Masing-masing kawasan dalam dunia internasional pasti memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Ciri khas tersebut dapat berasal dari perkembangan sejarah, budaya, ekonomi, maupun politik. Wilayah di bagian timur benua Asia merupakan salah satu wilayah yang memiliki nilai budaya dan sejarah yang unik serta telah membawa pengaruh yang signifikan dalam perkembangan tatanan dunia internasional hingga saat ini. Wilayah Asia Timur sendiri terdiri dari negara-negara yang cenderung maju dan memiliki sejarah yang saling berhubungan satu sama lain. Negara-negara tersebut memiliki beberapa persamaan dan kedekatan baik dari segi geografis, sejarah, maupun identitas. Dari persamaan-persamaan tersebut, terdapat dua hal menarik yang dapat dikaji lebih dalam yakni homogenitas dan aliran konfusianisme yang dianut oleh beberapa negara di Asia Timur yang akan penulis paparkan lebih lanjut dalam tulisan berikut.

Dijelaskan didalam Barnes (1993), wilayah Asia Timur telah dihuni manusia sejak satu juta tahun yang lalu, dengan pembagian periode waktu dan persebaran fosil yang berbeda di setiap negara. Periode pertama dikenal dengan nama Paleolitikum yang ditandai dengan adanya alat-alat yang terbuat dari batu. Kemudian dilanjutkan dengan masa musim dingin yang panjang atau Ice Age hingga pada masa 10.000 tahun yang lalu es mulai mencair dan dimulailah masa neolitikum. Sejarah etnis manusia di wilayah Asia Timur sendiri, dikatakan berawal dari masa ini dengan ditemukannya fosil homo erectus yang merupakan cikal bakal dari manusia modern (Barnes, 1993). Terdapat dua teori mengenai asal mula manusia di daerah Tiongkok yakni yang pertama mengatakan bahwa manusia datang dari tanah Afrika dan bermukim di Tiongkok hingga kemudian berevolusi menjadi manusia modern yang ada saat ini sedangkan teori kedua mengatakan bahwa di masa yang sama manusia memang sudah bertempat tinggal di tanah Tiongkok karena populasi manusia dapat tumbuh dan berkembang di wilayah yang sangat luas (Barnes, 1993). Kemudian manusia mulai menemukan cara-cara baru untuk bertahan hidup dengan berburu, beternak, bercocok tanam, dan melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah lain. Keadaan geografis Asia Timur yang berdekatan menjadi faktor utama terjadinya homogenitas etnis dalam masyarakatnya karena berasal dari leluhur yang sama.

Lebih lanjut, di Tiongkok peradaban dimulai pada periode Shang yang mana orang-orang Shang mengelola wilayah Shang sendiri hingga muncul klan rival bernama Zhou yang akhirnya mengambil alih kekuasaan (Barnes, 1993). Pada periode ini muncul sebuah paham yang disebut dengan konfusianisme yang didasari oleh kebaikan luhur manusia. Tiongkok menganggap sistem tatanan yang baik adalah hirarki dengan Tiongkok sebagai pusat dunia dan wilayah-wilayah lain harus tunduk pada sang kaisar yang dianggap sebagai penghubung surga dan dunia (Krasner, 2001). Kondisi hirarki tersebut menyebabkan keteraturan diantara masyarakat tidak didasarkan oleh traktat dan perjanjian kerjasama melainkan ritual, adat, dan peraturan. Wilayah lain diharapkan untuk memberi persembahan bagi kaisar yang akan dibalas dengan hadiah sebagai imbalannya. Maka muncul istilah tributal states yang harus melakukan pembayaran tersebut sebagai bentuk kesetiaannya kepada kaisar (Krasner, 2001). Pada awalnya Jepang dan Korea menganut paham konfusianisme, namun Jepang merasa tindakan tersebut tidak sesuai dengan kepentingannya sehingga ia lebih mengadopsi sistem Westphalia dari negara Barat yang menganggap bahwa semua negara setara kedudukannya (Krasner, 2001).

Seiring berjalannya waktu, baik konflik internal maupun eksternal muncul di Tiongkok. Dalam ranah domestik, muncul pemberontakan-pemberontakan seperti oleh White Lotus Society dan masyarakat muslim di Yunnan yang menolak ajaran konfusianisme Tiongkok yang dianggap merugikan. Lalu dari konflik eksternal terdapat ancaman dari negara Barat dan kerajaan lain seperti kerajaan Ottoman yang menolak ajaran konfusianisme Tiongkok. Kerajaan dan entitas lain tersebut melakukan pertukaran barang dengan Tiongkok dan menganggapnya sebagai aktivitas perdagangan sedangkan Tiongkok menganggapnya sebagai persembahan baginya sebagai pusat dunia. Konflik-konflik tersebut kemudian mendorong Tiongkok untuk menyetujui Traktat Sino-Jepang pada tahun 1871 sebagai bentuk antisipasi terhada kehancurannya sendiri (Krasner, 2001). Kemudian Jepang yang mengetahui rencana Rusia untuk melakukan ekspansi mulai mendekati Korea untuk bekerjasama demi keamanan negaranya. Korea sendiri merupakan negara lemah sehingga tidak memiliki pilihan lain selain menandatangani perjanjian dengan Jepang meski hal tersebut bertentangan dengan ajaran konfusianisme Tiongkok (Krasner, 2001). Tiongkok sendiri tidak dapat mengehentikan tindakan Jepang yang ingin menjadikan Korea sebagai koloninya karena tidak adanya kekuatan militer yang cukup dan masih terdapat pemberontakan-pemberontakan di wilayah barat daya Tiongkok.

Menilik lebih dalam, terlepas dari sejarah konflik negara-negara Asia Timur, pada awal tahun 1990-an negara-negara tersebut mulai tumbuh secara interdependen, terhubung, dan kohesif secara sosial dan ekonomi meski memiliki sejarah panjang dan perbedaan geopolitik dari periode sebelumnya. Pola-pola kerjasama baru dan pertukaran budaya yang merata di Asia Timur kian menghapus kecurigaan di masa lalu dan mulai membentuk suatu identitas baru (Calder & Ye, 2010). Kerjasama yang semakin intens khususnya diantara tiga negara besar Asia Timur yaitu Tiongkok, Jepang, dan Korea dapat dilihat antara lain dari banyaknya penduduk Jepang di Tiongkok, munculnya organisasi multilateral di Tiongkok dan Jepang, serta populernya hiburan Korea di Tiongkok dan Jepang (Calder & Ye, 2010). Dengan meningkatnya bidang industri ketiga negara tersebut menyebabkan adanya ketergantungan terhadap negara Timur Tengah sehingga hal ini menjadi dasar pembentukan institusi yang dapat digunakan untuk aksi kolektif regional. Selain itu, peristiwa dollar decline oleh negara Barat juga menyebabkan kerjasama menjadi penting. Maka dengan adanya identitas baru dan peningkatan kerjasama tersebut, negara-negara Asia Timur muncul sebagai kekuatan baru yang dapat merubah tatanan dunia internasional saat ini.

Dapat disimpulkan bahwa negara-negara di wilayah Asia Timur khususnya tiga negara besarnya yakni Tiongkok, Korea, dan Jepang memiliki kedekatan baik dari aspek geografis, sejarah, hingga identitas. Ketiganya memiliki sifat homogen yang mana masyarakatnya terdiri dari leluhur yang sama. Kemudian di wilayah Tiongkok muncul paham konfusianisme yang didasari oleh kebaikan luhur manusia. Tiongkok menganggap dirinya adalah pusat dunia sehingga wilayah lain harus tunduk dan patuh terhadap nilai-nilai konfusian. Tiongkok dan Korea ingin mempertahankan otonominya dengan menganut paham tersebut, meski pada akhirnya keduanya harus menjalin kerjasama dengan Jepang dan negara Barat untuk dapat bertahan. Sedangkan Jepang cenderung berorientasi pada nilai material dan kepentingannya sendiri sehingga strategi yang digunakan adalah mengakui sistem Westphalia dan melakukan ekspansi dengan mencari koloni-koloni. Di era kontemporer saat ini, ketiganya mulai tumbuh secara interdependen, terhubung, dan kohesif secara sosial dan ekonomi meski memiliki sejarah panjang dan perbedaan geopolitik dari periode sebelumnya. Penulis beropini bahwa dengan kerjasama intens yang dilakukan ketiga negara tersebut, maka mereka dapat muncul sebagai kekuatan baru yang dapat mengancam eksistensi dari negara Barat yang selama ini telah menguasai pasar ekonomi dan kebijakan-kebijakan politik dunia.

Referensi:

Calder, K & Ye, Min. 2010. The Making of North East Asia. Stanford: Stanford University Press.

Barnes, Gina L..1993. China, Korea, and Japan: the Rise of Civilization in East Asia. London: Themes and Hudson Ltd

Krasner, Stephen D. 2001. “Organized Hypocrisy in Nineteenth-Century East Asia” dalam International Relations of the Asia-Pacific. Vol.1