Kajian terkait kawasan Eropa sebagai salah satu benua sekaligus peradaban yang terkuat di dunia, menjadikannya kawasan yang menarik untuk dibahas bagi penstudi Hubungan Internasional. Secara geografis, kawasan Eropa terbentang dari Islandia di bagian barat hingga Pegunungan Ural di Rusia di bagian timur yang memisahkannya dengan Asia. Sedangkan di bagian utara dibatasi oleh Kepulauan Svalbard di Norwegia dan di bagian Selatan dibatasi oleh Laut Mediterania yang memisahkannya dengan Afrika. Namun, World Affairs  (2002) menjelaskan bahwa untuk memahami batas-batas pendefinisian Eropa tidak cukup dari batas-batas geografi saja melainkan juga dari batas-batas historis, kultural, agama, dan sosial. Hal ini dikarenakan, seiring berjalannya waktu, definisi Eropa telah berganti dan berkembang sesuai dengan perkembangan historis dan perubahan ekspektasi publik sehingga dapat dikatakan bahwa agar dapat memahami kawasan Eropa, diperlukan wawasan mengenai Eropa di masa lampau dan masa modern.

Menurut Boer (1998), sebelum ide mengenai penggunaan istilah Eropa benar-benar terbentuk seutuhnya, Eropa dapat dimaknai sebagai tiga hal yakni identifikasinya dengan kebebasan, dengan Kekristenan, dan dengan peradaban manusia. Jika membahas pada ketiga hal tersebut, tentu tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Eropa sejak masa Yunani Kuno yang berlanjut pada masa kekuasaan Kerajaan Romawi, hingga pada akhinya membentuk Eropa modern saat ini. Dari segi identifikasi Eropa dengan kebebasan, kebebasan di Eropa bermula dari konsep demokrasi yang diterapkan di Athena pada masa Yunani Kuno yang berbeda dari kuasa otokratis di Persia pada masa itu. Meski demikian, Canfora (2006) menjelaskan sebelum terjadinya revolusi di abad ke-19, Eropa sempat mengalami krisis kebebasan karena dikuasai oleh absolutisme kerajaan dan monarki, sehingga para kaum liberal-demokrat dan nasionalis bergerak untuk mengembalikan kembali nilai-nilai kebebasan dan menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme. Hal ini kemudian juga berkembang menjadi dasar demokrasi dan persatuan di masa Eropa modern, mengingat sebagian negara-negara Eropa pada dasarnya memiliki sejarah rivalitas dan perang, namun pada akhirnya tetap memilih untuk bersatu dan mengidentifikasi dirinya sebagai bangsa Eropa.

Lebih lanjut, dari segi identifikasi Eropa dengan Kekristenan, Eropa seringkali disebut sebagai bangsa Katolik Romawi, berbeda dari aliran ortodoks di wilayah timur (World Affairs, 2002). Terkait hal ini, Boer (1998) memaparkan bahwa sejak hancurnya Konstantinopel di abad ke-15 dan mulai naiknya popularitas uskup Roma, Paus Pius II berupaya untuk mempertahankan agama Kristen dan mulai mengidentifikasi ‘Respublica Christiana’ dengan Eropa untuk pertama kalinya, sehingga Kristen dapat dikatakan sebagai salah satu pemersatu utama bangsa Eropa. Sedangkan dari segi identifikasi Eropa dengan peradaban manusia, Boer (1998) memaparkan bahwa pada dasarnya peradaban Eropa diawali oleh pemikiran Voltaire, bahwa peradaban Eropa dibangun dari elemen politik dan kultural seperti kebiasaan dan tradisi masyarakat yang berpusat pada dua hal yang telah disebutkan sebelumnya yakni kebebasan dan basis agama Kristen karena dapat membangun kultur politik, dasar pemikiran, hingga perilaku publik yang terdapat di masyarakat.

Menilik lebih dalam, menurut Boer (1998), pada peradaban Eropa modern, terdapat tiga identifikasi baru yang dipandang dapat mendeskripsikan Eropa dan membedakannya dengan peradaban lain. Pertama, pada abad ke-19, kelompok-kelompok identitas yang terdapat di Eropa membentuk idenya masing-masing terkait perkembangan historis dari Eropa, yang mana hal ini menunjukkan adanya diversitas sebagai salah satu nilai yang mempersatukan Eropa. Kedua, terdapat keterkaitan yang kuat antara Eropa dan demokrasi. Revolusi demokrasi pada abad ke-19 menunjukkan bahwa terdapat upaya dari masyarakat hingga perubahan institusional pada struktur badan pemerintah masing-masing negara yang mengarah menjadi lebih demokratis.

Lebih lanjut, World Affairs (2002) memaparkan bahwa jika merujuk pada istilah demokrasi yang ditandai dengan diadakannya pemilihan umum yang rutin, kompetitif, dan adil dalam setiap pergantian kekuasaan, maka semua negara di Eropa termasuk Eropa Tengah dan Timur dapat dikatakan sebagai negara yang demokratis. Namun, berbeda dengan Canfora (2006) yang menjelaskan bahwa demokrasi sejatinya tidak hanya berhenti pada struktur pemerintahan saja namun juga hak dan kebebasan individu sehingga tidak semua negara di Eropa dapat dikatakan demokratis sepenuhnya. Pada dasarnya, demokrasi dapat memiliki makna yang beragam, tergantung pada perspektif yang digunakan, sehingga penulis menilai bahwa masih terdapat perdebatan mengenai kadar demokrasi yang terdapat di Eropa itu sendiri. Terakhir, nilai nasionalisme juga menjadi salah satu identifikasi disting dari peradaban Eropa. Revolusi di tahun 1848 menandai awal dari perkembangan sentimen nasionalis di Eropa yang ditandai dengan bergabungnya Italia, Jerman, dan beberapa negara lain (Boer, 1998). Hal ini kemudian menunjukkan bahwa meski negara-negara Eropa bersaing satu sama lain, namun terdapat nilai yang lebih tinggi yakni rasa superior dibandingkan orang-orang non-Eropa sehingga terdapat rasa bangga dan kesetiaan yang mendalam antar masyarakat Eropa.

Sebagai kesimpulan, pendefinisian istilah Eropa beserta batas-batas yang membedakannya dengan peradaban dari kawasan lain memiliki sifat yang dinamis dan tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor historis yang ada. Selain itu, makna dari istilah Eropa sejatinya lebih besar dan luas dari sekedar batas-batas geografis dan kenegaraan saja melainkan juga memiliki batas-batas kultural, politik, sosial, dan lainnya. Hal inilah yang menyebabkan peradaban masyarakat Eropa memiliki rasa persatuan dan superioritas yang kuat jika dibandingkan dengan masyarakat di kawasan lain. Penulis beropini bahwa secara historis, Eropa memiliki rasa kebersamaan yang kuat dan perkembangan historis yang panjang. Sejarah yang panjang tersebut kemudian menjadi identifikasi utama dari masyarakat Eropa itu sendiri sehingga muncul sentimen-sentimen kultural dan superioritas antar masyarakat Eropa terhadap non-Eropa. Hal tersebut kemudian dapat mempersatukan bangsa Eropa meski sebelumnya saling bersaing dan bermusuhan saat perang. Akhir kata, penulis memandang bahwa hasil dari penjabaran di atas menunjukkan alasan mengapa penting bagi kawasan dan negara lain di dunia untuk mengetahui dan memelajari lebih lanjut sejarah perkembangan bangsa Eropa.

Referensi:

Boer, P.D. 1998. “Europe as an Idea” dalam European Review, Vol. 6, No. 4, pp. 395-401

Canfora, Luciano. 2006. “Prologue” dalam Democracy in Europe: A History of an Ideology. Blackwell Publishing

World Affairs. 2002. “Defining the Borders of a New Europe”, Vol 164, No. 4, pp. 157-177

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com