Selama ini, paham fundamentalisme khususnya fundamentalisme agama merupakan paham dengan nilai-nilai dan prinsip dasar yang seringkali dipandang bertentangan dengan konsep modernitas, pluralisme, dan toleransi dalam masyarakat. Terlebih dengan perkembangan fundamentalisme yang semakin pesat dengan adanya kemudahan transportasi yang berujung pada peningkatan migrasi di dunia hingga teknologi komunikasi, signifikasi pembahasan mengenai fundamentalisme di era globalisasi semakin meningkat. Dengan adanya perbedaan nilai dasar yang dianut oleh kelompok-kelompok fundamentalis dan kelompok-kelompok modernis, maka dibutuhkan suatu sistem dan metode spesifik untuk menengahi hal ini dan menciptakan harmoni di dunia. Dialog antar agama kemudian muncul sebagai bentuk upaya pencegahan konflik-konflik keagamaan di dunia. Meski dialog bukanlah hal yang baru lagi karena telah digunakan sejak zaman peperangan di masa lampau, namun dialog antar agama dipandang sebagai salah satu solusi yang dapat digunakan untuk menanggulangi konflik-konflik keagamaan yang berkaitan dengan paham fundamentalisme di dunia. Dialog antar agama telah mengalami intensifikasi yang meningkat pada tahun-tahun terakhir dan telah terjadi di berbagai negara yang menyadari bahwa perbedaan agama bukanlah faktor pemecah masyarakat, melainkan justru dapat digunakan sebagai media untuk memersatukan masyarakat di tengah perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan demikian, tulisan ini akan membahas lebih lanjut definisi dan pemahaman mendalam mengenai dialog antar agama di masyarakat. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai signifikasinya dalam membangun toleransi beragama hingga dapat menciptakan perdamaian dunia.

Definisi Dialog Antar Agama

Menurut Nyang (dalam Takim, 2004: 345), dialog dapat dipahami sebagai proses ketika anggota dari dua atau lebih komunitas religius berupaya untuk membangun jembatan antar kelompok-kelompok mereka melalui pembahasan dan pengkajian mengenai isu-isu dasar kehidupan, baik secara individu maupun kelompok, untuk membawa pemahaman dan membuka wawasan di antara kedua belah pihak tidak hanya dalam hal definisi namun juga dalam hal perilaku terhadap keyakinan, tradisi, dan ritual masing-masing. Sedangkan menurut Carr (2007: 2), dialog dalam konteks keagamaan dapat diartikan sebagai seluruh hubungan antar agama yang positif dan konstruktur baik dengan individu maupun kelompok yang ditujukan untuk saling memahami satu sama lain serta saling menghormati kebenaran dan kebebasan. Dengan kata lain, dapat dipahami dari penjelasan di atas bahwa dialog antar agama mengajak perwakilan-perwakilan dari agama-agama yang ada untuk berkumpul bersama, saling mendengarkan dan mengutarakan pemikiran masing-masing agar tercipta harmoni, muncul rasa saling hormat, dan saling kesepahaman dari semua pihak yang terlibat. Takim (2004: 346) menambahkan bahwa dialog antar agama juga dapat diterapkan untuk menghindari kesalahpahaman, meningkatkan kepercayaan, dan menghilangkan stigma negatif yang sebelumnya ada.

Lebih lanjut, praktik dialog antar agama dapat dimulai dengan pengutaraan self-definition yakni proses ketika kelompok atau individu menyampaikan keyakinan yang dianutnya dan komitmennya dalam meyakini tradisi agama tersebut dengan baik. Kesuksesan dari dialog antar agama kemudian dapat dinilai dari kemauan dan pengertian antar mitra dialog yang terlibat untuk menerima self-definition tersebut (Takim, 2004: 347). Secara historis, dialog antar agama pada mulanya diawali oleh umat Muslim untuk menyelesaikan konflik-konflik dalam kelompoknya, hingga kemudian diikuti oleh agama-agama lain untuk menyelesaikan konflik antar agama melalui pengiriman perwakilan-perwakilan dari masing-masing kelompok agama. Dialog dipandang dapat mewadahi pemahaman dari masing-masing agama dan diharapkan dapat membentuk peaceful coexistence melalui proses berbagi pengalaman. Mandour (2010: 889) menjelaskan bahwa cara dialog dapat membuat semua pihak mengetahui jalan pikir dan apa yang sebenarnya terjadi secara jujur, tanpa upaya menutupi kebenaran, sehingga mampu memaklumi keputusan atau langkah yang diambil.

Signifikansi Dialog Antar Agama dalam Membangun Toleransi Beragama

Berkaitan dengan penjelasan sebelumnya, salah satu tujuan dialog antar agama adalah untuk menumbuhkan dan membangun sikap toleransi beragama di masyarakat, khususnya di era globalisasi ketika terjadi pencampuran tempat tinggal antar umat beragama. Takim (2004: 348) memaparkan bahwa dalam proses dialog, orang-orang yang terlibat tidak lagi hanya berperan sebagai representatif dari tradisi agama tertentu, namun berkumpul bersama sebagai manusia dengan derajat yang setara. Toleransi kemudian dapat muncul dari perasaan tersebut karena interaksi dan pembicaraan yang terjadi mengingatkan kembali kepada posisi mereka sebagai manusia di dunia. Selain itu, esensi dari dialog antar agama itu sendiri adalah keinginan untuk saling terbuka dan memahami satu sama lain dengan mengesampingkan stigma-stigma negatif yang telah beredar sebagai dasar untuk berdialog. Dalam dialog antar agama, akan muncul pernyataan-pernyataan kebenaran yang sesuai dengan ajaran dan nilai agama yang dianut oleh masing-masing pihak tanpa adanya unsur prasangka buruk dan asumsi-asumsi (Takim, 2004: 347).

Melalui dialog antar agama, toleransi dapat tercipta dari penggalian nilai-nilai keyakinan yang akan semakin membuka wawasan dan pemahaman lebih dalam mengenai agama-agama yang ada, serta menunjukkan bahwa pada dasarnya setiap agama yang ada di dunia menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan (Takim, 2004: 347). Kemampuan hasil dialog untuk mengubah cara pandang dan persepsi-persepsi dari suatu komunitas terhadap komunitas lainnya merupakan komponen penting dalam mengarahkan perbedaan latar belakang kepercayaan agama menuju sebuah bentuk toleransi antar umat. Takim (2004: 348) memaparkan lebih lanjut bahwa tujuan utama dari penerapan dialog antar agama bukanlah untuk mencapai kesepakatan yang bersifat doktribal, namun untuk meningkatkan pengertian dan toleransi dari pihak-pihak yang berbeda paham. Oleh karenanya, dialog antar agama dapat memberikan kesadaran dan kepedulian dari masing-masing pihak yang terlibat untuk tidak menilai suatu kepercayaan dari luarnya saja.

Gullen (dalam Shadi, 2007: 289) menyebutkan bahwa dialog antar agama dapat menciptakan toleransi beragama karena memiliki lima tujuan utama. Pertama, dialog dapat menyelamatkan manusia modern dari materialisme karena kerjasama antar agama dapat menyeimbangkan dunia spiritual dan material, yang mana hal ini dapat menciptakan kehidupan yang lebih harmonis. Kedua, sebagai sumber yang sama dari semua agama karena di luar cara implementasi kepercayaan seseorang, namun pada dasarnya semua agama berupaya menerapkan nilai-nilai cinta, penghormatan, toleransi, pengampunan, hak manusia, perdamaian, persaudaraan, dan kebebasan. Ketiga, perintah dialog telah tercantum dalam Al-Quran sebagai bentuk toleransi antar umat beragama dengan tidak mencampuri urusan agama lain serta dapat hidup secara damai dan berdampingan. Keempat, toleransi religius sebagai tujuan kehidupan manusia yang mana diversitas dipandang sebagai hal penting dalam kehidupan manusia agar manusia dapat saling menghargai keunikan yang dimiliki masing-masing individu dan kelompok. Terakhir, cinta sebagai esensi utama dari toleransi, yang mana hal ini terinspirasi dari Sufisme Islam yang menunjukkan bahwa cinta adalah power terbesar yang dimiliki manusia dan dapat digunakan untuk menghapuskan segala konflik yang ada (Gullen dalam Sadhi, 2007: 292).

Signifikansi Dialog Antar Agama dalam Menciptakan Perdamaian Dunia

Tidak hanya berhenti pada pembangunan toleransi beragama di masyarakat, dialog antar agama juga dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan perdamaian dunia, sebagaimana dijelaskan dalam Carr (2007: 2) dialog antar agama menunjukkan hubungan antar agama yang tidak hanya mencakup percakapan semata namun juga saling kesepahaman untuk saling menghargai dan berdamai satu sama lain. Jika dikaitkan dengan situasi perang, dialog juga dapat dikategorikan sebagai tahap ketiga dan terakhir dari peacebuilding yakni konsolidasi yang mengarah pada keteraturan dan perdamaian masyarakat. Dengan kata lain, para pemimpin hingga umat beragama di dunia juga memiliki kewajiban untuk menjaga perdamaian dunia dengan hidup secara harmonis dan tidak menciptakan konflik-konflik antar agama yang berkepanjangan, bahkan menimbulkan tindak-tindak kekerasan (Carr, 2007: 5). Dalam mewujudkan perdamaian, kelompok-kelompok agama dapat melakukan pertemuan doa bersama untuk korban-korban bencana, pertemuan publik untuk membahas suatu kasus, upacara rekonsiliasi, perencanaan aksi damai dan petisi, serta mengadakan pertemuan mediasi untuk orang-orang yang membutuhkan (Carr, 2007: 7). Sebagai contoh, pembentukan the Bougainville Inter-Church Women’s Forum di tahun 1995 dapat menyatukan wanita-wanita lintas pulau dan dari gereja-gereja berbeda untuk membantu proses perdamaian di tingkat lokal dan nasional. Contoh lain penciptaan perdamaian melalui dialog antar agama dapat dilihat di Denver ketika dilakukan secara terbuka, bahkan disiarkan di saluran televisi nasional agar masyarakat dapat turut berpartisipasi dengan mengajukan pertanyaan dan mengutarakan opini.

Lebih lanjut, Mandour (2010: 888), menjelaskan untuk dapat menciptakan perdamaian dunia, maka dialog antar agama harus memiliki lima unsur penting yang dapat menstabilkan kondisi saat dialog berlangsung. Pertama, adanya pengakuan atas dasar kesetaraan antar agama karena pengakuan dan kepercayaan merupakan kunci utama dalam dialog antar agama untuk membangun interaksi lebih dalam di antara pihak-pihak yang bersangkutan. Kedua, saling menghormati dan menghargai dibalik perbedaan yang ada sebagai dasar membangun kepercayaan sehingga pihak yang terlibat dapat mendengarkan ide-ide konstruktif maupun kritik yang dilontarkan dalam bahasa yang dapat diterima. Ketiga, pembahasan mengenai masyarakat dan budaya menjadi dasar utama untuk memahami posisi, kepercayaan, dan karakteristik dari agama lain dalam masyarakat. Dialog antar agama juga dipandang dapat menyatukan persamaan-persamaan yang ada dalam peradaban, budaya, dan sejarah demi kepentingan pihak yang terlibat sehingga kesalahpahaman yang ada dapat diminimalisir. Keempat, toleransi dapat dilakukan dengan melakukan pertukaran informasi mengenai budaya, pandangan, serta membentuk kerjasama di antara kedua pihak dalam berbagai bidang. Terakhir, kerjasama menjadi tujuan untuk memperluas pemahaman dan menjadi fondasi bagi stabilitas sosial serta perdamaian global sebagai implementasi dari pembangunan kepercayaan (Mandour, 2010: 889).

Dalam mempromosikan toleransi dan perdamaian, dialog antar agama dapat dilakukan dengan menyelenggarakan berbagai konferensi, seminar, dan acara yang bertema pertemuan agama untuk memupuk kerukunan sehingga dialog dapat lebih produktif (Mandour, 2010: 890). Dialog antar umat beragama juga dapat dilakukan di tingkat internasional, regional, dan nasional demi meningkatkan peran aktif dalam pembahasan perdamaian, toleransi, dan solidaritas agama-agama di dunia. Salah satu negara yang aktif dalam menjalankan dialog antar agama adalah Mesir yang beberapan kali menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan perjanjian dan konferensi terkait dengan dialog antar umat beragama di dunia. Selain itu, Mesir juga menjadi negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, perdamaian, toleransi, solidaritas, penolakan terhadap ekstrimisme, dan pengutamaan atas kerjasama (Mandour, 2010: 891). Dalam hal ini, dialog antar agama juga menjadi salah satu cara dalam mempromosikan perdamaian dunia yang dilakukan dengan membentuk gagasan terhadap peningkatan toleransi dan solidaritas antar umat beragama yang dibangun tanpa henti. Dialog antar agama memuat berbagai solusi atas kesalahpahaman yang terjadi yang disertai dengan pengurangan dan pencegahan konflik, menghentikan permusuhan antar umat beragama, serta membentuk kerangka untuk menjaga ketertiban demi terciptanya stabilitas perdamaian (Carr, 2007: 5). Oleh karena itu, dialog antar agama menjadi penting karena pembahasan yang dilakukan mengandung nilai-nilai umum dari agama, seperti persatuan, keadilan, kepercayaan, solidaritas, toleransi, dan rasa cinta akan sesama manusia yang menjadi fondasi dalam membangun perdamaian sehingga perbedaan yang ada dapat dilupakan dan menjadi cikal bakal persatuan (Carr, 2007: 2).

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa semakin meningkatnya persebaran hingga konflik-konflik fundamentalisme di dunia saat ini menunjukkan meningkatnya pula urgensi dialog antar agama untuk menyelesaikan konflik-konflik yang ada. Dialog antar agama dilakukan melalui pertemuan antar representatif komunitas-komunitas keagamaan dengan tujuan untuk saling memahami satu sama lain terlepas dari stigma dan asumsi yang beredar di masyarakat. Dialog antar agama memiliki signifikansi besar terhadap pembangunan toleransi beragama di masyarakat dan penciptaan perdamaian di dunia karena dialog dapat membuka kesadaran dan wawasan masyarakat serta mengembalikan fitrah manusia sebagai penduduk bumi yang memiliki kedudukan setara dan tidak saling membeda-bedakan. Penulis memandang bahwa dengan komitmen dan keinginan yang cukup dari masyarakat, dialog antar agama dapat diterapkan mulai dari tingkat lokal yang terendah hingga tingkat global untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Meski demikian, penulis tidak memungkiri bahwa terdapat berbagai hal yang dapat menghambat pelaksanaan dialog antar agama seperti dugaan-dugaan awal yang negatif dan upaya pemanfaatan dialog sebagai sarana politisasi. Oleh karenanya, diperlukan kesadaran mendalam dari masyarakat untuk menginisiasi dan berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan dialog antar agama agar dapat berjalan sesuai dengan tujuan awalnya yakni penciptaan toleransi dan perdamaian dunia.

Kata Kunci: Fundamentalisme, Dialog Antar Agama, Toleransi, Perdamaian

Referensi:

Carr, Felicia. 2007. Peace-building through Ecumenical and Interfaith Dialogue. Australia

Mandour, Tayseir M. 2010. “Islam and Religious Freedom: Role of Interfaith Dialogue in Promoting Global Peace” dalam Brigham Yong University Law Review

Shadi, Heydar. 2007. “Interfaith Dialogue and Religious Tolerance in Contemporary Islamic Thought: A Comparative Study of Fethullah Gulen and Abdul Karim Soroush” dalam Peaveful Coexistence.

Takim, Liyakatali. 2004. “From Conversion to Conversation: Interfaith Dialogue in Post 9-11 America” dalam The Muslim World, Vol. 94, pp. 343-355

Ditulis oleh: Divany Nadila R