Benedict Anderson merupakan seorang sejarawan yang terkenal untuk karyanya yang berjudul Imagined Communities. Dengan menggunakan pendekatan sejarah materialis, Anderson (1983) memaparkan faktor-faktor yang memengaruhi keberadaan nasionalisme di dunia dalam kurun waktu tiga abad yang lalu hingga sekarang. Tulisan tersebut telah banyak digunakan dalam kemunculan studi-studi baru dan banyak berpengaruh didalam studi-studi interdisipliner, termasuk studi Hubungan Internasional. Berlawanan dengan paham yang mengatakan bahwa nasionalisme akan memudar seiring dengan berjalannya waktu, Anderson (1983) memandang bahwa nasionalisme tidak akan pernah hilang dan terus tumbuh. Bukti yang ia sertakan adalah dengan munculnya negara-negara baru di PBB dan adanya sub-nasionalisme didalam negara-negara itu sendiri. Lebih lanjut, untuk memahami makna dari bangsa, kebangsaan, dan nasionalisme, diperlukan pemahaman dan analisis mendalam dengan menggunakan perspektif historis, dengan melihat kembali kilas sejarah yang dianggap dapat membentuk nasionalisme itu sendiri dalam imagined community.

Benedict Anderson memandang bangsa sebagai sebuah imagined community secara politik yang terbatas dan memiliki kedaulatan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa komunitas tersebut “dibayangkan” karena tiap individu yang terdapat dalam komunitas terkecil sekalipun, tidak akan pernah mengenal semua individu lain dalam komunitas tersebut (Anderson, 1983). Maka bangsa adalah sebuah istilah abstrak yang tidak memiliki wujud konkretnya karena orang-orang merasa memiliki keterikatan dengan orang lain yang sebangsa dengannya meski tidak mengenal, bahkan bertatap muka secara langsung. Lebih lanjut, bangsa juga dibayangkan secara terbatas, karena terdapat hal-hal yang membatasi suatu bangsa dengan bangsa lain. Seorang nasionalis yang paling radikal pun tidak akan membayangkan semua orang dapat menjadi bagian dari bangsanya (Anderson, 1983). Sedangkan nasionalisme dipandang sebagai sebuah artefak kultural yang hanya memiliki bentuk konkret jika dilihat melalui institusi kapitalisme cetak dalam bentuk struktural seperti novel dan koran (Anderson, 1983). Menarik lebih jauh, kapitalisme cetak menghasilkan suatu bentuk baru dari keselarasan. Dalam koran, terdapat hubungan antara orang-orang yang tidak saling mengenal identitas, dan dalam novel, penulis mengisi kekosongan waktu dengan tokoh dan peristiwa. Peristiwa yang ada pun disusun berdasarkan waktu oleh aktor-aktor yang tidak saling mengenal. Keduanya memiliki bentuk dunia yang dibayangkan oleh pembaca. Selain itu, Anderson (1983) juga memandang bahwa kapitalisme media cetak didasarkan oleh kesadaran nasionalisme untuk menciptakan platform baru terkait komunikasi, bahasa sebagai power, dan kompleksnya bahasa itu sendiri.

Namun, konsep imagined community sendiri tidak lepas dari kritik. Partha Chatterjee (1993) dalam bukunya yang berjudul The Nation and Its Fragments melihat bahwa nasionalisme tidak berakar dari identitas namun justru dari perbedaan yang dipropagandakan oleh negara-negara Barat modern. Terdapat keaslian dan nilai-nilai distintif dari setiap masyarakat. Dengan kata lain, ia mengungkapkan bahwa tidak semua bangsa bisa dibayangkan dengan cara yang sama atau universal. Penulis sependapat dengan kritik Chatterjee karena analisis terkait nasionalisme dapat dilakukan dari berbagai aspek seperti sejarah, politik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Kemudian, hasil yang didapat akan berbeda di masing-masing bangsa sehingga imagined community itu sendiri akan memiliki interpretasi yang berbeda-beda juga dari masing-masing kelompok masyarakat. Selain itu, Hobsbawm (1990) dalam tulisannya yang berjudul Nations and Nationalisms Since 1780 menyatakan bahwa nasionalisme tercipta lebih dahulu sebelum adanya bangsa. Lebih lanjut, bangsa juga tidak dapat diasosiasikan dalam kolom koran saja namun harus mempertimbangkan sub-literatur yang lain. Dengan kata lain, untuk memahami makna dari bangsa, kapitalisme media cetak saja tidak dapat cukup menjelaskan secara komprehensif.

Menilik lebih dalam, Anderson (1983) menjelaskan bahwa identifikasi nasional datang dari masa saat kapital mulai berkembang. Namun, penulis beropini bahwa identifikasi suatu bangsa tidak selalu didasarkan kepada arus kapital yang terjadi diantara masyarakat tersebut, melainkan juga terdiri dari identifikasi lain seperti budaya dan agama, yang terkadang dapat tertanam lebih dalam diatas tingkat negara. Selanjutnya, Anderson (1983) berpandangan bahwa bangsa berasal dari kebutuhan akan lokalisasi atau imajinasi dari beberapa kelompok yang ada sebagai kelompok asli yang membedakannya dengan kelompok lain. Lebih lanjut, imajinasi nasional tumbuh melalui koran dan novel meliputi berbagai wilayah dan akan menjadi universal pada titik tertentu. Namn Hobsbawm menyanggah pernyataan ini dengan mengatakan bahwa nasionalisme dapat tumbuh dengan tidak merata dalam tingkatan yang berbeda dari kelompok-kelompok sosial.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Benedict Anderson memiliki pandangan distintif terkait konsep bangsa dan nasionalisme. Ia memandang bahwa bangsa adalah sebuah komunitas politik yang imajiner atau tidak nyata karena tidak memiliki wujud konkret dan orang-orang yang menjadi bagiannya juga tidak saling kenal satu sama lain. Kemudian, nasionalisme itu sendiri muncul dari penyebaran kapitalisme media cetak melalui koran dan novel yang tersebar di berbagai wilayah dan pada titik tertentu akan menjadi sebuah nilai universal yang dapat diterima semua orang. Meski begitu, muncul berbagai kritik yang ditujukan pada konsep imagined community yang dianggap terlalu abstrak dan kaku tersebut. Penulis beropini bahwa konsep ini dapat digunakan untuk menjelaskan nasionalisme dalam suatu bangsa karena menggunakan perspektif historis yang dibentuk berdasarkan fakta dan sejarah, namun konsep ini menjadi kurang relevan jika digunakan dalam konteks global yang mana setiap bangsa dan kelompok masyarakat memiliki nilai-nilai intangible lain yang tidak dapat disamakan seperti nilai-nilai budaya dan agama yang berbeda di setiap wilayah.

Referensi:

Anderson, Benedict. 2006. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.

Chatterjee, Partha. 1993. The Nation and Its Fragments: Colonial and Postcolonial Histories. New Jersey: Princeton University Press.

Hobsbawm, Eric J. 1990. Nations and Nationalism Since 1780: Programme, Myth, Reality. Cambridge: Cambridge University Press.