Dalam menjalankan bisnisnya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh setiap perusahaan internasional. Sebagai suatu perusahaan internasional, penting untuk menjaga hubungan dengan setiap pihak yang terlibat dalam operasi bisnisnya baik dengan distributor, konsumen, maupun dengan perusahaan lain. Etika dan norma kemudian menjadi salah satu aspek penting dalam praktik bisnis, terlebih di ranah internasional ketika akses dan jaringan komunikasi dalam bisnis menjadi lebih luas dan dinamis. Selain itu, perkembangan di era globalisasi dan lahirnya e-business menyebabkan dinamika etika dalam bisnis menjadi semakin kompleks dan membutuhkan pemahaman yang lebih dalam. Dengan demikian, tulisan ini akan membahas lebih lanjut pengertian etika dalam bisnis internasional, cara mengimplimentasikan etika dalam bisnis internasional, dan Corporate Social Responsibility (CSR).

Menurut Kline (2010), etika dapat dipahami sebagai penggunaan alasan sistematis untuk menginterpretasikan dan menentukan nilai dalam kehidupan. Dengan kata lain, etika menegaskan justifikasi perilaku yang dianggap benar. Etika erat kaitannya dengan moralitas yakni apa yang seseorang harus lakukan untuk mengimplementasikan norma perilaku yang diterima di masyarakat. Jika dikaitkan dengan bisnis, terdapat pandangan bahwa pada dasarnya perusahaan adalah sebuah entitas amoral yang hanya bertugas untuk menghasilkan barang dan jasa saja, namun tidak memiliki sifat psikologis dan kepribadian. Namun, Kline (2010) berpendapat bahwa perusahaan adalah entitas kolektif yang memiliki identitas, kapabilitas untuk bertindak dan melakukan pengambilan keputusan, sehingga dapat dipisahkan dari individu-individu yang menjalankannya. Dalam suatu perusahaan, terdapat keputusan internal yang hanya dilaksanakan jika telah disetujui oleh serangkaian struktur komando yang bertujuan untuk menghindari keputusan yang berpihak pada kepentingan suatu individu saja. Dengan demikian, analisis etika dalam bisnis kemudian dibutuhkan untuk membantu menentukan perilaku dan tingkat moralitas yang perlu dimiliki suatu perusahaan.

Etika dalam bisnis dapat diaplikasikan dengan mematuhi perjanjian legal antara negara dengan perusahaan yang akan mengikat perilaku perusahaan untuk memproduksi barang yang berguna bagi masyarakat dan komitmen untuk tidak membahayakan masyarakat (Kline, 2010). Namun hal ini menjadi lebih kompleks bagi perusahaan internasional karena setiap negara memiliki norma dan etikanya masing-masing. Hal ini menimbulkan dilema bagi perusahaan karena di satu sisi, setiap perusahaan pasti telah menentukan “rule of the game” yang jelas agar tidak kalah saing, namun di sisi lain juga ingin fleksibel agar dapat mengoperasikan bisnisnya di kondisi sosial yang berbeda. Kline (2010) menjelaskan bahwa terkait hal ini masih belum terdapat perjanjian legal internasional yang didasarkan pada hukum universal. Dengan kata lain, negosiasi antar negara belum berhasil untuk menghasilkan standar kontrak bisnis yang universal. Perkembangan dalam hal ini adalah terbentuknya Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang mengeluarkan the Guidelines for Multinational Enterprises untuk membuka kesempatan bagi pemerintah untuk mengusulkan standar dan guidelines sebagai penilaian perusahaan. Namun hal ini masih berupa soft law karena tidak ada sanksi formal yang diterapkan jika terjadi pelanggaran. Lebih lanjut, untuk menghadapi situasi etika yang berbeda di setiap negara, maka perusahaan seharusnya tidak mengambil keputusan unilateral namun mempertimbangkan kondisi dan pendapat dari pihak lain seperti pemerintah negara asal, kelompok sipil, dan masyarakat di negara tujuan (Kline, 2010).

Menurut Zrinyi (2016), era neoliberal dan pasar bebas saat ini adalah era pos-moralis yang mengagungkan keserakahan dan mendorong perusahaan untuk hanya fokus pada maksimalisasi keuntungan yang didapat hingga mengabaikan tanggung jawab sosialnya. Hal ini menjadi semakin dinamis di era digital karena terjadi transformasi dan perubahan signifikan dalam gaya operasi bisnis internasional. Dijelaskan dalam Palmer (2015), dalam e-business, terdapat empat masalah yakni meningkatnya jumlah pengguna internet menyebabkan kepercayaan dan etika menjadi lebih esensial dari sebelumnya, munculnya tatanan kompetisi baru yang dapat memunculkan konflik dengan bisnis tradisional, muncul isu privasi dan perlindungan konsumen, dan dapat menimbulkan gesekan antar kultur. Maka dari itu, untuk dapat mempertahankan eksistensi dan hubungannya dengan pihak-pihak lain, sebuah perusahaan memiliki tanggung jawab sosial untuk mempertimbangkan nilai etis dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui CSR yang dipahami sebagai konsep integrasi fokus sosial dan lingkungan perusahaan dalam operasi bisnisnya serta interaksi mereka dengan stakeholders dalam basis sukarela (Zrinyi, 2016).

Lebih lanjut, CSR memiliki lima dimensi yakni lingkungan, sosial, ekonomi, stakeholder, dan sukarela (Zrinyi, 2016). CSR berfungsi tidak hanya untuk menciptakan moral framework bagi aktor-aktor dalam perusahaan namun juga dapat memengaruhi cara perusahaan melihat tanggung jawab yang dimilikinya. Namun, terdapat perdebatan terkait keefektifan dan urgensi penerapan CSR karena dianggap hanya sebatas konsep teoritis dan prosedural saja, namun pada praktiknya perusahaan tidak benar-benar mengimplementasikan CSR karena mempertimbangkan kepuasan stakeholders dan keuntungan saja. Terkait hal ini, penulis sependapat dengan Zrinyi (2016) yang berargumen bahwa CSR memang hanya berbentuk teori untuk mengarahkan perilaku perusahaan dan dalam situasi praktikal perusahaan tetap bergantung pada pilihan dan keputusannya masing-masing. Namun meski demikian, CSR berpengaruh untuk menjadi basis komitmen dan tanggung jawab perusahaan terhadap lima dimensi CSR itu sendiri. Penulis beropini bahwa penting bagi perusahaan untuk menyeimbangkan bisnis dengan tanggung jawab sosial yang dimilikinya agar transparansi dan sikap saling hormat dapat diterapkan.

Referensi:

Kline, John M. 2010. “Ethics and International Business” dalam Ethics for International Business: Decision Making in the Global Political Economy. New York: Routledge

Palmer, Daniel E. 2015. “Business Ethics in the Information Age: The Transformations and Challenges of E-Business” dalam Business Ethics and Corporate Responsibilities. USA: IGI Global

Zrinyi, Imre U. 2016. “From ‘Free-Floating Responsibility’ to Self-Responsibility CSR as Theoritical and Practical Context for Ethics” dalam Understanding Ethics and Responsibilities in a Globalizing World. Springer

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com