Etika bisnis merupakan seperangkat prinsip maupun aturan yang menilai layak atau tidaknya sebuah tindakan sesuai dengan standar etika dalam ruang lingkup bisnis (Ferrel et al, 2009). Penentuan standar tersebut didasari oleh beberapa faktor eksternal yang kemudian mendorong internal perusahaan untuk memberikan seperangkat aturan agar tetap relevan dalam kondisi yang ada. Faktor-faktor eksternal tersebut adalah konsumen, pesaing, pemerintah, serta masyarakat. Dalam hal ini, konsumen berperan sebagai pihak yang mengatur neraca penawaran dan permintaan perusahaan, maka dari itu perusahaan harus menyesuaikan dengan standar etika konsumen. Dalam menentukan hal tersebut, perusahaan juga harus melihat etika bisnis yang ditetapkan oleh pesaing sehingga perusahaan tetap dapat menyesuaikan apakah etikanya dapat dikatakan sehingga tetap mampu bersaing dengan pesaingnya. Pemerintah berperan sebagai regulator yang secara langsung dapat menentukan standar-standar etis maupun non-etis bagi perusahaan melalui hukum-hukum yang diterapkan. Selain itu, masyarakat berperan sebagai entitas yang berada di sekitar perusahaan dan memiliki nilai serta norma tertentu yang menentukan standar etis maupun tidak etisnya perilaku yang dilakukan oleh perusahaan. Secara umum, konsep etika bisnis merujuk pada perspektif yang menyatakan bahwa bisnis seharusnya tidak hanya semata-mata digunakan untuk mencari keuntungan namun juga harus memiliki dampak sosial (Ferrel et al, 2009).

Menurut Ferrell (et al, 2009), penerapan etika bisnis bukan berarti mengurangi keuntungan potensial perusahaan, namun justru dapat meningkatkan keuntungan-keuntungan non-material. Pertama, konsumen dapat memberikan kepercayaan lebih terhadap perusahaan karena telah memiliki etika bisnis yang jelas dan sesuai dengan keinginan konsumen. Kedua, penerapan etika perusahaan yang jelas dan sesuai dapat mengurangi tekanan moral bagi karyawan dalam melakukan tindakannya. Ketiga, perusahaan akan mendapatkan citra reputasi yang positif yang kemudian akan berguna untuk menarik konsumen maupun investor. Keempat, penerapan etika bisnis yang positif akan secara tidak langsung meningkatkan kualitas dari manajerial perusahaan. Terakhir, adanya peningkatan permintaan atas etika bisnis yang baik. Dapat dilihat bahwa penerapan etika bisnis yang jelas dapat meningkatkan goodwill dari perusahaan di mata masyarakat.

Selain etika bisnis, terdapat konsep lain yang disebut sebagai tanggung jawab sosial. Menurut Ferrell (et al, 2009), tangugng jawab sosial merupakan kewajiban bagi setiap bisnis untuk memberikan dampak-dampak positif bagi masyarakat sekaligus mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan. Terdapat perbedaan mendasar antara konsep etika bisnis dan tanggung jawab sosial. Etika bisnis merujuk pada prinsip-prinsip tertentu yang mendasari pengambilan kebijakan suatu perusahaan. Sementara itu, tanggung jawab sosial lebih mengarah pada dampak apa yang dapat ditimbulkan oleh perusahaan kepada masyarakat. Salah satu contoh dari tanggung jawab sosial adalah pendirian Djarum Foundation oleh perusahaan rokok Djarum ataupun Manchester United Foundation oleh Manchester United. Kedua yayasan di atas berusaha melakukan tanggung jawab perusahaan dengan memberikan program-program pengabdian masyarakat, mulai dari pemberian beasiswa, penyuluhan, dan bakti sosial.

Menurut Donaldson dan Fafaliou (2003), secara umum kontribusi maupun tanggung jawab sosial suatu perusahaan dapat dinilai dari bagaimana dampaknya terhadap kesejahteraan perekonomian masyarakat atau dapat meningkatkan kondisi fisik maupun sosial lingkungan sekitar. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang dapat digunakan sebagai determinan kontribusi serta tanggung jawab sosial perusahaan (Ferrell et al, 2009). Pertama, bagaimana eksekutif perusahaan dapat memberikan informasi yang jelas serta terbuka kepada investor tentang program-program yang sedang dijalankan oleh perusahaan. Hal ini bertujuan agar memberikan jaminan bagi investor maupun calon investor tentang modal yang akan ditanamkan ke perusahaan. Semakin transparan dan jelas informasi yang diberikan, maka investor ataupun calon investor dapat menentukan kelayakan perusahaan. Kedua, melihat bagaimana perusahaan memperlakukan pegawainya. Perusahaan yang memiliki kontribusi serta tanggung jawab sosial yang baik dapat memperlakukan pegawainya dengan baik serta menjamin keberlangsungan hidup pegawai-pegawainya. Maka dari itu, perlu dilihat bagaimana lingkungan kerja pegawai serta pemberian upah yang layak bagi pegawai. Ketiga, melihat bagaimana perusahaan memperlakukan konsumennya. Perusahaan perlu menjamin produk yang diberikannya merupakan produk yang aman dikonsumsi serta perusahaan harus dapat menghormati hak-hak dari konsumen. Keempat, perusahaan harus dapat melihat dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Umumnya, perusahaan-perusahaan yang mengekstrak maupun memproduksi dan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lingkungan mendapatkan sorotan tinggi. Sebagai contoh, bagaimana Coca Cola dianggap kurang memiliki tanggung jawab sosial ketika harus menggunakan dua liter air siap minum untuk memproduksi Coca Cola sebanyak satu liter yang dapat mengurangi jumlah ketersediaan air bersih di lingkungannya. Terakhir, bagaimana perusahaan dapat berdampak bagi komunitas maupun masyarakat sekitar.

Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa suatu bisnis memerlukan etika bisnis serta tanggung jawab sosial. Etika bisnis terkait dengan mengapa suatu bisnis bertindak, sementara tanggung jawab sosial terkait dengan dampak yang diberikan pada masyarakat. Menurut pendapat penulis, suatu bisnis perlu menyeimbangkan antara keuntungan materil maupun non-materil sebagaimana yang dihasilkan oleh etika bisnis tanggung jawab sosial. Dalam beberapa kasus, perusahaan perlu merelakan keuntungan materilnya agar keuntungan non-materil dapat terpenuhi yang memiliki tujuan jangka panjang. Hal ini dapat dilihat dari implementasi tanggung jawab sosial oleh Djarum, dimana goodwill yang dihasilkan dari Djarum Foundation dapat mendukung keberlangsungan bisnis Djarum.

Referensi:

Donaldson,  John & Fafaliou, Irene, (2003).  Business Ethics, Corporate Social Responsibility and Corporate Governance: a Review and Summary Critique. European Research Studies, Vol. 6, No. 1-2.

Ferrell, O. C. et al, (2009). Business Ethics and Social Responsibility. Dalam Business: A Changing World. New York: McGraw-Hill Global Education Holding, LLC.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.