di masing-masing wilayah. Negara-negara kolonial membantu perkembangan ekonomi negara kecil hingga mencapai standar dunia, dengan melakukan pemaksaan untuk mengekspor barang-barangnya ke Eropa, mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya, dan mengembangkan instalasi komunikasi dan listrik (Frieden, 2006). Namun meski begitu, negara-negara Dunia Ketiga tidak diperbolehkan untuk mengembangkan sektor industrinya dengan bebas karena dianggap dapat menyaingi negara-negara Eropa. Terkait hal ini, Hecksher dan Olin dalam Frieden (2006) menjelaskan bahwa dalam kondisi ini sekalipun, terdapat keuntungan komparatif yang dapat dicapai masing-masing negara di dunia. Teori ini berpendapat bahwa tiap negara memiliki faktor produksi yang berbeda sehingga negara dengan tanah subur dan modal kecil cenderung akan mengekspor barang-barang agrikultural sedangkan negara pemilik modal cenderung akan mengekspor barang-barang manufaktur. Maka dari itu, negara yang berhasil adalah negara yang dapat memanfaatkan faktor produksinya dengan baik dan efisien. Lebih lanjut, sejak akhir Perang Dunia I terjadi pergeseran sistem internasional karena muncul gerakan-gerakan sosialisme dan berkembangnya Multinational Cooperations (MNCs) (Magdoff, 1978). Pada masa ini imperialisme tidak hilang namun hanya menurun karena beberapa faktor antara lain adanya kekuatan Amerika Serikat yang menyaingi negara-negara Eropa khususnya Inggris, adanya gerakan-gerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan nasional yang mengarah pada dekolonisasi, dan berkembangnya peran MNC yang mulai menguasai pasar dunia.

Dapat disimpulkan bahwa praktek Imperialisme berasal dari negara-negara Barat melalui ekspansi wilayah dan adanya kebutuhan akan pasar baru. Ekspansi wilayah dilakukan untuk membiayai perkembangan industri domestik sehingga dapat memproduksi barang-barang baru dalam skala besar. Hal ini menyebabkan terjadinya produksi yang berlebihan sehingga diperlukan ekspansi pasar. Maka dari itu, negara-negara Eropa kemudian mendorong negara-negara lain untuk melakukan liberalisasi pasar agar ekonominya dapat berkembang. Pada masa sekarang praktek Imperialisme sendiri tidak hilang namun memiliki bentuk yang berbeda karena beberapa faktor antara lain munculnya potensi hegemon baru seperti Amerika Serikat, praktek dekolonisasi di negara-negara Dunia Ketiga, dan meningkatnya peran MNC dalam tatanan ekonomi dan politik dunia. Penulis beropini bahwa praktek Imperialisme merupakan bentuk alamiah yang dilakukan negara-negara kapitalis yang menguasai modal. Maka dari itu, negara-negara peri-peri harus selalu waspada agar dapat melindungi perekonomian domestiknya dari kecurangan dan eksploitasi.

Referensi:

Frieden, Jeffrey A. 2006. “Success Stories of the Golden Age” dalam Global Capitalism: Its Fall and Rise in the Twentieth Century. New York: W.W Norton & Co., pp 173-194

Hobsbawm, Eric. 1987. “An Economic Changes Gear” dalam The Age of Emprire 1875-1914. London: Weidenfield & Nicolson, pp. 34-55

Hoogvelt, Ankie. 1997. “The History of Capitalist Expansion” dalam Globalization and the Post-Colonial World: The New Political Economy of Development. Baltimore: The John Hopkins University, pp. 29-43

Magdoff, Harry. 1978. “Imperialism: A History Survey” dalam Imperialism: From the Colonial Age to the Present. New York: Monthly Review Press, pp. 165-197