Duta Besar Tiongkok untuk Israel, Du Wei, ditemukan meninggal dunia di apartemennya di wilayah Herzliya, Tel Aviv pada Hari Minggu lalu. Laporan petugas keamanan setempat mengatakan bahwa pria berusia 57 tahun tersebut ditemukan oleh salah satu asistennya dan dikatakan meninggal karena alasan kesehatan – tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Menurut laporan berita the Ynet, Du Wei meninggal dunia di atas tempat tidur dikarenakan ia mengalami gagal jantung pada malam tersebut. Hal ini juga dikonfirmasi oleh pihak Israel dan Tiongkok yang mengklaim bahwa tidak terdapat aktivitas yang mencurigakan atas kematian diplomat tersebut. Laporan dari pihak setempat mengatakan bahwa terdapat sejumlah aparat kepolisian yang berada di lokasi hanya karena bagian dari aturan procedural saja.

Meski demikian, sehari berikutnya, pemerintah Tiongkok memerintahkan pembentukan tim khusus agar segera memulai kegiatan investigasi internal untuk mengidentifikasi semua detil yang ada terkait kematian Du Wei, mengatur pengiriman jasad ke Tiongkok untuk dimakamkan, dan menyelesaikan masalah-masalah kedutaan untuk sementara waktu. Dalam pernyataannya pada hari Minggu, pihak Tiongkok mengatakan bahwa meski kematian disebabkan oleh alasan kesehatan, namun tetap penting untuk memeriksa kasus ini secara keseluruhan. Tim tersebut juga akan melibatkan anggota keluarga untuk turut mengatur kebutuhan yang ada. Menurut laporan Haaretz, untuk mempersingkat waktu, tim khusus tersebut tidak diharuskan untuk melakukan karantina selama 14 hari sebagaimana aturan yang seharusnya diterapkan untuk para pendatang. Menteri Luar Negeri Israel, Yuval Rotem mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan pihak Tiongkok untuk menyatakan bahwa ia turut berduka dan bersedia membantu segala urusan yang ada.

Du Wei sendiri sebelumnya telah menjabat sebagai Duta Besar untuk Ukraina dan kemudian menjadi Duta Besar Tiongkok untuk Israel sejak Februari. Segera setelah tiba di Tel Aviv, melaksanakan program karantina selama 14 hari sesuai prosedur terkait penyebaran virus COVID-19 di Tiongkok. Pada akhir Maret, ia memperoleh gelar diplomatiknya. Namun, situasi pandemik kemudian tidak memungkinkan Du untuk bertemu dengan Presiden Israel, Reuven Rivlin, sebagaimana seharusnya. Sejak menjabat, Du telah bersikap vokal dalam membela Tiongkok dan berupaya menjalin hubungan yang lebih baik dengan Israel, utamanya atas beredarnya tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada Tiongkok sebagai pihak yang bersalah atas pandemik COVID-19. Dalam salah satu pernyataannya pada media, ia mengatakan bahwa Tiongkok merupakan negara yang bertanggung jawab, patuh terhadap hukum, dan dapat dipercaya. Ia juga menganggap bahwa Tiongkok tidak memiliki kewajiban untuk meminta maaf pada dunia atas pandemik yang terjadi, karena situasi serupa telah terjadi beberapa kali dalam sejarah dan merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Ia menekankan bahwa musuh yang sebenarnya ialah penyakit itu sendiri dan masyarakat dunia harus bersatu untuk melawannya.

Lebih lanjut, kematian Du Wei terjadi kurang dari satu pekan setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo ke Israel. Dalam kunjungannya, ia memperingatkan Israel untuk tidak terlalu dekat dengan Tiongkok yang dipandang telah menyembunyikan sejumlah informasi penting terkait pandemik. Pihak Amerika Serikat mengatakan bahwa topik utama diskusi dalam kunjungan Pompeo berbicara seputar kekhawatiran Amerika terhadap hubungan perdagangan Israel dengan Tiongkok karena dianggap problematik dan kurang transparan. Pemerintah Israel juga kemudian mempertimbangkan kembali hubungan kerjasama dengan Tiongkok khususnya terkait proyek-proyek infrastruktur yang dapat membahayakan keamanan serta dapat memengaruhi hubungan mereka dengan Amerika.

Merespon hal ini, pada hari Jumat, kedutaan Tiongkok menangkal tuduhan Amerika Serikat dan mengatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar. Tiongkok berharap “teman Yahudi-nya” tidak hanya berhasil dalam melawan virus COVID-19 namun juga “virus politik” yang tengah beredar – merujuk pada kunjungan Pompeo. Mereka juga mengeluarkan pernyataan bahwa Israel tentu paham bahwa keadaan saat ini – pandemik virus COVID-19 – merupakan peristiwa yang terjadi secara alamiah namun kini dipenuhi konspirasi dan upaya-upaya untuk mencari kambing hitam. Hal ini merujuk pada sikap Pompeo dan Presiden Amerika sendiri, Donald Trump yang sejumlah kali menyalahkan Tiongkok atas kematian dan penyebaran virus yang terjadi di Amerika karena Tiongkok dipandang telah menyembunyikan informasi penting terkait pandemik, bahkan mengatakan bahwa COVID-19 merupakan virus buatan yang berasal dari sebuah laboratorium eksperimental milik Tiongkok.

Referensi:

Landau, Noa. 2020. “China to Send Team to Investigate Death of Ambassador to Israel” [online] tersedia dalam https://www.haaretz.com/israel-news/.premium-china-to-send-team-to-investigate-death-of-ambassador-to-israel-1.8851513 [diakses 18 Mei 2020]

Liebermann, Oren. 2020. “Chinese Ambassador to Israel is Found Dead in his Home, Foreign Ministry Says” [online] tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/05/17/middleeast/israel-chinese-ambassador-dead-intl/index.html [diakses 18 Mei 2020]

The Times of Israel. 2020. “China Said Set to Send Team to Probe Death of its Ambassador to Israel” [online] tersedia dalam https://www.timesofisrael.com/china-said-set-to-send-team-to-probe-death-of-its-ambassador-to-israel/ [diakses 18 Mei 2020]