Fundamentalisme religius atau fundamentalisme agama merupakan salah satu tipe fundamentalisme yang paling terkemuka karena merupakan tipe yang tertua dan umumnya nilai-nilai yang dipercayai oleh kaum fundamentalis berakar dari nilai-nilai keagamaan. Namun, pada masa kini agama telah berkembang menjadi salah satu bentuk stigma negatif yang dianggap dapat menginisiasi dan menjadi dasar untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan seperti terorisme. Stigma negatif tersebut pada dasarnya merupakan akibat dari peristiwa 9/11 yakni peristiwa pembajakan pesawat terbang yang kemudian ditabrakkan ke gedung World Trade Center di Washington D.C, yang mana hal ini dipandang sebagai hasil dari perbuatan kaum fundamentalis agama dan seringkali dikaitkan dengan tindakan terorisme. Istilah “war on terror” yang kemudian dinyatakan oleh Presiden Amerika Serikat pada masa itu, George W. Bush kemudian secara tidak langsung menyerukan bahwa fundamentalisme agama dapat menjadi ancaman bagi perdamaian dunia dan keamanan internasional. Oleh karenanya, fundamentalisme agama itu sendiri mulai memiliki citra buruk di masyarakat. Tidak jarang ditemui penolakan terhadap imigran dan pendatang yang berasal dari agama tertentu karena citra buruk yang ada. Berkaitan dengan peristiwa 9/11, fundamentalisme agama itu sendiri mulai menjadi diskursus yang menarik perhatian tersendiri di dunia internasional. Lantas, tulisan ini akan membahas mengenai keterkaitan antara fundamentalisme agama dan modernitas di era globalisasi saat ini, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai diskursus fundamentalisme agama dalam dinamika politik global, dan diakhiri dengan pembahasan mengenai masa depan perpolitikan dunia dengan adanya eksistensi fundamentalisme agama yang semakin meluas.

Keterkaitan Modernitas dan Fundamentalisme Religius

Sebelum memahami keterkaitan antara modernitas dan fundamentalisme religius pasca peristiwa 9/11, penting untuk mengetahui pemahaman dan definisi mendalam terkait kedua konsep tersebut. Menurut Scholte (t.t, 17), modernitas yang terjadi di dunia dapat mencakup beberapa aspek antara lain modernisasi ideologi, modernisasi ekonomi, dan modernisasi keterkaitan sosial. Terkait fundamentalisme agama, tipe modernisasi yang dimaksud adalah modernisasi ideologi, yang dicetuskan oleh Max Weber di tahun 1990-an dan berkaitan dengan penemuan-penemuan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipandang dapat mendorong masyarakat untuk semakin menggeser kepercayaannya pada pengetahuan, bukan pada agama lagi. Dengan kata lain, agama dan tradisi-tradisi keagamaan dikategorikan sebagai bentuk kepercayaan tradisional karena tidak berbasis pada rasionalitas dan ilmu pengetahuan, namun berbasis pada kitab suci dan ajaran-ajaran tradisional. Emerson dan Hartman (2006 :129) memaparkan bahwa modernitas berjalan beriringan dengan pluralisme kultural, yang kemudian dapat menghapus aspek agama dari konteks masyarakat seperti kebijakan pemerintah, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Dengan demikian, proses modernisasi kemudian mulai menekan peran agama di masyarakat dan semakin meningkatkan aspek individualitas.

Sementara itu, fundamentalisme agama dapat dipahami sebagai bentuk kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai yang tertulis pada kitab suci dari kepercayaan atau agama tertentu (Beary, 2009: 32). Dalam konteks modernitas, fundamentalisme dengan basis agama dapat didefinisikan sebagai basis kognitif dan orientasi efektif yang ditujukan pada dunia sebagai bentuk protes terhadap perubahan dan orientasi ideologis dari modernisasi (Antoun dalam Emerson dan Hartman, 2006: 130). Sedangkan dari sudut pandang sekuleritas, fundamentalisme adalah reaksi dan upaya radikal untuk mendapatkan kekuasaan dan mengarahkan masyarakat kembali ke masa-masa kegelapan yang melibatkan tindakan opresif, patriarkis, dan intoleransi. Sehingga, dari sisi modernitas terdapat pandangan bahwa fundamentalisme pada dasarnya mengandung unsur-unsur yang negatif dan membahayakan, sedangkan kaum modernis adalah orang-orang baik, rasional, menganut kebebasan, dan memperjuangkan hak-hak manusia (Emerson dan Hartman, 2006: 131). Dengan demikian, dapat dilihat bahwa sejatinya fundamentalisme dan modernitas memiliki keterkaitan yang kuat meski memercayai nilai-nilai yang saling bertolak belakang. Kedua konsep tersebut memiliki basis kepercayaan yang berbeda, sehingga wajar adanya bila terjadi perpecahan di antara keduanya karena terdapat efek kausalitas yang terjadi akibat kemunculan modernitas dan fundamentalisme agama di masa kini.

Diskursus Fundamentalisme Religius dalam Dinamika Politik Global

Menurut Beary (2009: 29), di era globalisasi saat ini terdapat bukti-bukti bahwa fundamentalisme agama merupakan salah satu paham yang semakin berkembang dan tumbuh di seluruh dunia, serta tidak hanya fundamentalisme Islam namun juga Kristen, Yahudi, dan Hindu di negara-negara tertentu. Ia menegaskan lebih lanjut bahwa kaum fundamentalis menginginkan adanya purifikasi atau pemurnian terhadap nilai-nilai keyakinan yang dianggap telah tercemar oleh nilai-nilai modernisasi yang merujuk pada nilai-nilai sekulerisme. Menilik lebih dalam, para penstudi masih menemui perdebatan terkait faktor-faktor penyebab cepatnya penyebaran fundamentalisme agama di era globalisasi saat ini. Namun terdapat anggapan mayoritas yang menyatakan bahwa fundamentalisme agama muncul sebagai bentuk penolakan terhadap gaya konsumerisme dan multikulturalisme Barat yang dianggap menyimpang dari ajaran-ajaran fundamental yang dianutnya. Sebagaimana Gorenberg (dalam Green, 2009: 35) yang menyatakan bahwa fundamentalisme merupakan bentuk reaksi baru terhadap modernitas yang ada di dunia. Bahkan, beberapa penstudi menganggap bahwa fundamentalisme tidak akan berkembang tanpa adanya modernitas (Emerson dan Hartman, 2006: 127). Sebagai contoh, Sayyid Qutb, pendiri Muslim Brotherhood di Mesir menganggap bahwa konsep emansipasi wanita di masa modern dapat disandingkan dengan perilaku “kehewanan” karena vulgaritas pencampuran gender perempuan dan laki-laki di masyarakat. Munculnya sentimen-sentimen demikian kemudian dapat menjadi pemersatu kaum fundamentalis di dunia untuk menentang aspek-aspek modernitas yang dibawa oleh bangsa Barat.

Lebih lanjut, Barkun (2003: 57) menyatakan bahwa opini publik telah terbentuk secara global bahwa fundamentalisme agama merupakan salah satu penyebab munculnya terorisme yang berbahaya. Melalui hal tersebut, kemudian dapat dilihat bahwa fundamentalisme agama menjadi diskursus dalam politik global yang menjadi justifikasi oknum-oknum tertentu untuk mencapai kepentingan-kepentingan politik mereka. Masmoudi (dalam Beary, 2009: 33) menyatakan bahwa kelompok ekstrimis radikal seperti Al-Qaeda di balik peristiwa 9/11 hanya memiliki pandangan yang memperjuangkan kepentingan minoritas fundamentalisme Islam, yang tentu tidak mencerminkan dan bertolak belakang dengan kepentingan mayoritas Islam yang berisi nilai-nilai saling menghormati kepercayaan satu sama lain serta menjunjung tinggi perdamaian antar umat. Dengan kata lain, tindakan Al-Qaeda yang melawan nilai-nilai Barat melalui tindakan radikal sama sekali tidak mencerminkan pemurnian nilai-nilai Islam dan tidak dapat dikatakan sebagai bentuk representatif dari keinginan umat Muslim di dunia. Al-Qaeda tidak pula mencerminkan opini mayoritas di antara kelompok berbasis agama yang menginginkan kehidupan masyarakat yang damai (Beary, 2009: 35). Selain itu, pelabelan terorisme sebagai bentuk implementasi fundamental dari kelompok agama tertentu memunculkan sikap diskriminasi dan ketidakadilan bagi penganut agama tersebut. Jika dilihat diskursusnya dengan politik global, Losurdo (2004: 2) mengatakan bahwa fundamentalisme sejatinya merupakan paham yang meyakini bahwa seharusnya prinsip politik global berasal dari ayat-ayat suci dan bertujuan untuk memberikan legitimasi pada norma-norma sekuler yang lama dan menjadi pedoman sehari-hari. Dengan demikian, dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa kini, dalam diskursus politik global terdapat pandangan bahwa fundamentalisme agama membawa dampak negatif dan membahayakan, meski pada dasarnya, nilai-nilai fundamentalisme dari setiap agama yang ada di dunia tidak mengajarkan tindak-tindak kekerasan, terlebih terorisme. Sehingga, fundamentalisme agama tidak dapat selalu dikaitkan dengan radikalisme dan ekstrimisme.

Masa Depan Politik Global di Tengah Penyebaran Fundamentalisme Religius

Berkaitan dengan pemaparan sebelumnya, jika membahas mengenai masa depan politik global pasca peristiwa 9/11 dan kaitannya dengan fundamentalisme agama, Barkun (2003: 66) menyatakan bahwa fundamentalisme agama akan tetap mendominasi dan menyebar dengan luas di seluruh dunia. Hal tersebut dikarenakan dengan perkembangan dan modernitas yang kian berkembang dengan pesat, kelompok fundamentalisme ekstrim tidak akan tinggal diam dan tetap akan berupaya untuk melakukan aksinya demi mencapai tujuan-tujuannya. Pergerakan fundamentalisme agama tetap memiliki tujuan yang sama yakni untuk memurnikan militant melalui doktrin agama, serta membentuk kembali perilaku personal, sosial, dan masyarakat agar selalu sesuai dengan ajaran-ajaran keagamaan yang berbasis pada kitab suci. Selain itu, fundamentalisme kemudian dipandang dapat menciptakan kecenderungan untuk membentuk suatu identitas baru yang bersifat tertutup dan tidak fleksibel dikarenakan kuatnya keyakinan dan prinsip yang dijunjungnya, sehingga memberi dampak terhadap penyempitan pemikiran terhadap hal-hal baru yang sesungguhnya dapat memberikan perubahan yang positif.

Lebih lanjut, masih berkaitan dengan identitas, Schafer (2004: 428) menyatakan bahwa fundamentalisme agama berkaitan erat dengan identitas, sehingga modernitas yang dipandang dapat mengancam identitas religius masyarakat dapat terus menyebabkan konflik di dunia dan hal tersebut merupakan hal yang wajar terjadi. Hal ini merujuk pada karakteristik fundamentalisme agama yang sejatinya bersifat kaku dan memercayai unsur ketuhanan yang subjektif dan sulit untuk diterima oleh semua orang yang ada di dunia. Keberagaman identitas tersebut kemudian juga dapat dikaitkan pada konflik kekuasaan dan politik di tingkat domestik, regional, hingga global sehingga masa depan perpolitikan global akan sangat memungkinkan untuk dipenuhi dengan konflik-konflik terkait agama, baik yang bersifat radikal dan ekstrim, maupun yang bersifat soft dan damai. Maka untuk masa depan, dapat dilihat bahwa selama modernisasi masih memberikan premis-premis barunya terhadap kehidupan masyarakat, maka fundamentalisme agama akan selalu hadir sebagai anti-tesisnya.

Kesimpulan

Mengacu pada pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa pasca peristiwa 9/11, fundamentalisme agama mulai mendapat perhatian lebih pada studi Hubungan Internasional di tingkat global karena dianggap telah memberi diskursus baru pada dinamika perpolitikan global. Secara istilah, fundamentalisme agama dan modernitas memiliki nilai-nilai yang saling bertolak belakang karena fundamentalisme agama berbasis pada kitab suci dan modernitas berbasis pada teknologi dan ilmu pengetahuan. Pergeseran nilai-nilai seperti konsumerisme, individualism, sekuleritas, dan multikulturalisme kemudian memicu adanya tindakan dari kaum fundamentalis untuk memurnikan kembali ajaran-ajaran luhurnya serta memasukkan nilai-nilai keagamaan kembali dalam kehidupan sosial masyarakat. Hal ini seringkali menimbulkan stigma negatif dari masyarakat yang memandang bahwa fundamentalisme agama mendorong pengikutnya untuk bertindak radikal dan melakukan tindakan-tindakan kekerasan seperti terorisme khususnya pasca peristiwa 9/11. Akan tetapi, pada dasarnya penting untuk mengetahui bahwa paham fundamentalisme tidak mengajarkan kekerasan, justru menjunjung tinggi nilai perdamaian. Penulis memandang bahwa kunci dari konflik fundamentalisme agama dan modernitas adalah perbedaan nilai yang dianut oleh kedua kelompok, sehingga muncul rasa ketidaksukaan dan upaya-upaya untuk saling memengaruhi satu sama lain. Namun, penulis dengan tegas menyatakan bahwa fundamentalisme agama tidak dapat disamakan dengan radikalisme, terlebih terorisme, karena tindakan-tindakan tersebut meski mengklaim penggunaan nilai keagamaan sebagai basis pergerakannya, namun pada dasarnya bukanlah inti dari fundamentalisme agama itu sendiri.

Kata Kunci: Fundamentalisme Religius, Modernitas, Politik Global

Referensi:

Barkun, Michael. 2003. “Religious Violence and the Myth of Fundamentalism” dalam Leonard Weinberg dan Ami Pedahzur (eds), Religious Fundamentalism and Political Extremism: Totalitarian Movements and Political Religions, Vol. 4, No. 3, Winter 2003

Beary, Brian. 2009. “Religious Fundamentalism: Does it Lead to Intolerance and Violence?” dalam Global Researcher, Vol. 3, No. 2

Emerson, Michael O., dan David Hartman. 2006. “The Rise of Religious Fundamentalism” dalam Annual Review of Sociology, Vol. 32, pp. 127-144

Losurdo, Dominico. 2004. “What is Fundamentalism?” dalam Nature, Society, and Thought. Minneapolis: University of Minnesota. Vol. 17, No. 1, pp. 5-46

Schafer, Heinrich. 2004. “The Janus Face of Religion: On the Religious Factor in “New Wars”. Dalam Numen, Vol. 51, No. 4, pp. 407-431

Scholte, Marijn. t.t “The Influence of Modernization on Religious Behavior in Europe from 1975-1998” Nijmegen: Radboud University

Ditulis oleh: Divany Nadila R