Pemerintah Amerika Serikat memerintahkan penutupan konsulat Tiongkok di Houston, Texas pada Selasa (21/07) malam lalu dan memberikan waktu 72 jam bagi pihak Tiongkok untuk mengosongkan gedung tersebut. Juru Bicara Amerika Serikat Morgan Ortagus mengatakan bahwa perintah tersebut bertujuan untuk melindungi kekayaan intelektual dan informasi rahasia Amerika. Mengutip Konvensi Vienna, ia melanjutkan bahwa seluruh diplomat wajib menghormati hukum dan regulasi di negara penerima serta bertanggung jawab untuk tidak mencampuri urusan internal negara penerima. Sehingga, ia menegaskan bahwa Amerika tidak dapat tinggal diam dengan adanya praktik-praktik pelanggaran yang dilakukan oleh Tiongkok terhadap kedaulatan Amerika.

Beberapa pengamat memandang bahwa perintah ini merupakan hasil dari meningkatnya tensi di antara kedua negara belakangan ini khususnya berkaitan dengan perang dagang, pandemi virus corona, dan kritik Amerika terhadap kebijakan keamanan Tiongkok terhadap Hong Kong dan Xinjiang.

Selasa lalu, Departemen Kehakiman Amerika Serikat menuduh dua warga kewarganegaraan Tiongkok telah mencuri dan menyebarkan rahasia nasional dan meretas sistem komputer perusahaan yang sedang memproduksi vaksin COVID-19. Dua tersangka tersebut adalah Li Xiaoyu (34) dan Dong Jiazhi (33), keduanya telah melakukan praktik peretasan global selama lebih dari satu dekade. Peristiwa ini kemudian melatarbelakangi kecurigaan Trump terhadap Tiongkok atas dugaan spionase dan serangan cyber untuk mencuri kekayaan intelektual dari bisnis Amerika.

Dilansir dari CNN, dalam pernyataan yang berbeda, Juru Bicara Amerika juga mengatakan bahwa Tiongkok telah  melakukan tindakan mata-mata ilegal dalam skala besar selama bertahun-tahun dan aktivitas tersebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ia tidak menjelaskan lebih jauh insiden seperti apa yang dimaksud.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menyebut konsulat Tiongkok sebagai pusat mata-mata dan pencurian kekayaan intelektual, sebagaimana dituliskan dalam Al Jazeera.  Pihak Departemen Kehakiman juga mengatakan, “aktivitas konsulat di Houston hanyalah sebagian kecil dari jaringan yang lebih luas di 25 kota di Amerika. Konsulat-konsulat tersebut telah bekerjasama dan memberikan bimbingan untuk menjalankan jaringan tersebut dan menghindari investigasi.” Oleh karenanya, penutupan konsulat di Houston dianggap dapat memutus jaringan tersebut dan mencegah terjadinya pelanggaran lainnya.

Tenggat waktu 72 jam yang diberikan berakhir pada Jumat (24/07) lalu pukul 4 sore. Sesaat setelah diplomat Tiongkok terakhir meninggalkan gedung konsulat, dua petugas berseragam dari Departemen Keamanan Amerika Serikat terlihat datang dan berjaga di depan pintu masuk konsulat. Beberapa mobil SUV, truk, dua vans putih, dan van juru kunci memasuki halaman depan konsulat. Beberapa agen federal kemudian terlihat melakukan pengecekan pada pintu depan konsulat sementara sejumlah juru kunci berupaya untuk membuka gembok pintu. Terkait hal ini, pihak Tiongkok mengecam tindakan para petugas keamanan yang “memaksa masuk” ke dalam gedung konsulat tanpa persetujuan Beijing dan berjanji akan melakukan tindakan balasan, sebagaimana dituliskan dalam CNBC News.

Juru Bicara Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk memasuki dalam wilayah kenegaraan Tiongkok dan telah melanggar Konvensi Vienna terkait hubungan konsulat dan Perjanjian Konsular Tiongkok-Amerika. Ia menambahkan bahwa Beijing “sangat kecewa” dan mengecam tindakan Amerika yang “tidak masuk akal” tersebut.

Jumat lalu, pemerintah Tiongkok mengambil tindakan balasan dengan menutup konsulat Amerika Serikat di Chengdu. Beijing menuduh anggota perwakilan Amerika di Chengdu telah mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok. Wang Wenbin menyatakan bahwa, “beberapa personel Amerika di Chengdu telah melakukan tindakan-tindakan yang diluar kapasitasnya. Mereka mencampuri urusan dalam negeri dan mengancam kepentingan keamanan nasional Tiongkok. Pihak kami telah mengajukan sejumlah perwakilan tersebut.”

Dilansir dari South China Morning Post, Wenbin menambahkan bahwa tindakan ini diperlukan untuk membalas tindakan Amerika yang tidak dapat dibenarkan serta telah didasarkan pada hukum internasional sebagai norma dasar dari segala bentuk hubungan internasional dan praktik diplomasi antar negara. Ia menyatakan bahwa, “situasi Amerika dan Tiongkok saat ini bukanlah situasi yang ingin dibentuk oleh Tiongkok, namun semua ini adalah ulah Amerika. Sekali lagi kami mendorong Amerika untuk segera memperbaiki kesalahannya dan menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk mengembalikan hubungan bilateral yang baik antar kedua negara.”

Referensi:

Al Jazeera. 2020. “US-China Ties Fray as Beijing’s Houston Consulate Shuts Down” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/07/china-ties-fray-beijing-houston-consulate-shuts-200725070502466.html [diakses 26 Juli 2020]

Gaouette, Nicole dan Hansler, Jennifer. 2020. “Chinese Consulate in Houston Closed Following US Order” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/07/24/politics/us-agents-houston-chinese-consulate/index.html [diakses 26 Juli 2020]

Meredith, Sam. 2020. “State Department Orders China to Close Consulate in Houston – China Vows Retaliation” [online] tersedia dalam https://www.cnbc.com/2020/07/22/us-orders-china-to-close-consulate-in-houston-texas.html [diakses 26 Juli 2020]

Wong, Catherine. 2020. “Americans Were Interfering in Domestic Affairs: Beijing Justifies Closing US Chengdu Consulate” [online] tersedia dalam https://www.scmp.com/news/china/diplomacy/article/3094498/china-orders-us-consulate-chengdu-close-diplomatic-tit-tat [diakses 26 Juli 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R