Mengalami dilema yang pelik, Presiden El Salvador, Nayib Armando Bukele Ortez akhirnya memberikan izin pada aparat kepolisian dan tentaranya untuk menggunakan tindak kekerasan terhadap anggota geng akibat insiden pembunuhan terhadap masyarakat. Sejak pekan lalu, setidaknya terdapat 53 pembunuhan, 29 diantaranya terjadi di hari Jumat – jumlah pembunuhan dalam satu hari yang tertinggi sejak Bukele memerintah di bulan Juni. Beberapa analis mengatakan bahwa terdapat kemungkinan besar bahwa perintah aksi pembunuhan tersebut berasal dari pimpinan geng yang tengah menjalani hukuman dari dalam penjara. Namun, di tengah situasi pandemik, keadaan dalam penjara yang penuh sesak dapat berakibat pada meningkatnya kerentanan para narapidana terhadap virus COVID-19.

Di wilayah Amerika Serikat, El Salvador memiliki populasi tahanan penjara per kapita tertinggi kedua akibat tingginya angka kriminalitas yang dilakukan oleh kelompok-kelompok geng selama beberapa dekade silam. Sejatinya, penjara di El Salvador memiliki kapasitas untuk menampung sekitar 18 ribu tahanan, namun saat ini narapidana telah mencapai angka 38 ribu. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi penjara-penjara di El Salvador saat ini penuh sesak, ditambah dengan infrastruktur bangunan yang jauh dari kata layak. Maka, sulit untuk melakukan program physical distancing sebagaimana diinstruksikan oleh menteri kesehatan. Tidak hanya itu, penjara El Salvador juga memiliki catatan buruk terhadap penyakit tuberkolosis dengan tingkat infeksi 50 kali lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum.

Terkait hal di atas, pemerintah memiliki opsi kebijakan untuk membebaskan sementara para narapidana yang berusia di atas 60 tahun dan memiliki riwayat penyakit parah. Akan tetapi, presiden menganggap hal ini justru akan berakibat pada meningkatnya angka kriminalitas di El Salvador. Sejak memperoleh jabatannya, Bukule telah berjanji untuk menghapus ketakutan di masyarakat terkait pembunuhan oleh kelompok-kelompok geng. Tercatat dalam beberapa bulan berikutnya, tingkat pembunuhan memang menurun, khususnya pada bulan Maret lalu ketika pemerintah menerapkan program lockdown untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Namun, peristiwa pembunuhan pekan lalu menunjukkan bahwa pemerintah masih belum sepenuhnya memiliki kontrol terhadap aksi-aksi para geng tersebut.

Jose Miguel Cruz, seorang ahli geng El Salvador dari Florida International University mengatakan bahwa meski telah berhasil mengurangi jumlah pembunuhan dalam beberapa bulan terakhir, namun geng-geng tersebut masih punya peranan di masyarakat. Geng kriminal seperti MS-13 dan the 18th street misalnya, masih menguasai sejumlah teritori di El Salvaldor. Dengan kata lain, ia berpendapat bahwa geng-geng tersebut tentu memiliki alasan-alasan strategisnya untuk mengurangi aksi pembunuhan, namun kemudian memutuskan untuk melakukan kembali aksinya pada pekan lalu meski ia masih belum mengetahui motif pasti dari tindakan tersebut. Sementara itu, beberapa ahli lain juga mengatakan adanya kemungkinan bahwa penurunan tingkat kriminalitas disebabkan oleh adanya kesepakatan antara pemerintah dengan para geng yang pada akhirnya diingkari oleh geng-geng tersebut. Namun berita terkait adanya kesepakatan tersebut dibantah oleh pihak pemerintah.

Menindaklanjuti dilema yang ada, Bukule kemudian memutuskan untuk memerintahkan aparat polisi dan tentara menertibkan anggota geng di jalanan yang melakukan aksi kriminal. Sementara itu, ia juga melakukan penutupan 24 jam per hari dan pengetatan keamanan di penjara-penjara. Bukule mengatakan bahwa pengetatan perlu dilakukan karena para penjahat tersebut telah memanfaatkan keadaan pandemik yang banyak menyita perhatian para petugas keamanan dalam beberapa waktu terakhir untuk melakukan aksi-aksi kriminalnya.

Pada hari Senin, para narapidana di setidaknya tujuh penjara besar di El Salvador dikumpulkan untuk menunggu penggeledahan oleh petugas penjara kemudian mereka akan ditempatkan dalam satu sel yang sama dengan anggota dari geng rivalnya. Dalam pemerintahan sebelumnya hal ini belum pernah terjadi. Dua geng rival seperti Mara Salvatrucha dan the 18th Street ditempatkan di penjara yang berbeda untuk menghindari pertikaian besar. Tapi kebijakan tersebut berakhir pada masa pemerintahan Bukule karena ia menganggap hal tersebut hanya akan memberi mereka lebih banyak kontrol. Ia menekankan bahwa selama penutupan, mereka tidak akan mendapat sinar matahari selama 24 jam sehari dan memperingatkan bahwa mereka akan menyesal seumur hidup telah melakukan aksi-aksi pembunuhan. Menteri pertahanan El Salvador, Osiris Luna, juga mengatakan bahwa pencampuran anggota geng tersebut dapat meminimalisir komunikasi di antara gengnya dan membatasi kemampuan mereka untuk melaksanakan penyerangan. Dalam rezim yang baru, para narapidana memperoleh penjagaan yang lebih ketat, telepon genggam tidak diperbolehkan dan jaringan wifi diputus.

Sejatinya, kebijakan tersebut dapat meningkatkan kerentanan tahanan penjara di tengah situasi pandemik. Kapasitas penjara yang tidak sebanding dengan jumlah tahanan serta kurangnya alat-alat medis dan makanan bergizi kemudian dapat membahayakan nyawa para tahanan. Larangan anggota keluarga untuk berkunjung dan membawakan makanan juga menambah peliknya situasi yang mereka hadapi. Jose Miguel Vivanco, Ketua Human Rights Watch di Amerika Serikat berpendapat bahwa kebijakan tersebut menyebabkan para narapidana kehilangan kebebasannya dan dapat berpotensi melanggar HAM. Namun, mengingat El Salvador memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Amerika Serikat kemudian dipandang sebagai dasar yang kuat bagi pemerintah El Salvador untuk menerapkan kebijakan ini.

Referensi:

Brito, Christopher. 2020. “El Salvador Authorizes use of “Lethal Force” Against Gang Members during Pandemic” [online] tersedia dalam https://www.cbsnews.com/news/el-salvador-lethal-force-gang-members-nayib-bukele-coronavirus/ [diakses 28 April 2020]

Kahn, Carrie. 2020. “El Salvador’s President  Takes on the Country’s Gangs Amid Coronavirus Pandemic” [online] tersedia dalam https://www.npr.org/sections/coronavirus-live-updates/2020/04/27/846802762/el-salvadors-president-takes-on-the-country-s-gangs-amid-coronavirus-pandemic [diakses 28 April 2020]

Sheridan, Mary B. dan Brigida, Anna-Catherine. 2020. “Photos Show El Salvador’s Crackdown on Imprisoned Gang Members” [online] tersedia dalam https://www.washingtonpost.com/world/the_americas/el-salvador-prison-crackdown-nayib-bukele/2020/04/27/5d3cea4c-88c9-11ea-80df-d24b35a568ae_story.html [diakses 28 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti