Globalisasi telah menyebabkan hilangnya batas-batas ruang dan waktu di dunia sehingga membuat dunia seolah-olah menyempit dan dapat mempermudah akses ke bagian lain di dunia dalam waktu yang singkat. Hal ini membawa dampak dan perubahan ke berbagai bidang, termasuk ekonomi. Di era globalisasi, persaingan internasional memberi modifikasi dan perubahan pada proses produksi global dan perdagangan dunia (Gereffi, 2013). Dewasa ini, Multinational Cooperation (MNC) memegang peranan yang besar dalam tatanan perekonomian dunia. Setelah sebelumnya penulis menjabarkan strategi pemasaran dalam sebuah perusahaan multinasional, dalam tulisan ini penulis akan membahas global supply chain dan global value chain yang diterapkan oleh perusahaan. Kemudian penulis akan memaparkan hubungan dampak dari rantai suplai global dengan perekonomian di masing-masing negara dengan memberikan contoh studi kasus.

Fungsi operasi, pemasaran, dan finansial merupakan bagian inti dari sebuah perusahaan. Fungsi operasional dapat dipahami sebagai fungsi atau sistem yang mentransformasi input menjadi output yang memiliki nilai yang lebih besar (Ivanov, Tsipoulanidis & Schonberger, 2017). Transformasi yang dimaksud merujuk pada proses atau cara berpikir terkait manajemen operasi yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam perkembangannya, manajemen operasi dalam perusahaan multinasional mengalami perubahan sejak tahun 1960-an yang awalnya producer-driven menjadi customer-driven. Di masa ini, perusahaan mulai memasuki supply chain untuk mencari tenaga kerja murah dan supplier dari berbagai wilayah di dunia (Gereffi, 2013). Kemudian setelah pasar telah penuh dengan produk baru, maka kualitas menjadi hal yang esensial. Di tahun 1980-an, kualitas menjadi tantangan besar bagi perusahaan. Tren ini disebut dengan speed effect yang secara sederhana dapat dipahami sebagai cepatnya reaksi pasar terhadap suatu produk dapat memengaruhi proses operasi perusahaan produsen produk tersebut (Ivanov, Tsipoulanidis, & Schonberger, 2017). Untuk menghadapi hal ini, perusahaan dari negara maju telah mencoba bergabung dengan para manufaktur dari seluruh dunia untuk mencari supplier offshore (Gereffi, 2013).

Lebih lanjut, setelah tahun 1990-an, perusahaan mulai berkonsentrasi pada pengembangan yang ditujukan untuk kompetensi dasar sebagai perusahaan multinasional seperti outsourcing, inovasi, dan kolaborasi. Secara geografis terdapat perubahan dari pengaturan produksi regional menjadi global sepenuhnya (Gereffi, 2013). Tren ini khususnya disebabkan oleh adanya globalisasi, perkembangan teknologi, dan proses integrasi menuju ekonomi global. Hal ini kemudian mengarah ke pembentukan global value chain yakni jaringan organisasi ketika terdapat beberapa perusahaan yang berkolaborasi bersama untuk mendapat bahan mentah, kemudian mengubahnya menjadi produk akhir dengan penambahan nilai (Ivanov, Tsipoulanidis, & Schonberger, 2017). Sejak tahun 2000-an, rantai produksi global tidak hanya terpaku pada produksi produk akhir namun juga komponen-komponennya sehingga tidak hanya melibatkan industri manufaktur namun juga sektor energi, produksi makanan, dan jasa (Gereffi, 2013). Dengan demikian, manajemen supply chain menjadi lebih kompleks karena membutuhkan departemen dan perusahaan yang bervariasi agar dapat berintegrasi dan berkoordinasi baik dalam hal material, informasi, dan finansial. Supply chain yang baik kemudian dapat mengintegrasikan elemen-elemen tersebut secara keseluruhan baik dari proses pengambilan bahan mentah, proses transformasi, hingga menghasilkan produk akhir. Dengan kata lain, globalisasi telah membuka hubungan antara supplier dengan perusahaan di luar pasar domestik konsumen (Czinkota & Ronkainen, 2013).

Global supply chain tidak hanya berpengaruh terhadap eksistensi perusahaan namun juga ekonomi negara-negara di dunia secara spesifik. Pada dasarnya, Gereffi (2013) menjelaskan bahwa bergabungnya suatu negara atau perusahaan ke dalam global supply chain pasti didasari oleh potensi keuntungan yang lebih baik dibandingkan jika terpaku pada kawasan regional saja, contohnya seperti adanya pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi dan biaya produksi yang lebih rendah. Pada awalnya, negara maju menganggap industrialisasi harus dimulai di negara asal terlebih dahulu, hingga kemudian meluas hingga ke negara lain. Namun, saat ini negara berkembang dapat memulai industrialisasi ke dalam global supply chain secara langsung tanpa harus memiliki basis industrial yang kuat di negara asalnya (Gereffi, 2013). Dalam hal ini, penulis mengambil contoh negara Tiongkok untuk menjelaskan pengaruh global supply chain terhadap perekonomiannya.

Sejak tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai rata-rata 8 persen per tahun hingga pada tahun 2002, Tiongkok menjadi negara dengan ekonomi terbesar keenam di dunia (Hong, Noh, & Hwang, 2006). Dijelaskan lebih lanjut bahwa satu indikasi meningkatnya investor di Tiongkok tercermin dalam peningkatan Foreign Direct Investment (FDI) sejak kebijakan keterbukaannya di tahun 1980-an. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan Tiongkok ke dalam global supply chain berpengaruh terdapat peningkatan GDP Tiongkok. Dari perspektif global supply chain, pasar Tiongkok memberikan kesempatan besar sebagai supplier barang mentah, manufaktur komponen, hubungan logistik, dan konsumen akhir (Hong, Noh, & Hwang, 2006). Lebih lanjut, terdapat dua faktor yang diperhatikan perusahaan sebelum memasuki negara baru yakni derajat manajemen asing dan kontrol kepemilikan. Di Tiongkok sendiri, manajemen asing pada awal masuknya perusahaan asing adalah sangat tinggi, hingga kemudian mengalami penurunan secara bertahap seiring dengan partisipasi Tiongkok dalam proses produksinya. Perusahaan asing kemudian juga dapat merasakan keuntungan dari penurunan tersebut yakni penerapan praktik manajemen yang lebih efektif melalui manajer dari Tiongkok (Hong, Noh, & Hwang, 2006). Demikian pula dengan kepemilikan, pada awalnya sangat tinggi hingga seiring dengan berjalannya waktu, Tiongkok mulai memiliki bargaining power hingga dapat menuntut pembagian yang lebih besar.

Referensi:

Czinkota, Michael R dan Ronkainen, Ilkka A. 2013. “Global Distribution and Logistics” dalam International Marketing. United States of America: Cengage Learning.

Gereffi, Gary. 2013. “Global Value Chains in a Post-Washington Consensus World” dalam Review of International Political Economy, Vol. 21, No. 1, pp. 9-37

Hong, Paul, Noh, Jungbae, dan Hwang, Woosang. 2006. “Global Supply Chain Strategy: A Chinese Market Perspective” dalam Journal of Enterprise Information Management, Vol. 19, Issue: 3, pp. 320-333

Ivanov, Dmitry, Tsipoulanidis, Alexander, dan Schonberger, Jorn. 2017. “Basics of Supply Chain and Operations Management” dalam Global Supply Chain and Operations Management: A Decision-Oriented Introduction to the Creation of Value. Switzerland: Springer

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com