Dinamika tatanan internasional yang terus berkembang dari masa ke masa mempengaruhi perubahan dan pergeseran yang terjadi pada fokus isu atau konflik yang ada baik di tingkat nasional maupun internasional. Perkembangan globalisasi khususnya pasca Perang Dingin menunjukkan adanya penurunan intensitas dalam konflik-konflik yang menggunakan alat militer dan kekerasan. Namun, hingga saat ini konflik kekerasan masih terjadi di beberapa wilayah sehingga masih memiliki signifikasi dan urgensi untuk dianalisis dan dipelajari lebih lanjut. Salah satu konflik kekerasan yang paling berpengaruh terhadap perubahan dan dinamika masyarakat dunia, serta meninggalkan kerugian yang besar dalam berbagai aspek khususnya kemanusiaan adalah genosida. Maka dari itu, diperlukan pemahaman lebih lanjut  agar genosida dapat dicegah dan diatasi dengan strategi yang efektif.

Pada dasarnya praktek genosida telah terjadi sejak lama, namun genosida baru mendapat rekognisi dari masyarakat dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 9 Desember 1948 dengan diadakannya Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide (Roth, 2010). Sebelumnya, genosida tidak memiliki nama yang spesifik dan tidak diakui keberadaannya dalam kode kriminalitas internasional. Istilah “genosida” sendiri diperkenalkan oleh Raphael Lemkin yang merujuk pada peristiwa di Rwanda pada tahun 1994 yang mana ia mengidentifikasi genosida sebagai sebuah perkembangan baru sekaligus praktik lama. PBB kemudian mendefinisikan genosida sebagai serangkaian tindakan dengan komitmen dan intensi untuk menghancurkan suatu negara, etnis, ras, atau kelompok religius baik secara keseluruhan maupun sebagian (Roth, 2010). Sedangkan Staub (2000) memiliki definisi lain yakni usaha-usaha untuk mengeliminasi baik secara langsung melalui pembunuhan atau secara tidak langsung dengan menciptakan kondisi yang dapat mengarah pada pemusnahan suatu kelompok tertentu. Adanya perbedaan-perbedaan definisi dari genosida kemudian memunculkan ambiguitas dalam pengelompokan peristiwa yang termasuk kedalam genosida atau tidak. Hal ini kemudian dapat dimanfaatkan oleh para penggerak genosida yang bergerak secara tersembunyi sehingga diperlukan pemahaman dan penjelasan yang lebih mendalam.

Faktor-faktor penyebab dan motif terjadinya genosida dapat dianalisis dari peristiwa-peristiwa genosida yang terjadi sebelumnya. Pada dasarnya manusia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya, yang mana hal ini dapat dicapai dengan membentuk kelompok-kelompok dengan tujuan yang sama. Untuk mendapatkan rekognisi dan bahkan dominasi tertentu, berbagai cara dapat dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut, salah satunya kekerasan. Tindakan-tindakan tersebut kemudian memerlukan ideologi tertentu untuk menjustifikasi perilaku yang mendiskriminasi dan mengasingkan orang-orang yang bukan anggota kelompoknya, yang mana hal ini dapat mengarah ke terjadinya genosida dan pembunuhan massal (Staub, 2000). Beberapa faktor pemicu terjadinya genosida menurut Staub (2000) antara lain adanya hambatan-hambatan dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, serta faktor kepentingan. Jonassohn dan Chalk dalam Roth (2010) berargumen bahwa genosida setidaknya memiliki satu hingga empat tujuan utama yakni untuk mengeliminasi kelompok yang dianggap mengancam, untuk menyiarkan teror, untuk mendapat kekayaan ekonomi, dan untuk mengimplementasikan ideologi tertentu. Sedangkan menurut Mirkovic (1996), genosida lebih mengarah pada konflik yang didasari oleh faktor politik dan ideologis untuk memperebutkan kekuasaan dan sumber daya. Merujuk pada konflik genosida Serbia-Kroasia, Mirkovic menganggap bahwa nasionalisme yang muncul pasca runtuhnya Yugoslavia dan lahirnya negara-negara yang merdeka dan bebas berdaulat, juga dapat memunculkan potensi genosida karena diikuti oleh pandangan chauvinisme dan xenophobia. Namun hal ini cukup bertentangan dengan pernyataan Staub (2000) yang memandang bahwa negara yang monarki dan otoriter justru cenderung melakukan genosida jika dibandingkan dengan negara yang demokratis. Selain itu, penulis menilai bahwa genosida dalam kasus Serbia dan Kroasia lebih disebabkan oleh faktor historis, bukan rasa nasionalisme itu sendiri.

Kompleksitas genosida mendorong munculnya strategi-strategi agar genosida dapat dicegah dan dihindari. Staub (2000) memaparkan bahwa pertama, penting untuk mengadakan penolakan terhadap kekerasan yang dapat dilakukan oleh organisasi internasional seperti PBB atau pemimpin-pemimpin dunia yang memiliki pengaruh besar. Hukuman seperti sanksi politik dan boikot ekonomi juga dapat diterapkan bagi negara-negara yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Kedua, pencegahan dapat dilakukan dengan meningkatkan pengembangan ekonomi. Kesempatan yang sama dalam bisnis dan perdagangan dapat memunculkan keinginan untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama. Terakhir, penting untuk melakukan penyembuhan dan rekonsiliasi terhadap kelompok-kelompok yang memiliki sejarah genosida dengan memberi empati dan menunjukkan sisi kemanusiaan dari masyarakat dunia agar rasa saling percaya dapat terbentuk (Staub, 2000). Selain itu, genosida juga membutuhkan peran bystanders seperti media dan masyarakat sipil untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman genosida.

Dapat disimpulkan bahwa genosida merupakan salah satu bentuk konflik kekerasan yang telah terjadi sejak lama dan mengalami dinamikanya sendiri. Genosida merupakan suatu permasalahan yang kompleks karena tidak hanya melibatkan aspek kemanusiaan dan etnis, namun juga didasari oleh faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Maka dari itu, pemahaman mengenai genosida harus terus diperbarui karena dapat dipengaruhi oleh dinamika dan situasi konflik dunia dari masa ke masa. Penulis beropini bahwa genosida dapat memberi efek pada berbagai lapisan dalam struktur masyarakat sehingga penting untuk menekankan bahwa genosida harus secepatnya dihapuskan dan ditinggalkan. Meski pada umumnya genosida hanya terjadi di satu wilayah tertentu saja, namun genosida berkaitan dengan sisi kemanusiaan sehingga dapat menjadi permasalahan bersama dan perlu mendapat perhatian lebih dari masyarakat internasional.

Referensi:

Mirkovic, Damir. 1996. “Ethnic Conflict and Genocide: Reflections on Ethnic Cleansing in the Former Yugoslavia” dalam The Annals of the American Academy of Political and Social Science, Vol. 548. pp. 191-199. Sage Publications.

Roth, John K. 2010. “Easy to Remember? Genocide and the Philosophy of Religion” dalam International Journal for Philosophy of Religion, Vol. 68, No. 1/3, pp. 31-42. Springer.

Staub, Ervin. 2000. “Genocide and Mass Killing: Origins, Prevention, Healing and Reconciliation” dalam Political Psychology, Vol. 21, No. 2. pp. 367-382. International Society of Political Psychology.

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com