Kompleksitas situasi pandemik menimbulkan berbagai pandangan dan respon dari negara-negara di dunia untuk mencegah dan menangani penyebaran virus. Pada Selasa lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menghentikan pemberian bantuan dana pada World Health Organization (WHO) di tengah pandemik secara sementara karena WHO dianggap kurang bertanggungjawab dan belum melakukan upaya yang maksimal untuk menghentikan penyebaran virus sejak pertama kali ditemukan di Tiongkok. Trump berpendapat bahwa jika badan PBB tersebut segera mengirimkan ahli-ahli medis ke Tiongkok untuk secara objektif memeriksa situasi di lapangan, melakukan investigasi dalam tahap awal, dan mendesak Tiongkok untuk lebih transparan, maka outbreak dapat teratasi hingga ribuan nyawa dapat terselamatkan dan tidak akan terjadi kerusakan ekonomi yang parah. Namun ia memandang bahwa WHO justru membela Tiongkok dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang dibutuhkan. Dengan kata lain, Trump telah menuduh WHO atas keberpihakannya pada Tiongkok – China-centric – dan kritik yang ditujukan padanya setelah Amerika Serikat melarang perjalanan baik masuk maupun keluar dengan Tiongkok.

Pada periode tahun 2018-2019, Amerika Serikat telah memberikan kontribusi dana sebesar 900 juta dolar untuk WHO – sekitar seperlima dari keseluruhan 4,4 milyar dolar budget pada periode tersebut. Setidaknya tiga per empat dana tersebut merupakan dana specified voluntary contribution dan sisanya adalah assessed funding sebagai bentuk komitmennya terhadap PBB. Sedangkan dalam proposal budget pada Bulan Februari, pemerintahan Trump berencana akan menurunkan jumlah tersebut hingga 57,9 juta dolar saja. Lebih lanjut, Trump mengatakan bahwa sejatinya ia meragukan efektivitas penggunaan dana yang telah diberikan Amerika untuk WHO dan memandang bahwa WHO telah gagal mempertahankan kepercayaan Amerika dengan tidak memberikan informasi dengan cepat dan transparan. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk menghentikan pemberian dana tersebut setidaknya selama 60-90 hari dalam periode evaluasi sebelum menentukan langkah berikutnya, bahkan akan bekerjasama dengan negara lain untuk mencapai tujuan bersama. Ia mengatakan bahwa meski demikian, Amerika tetap akan terus berhubungan dan bekerjasama dengan WHO untuk mencapai reformasi yang berarti.

Menghadapi hal ini, pihak WHO tidak segera memberi tanggapan secara publik. Juru bicara WHO, Margaret Harris, hanya mengatakan bahwa di samping semua masalah dan isu yang ada, upaya kami untuk mengatasi pandemik tetap harus berjalan. Sedangkan dari pihak PBB sendiri, Antonio Guterres, menanggapi Trump dan berpendapat bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menghentikan dukungan dalam bentuk apa pun terhadap WHO dan menegaskan bahwa WHO adalah organisasi yang krusial dalam upaya penanganan virus COVID-19 secara global. Sebaliknya, seharusnya semua pihak mengalokasikan dananya untuk WHO dan organisasi-organisasi humanitarianisme lain yang tengah bekerja untuk menghentikan penyebaran virus. Selain itu, solidaritas dan persatuan dari semua pihak dipandang dapat menjadi kunci kemenangan dalam melawan COVID-19 beserta konsekuensinya. Dr Nahid Bhadelia, seorang dokter spesialis penyakit menular juga mengatakan bahwa tindakan Trump adalah bencana besar karena WHO adalah mitra kesehatan bagi negara-negara dan tempat dimana negara-negara berbagai data dan teknologi agar dapat diolah secara global. Lawrence Gostin, seorang professor kesehatan global di Georgetown University juga berkomentar bahwa tanpa WHO, akan terdapat lebih banyak kematian; tidak hanya di Afrika, namun juga Amerika Serikat sendiri.

Menilik lebih dalam, Presiden Trump sendiri sejatinya juga menerima kritik terkait upayanya untuk menghentikan penyebaran virus di Amerika Serikat. Hingga kini, terdapat lebih dari 600.000 pasien positif corona di Amerika Serikat – salah satu outbreak terparah di dunia. Meski telah mengkritik WHO berpihak pada Tiongkok, sebenarnya Trump sendiri pada tanggal 24 Januari, mengunggah cuitan di Twitter dan mengatakan bahwa Tiongkok telah bekerja sangat keras untuk mengatasi penyebaran virus corona, sehingga Amerika Serikat benar-benar menghargai upaya dan transparansi mereka. Bahkan ia juga menyatakan terima kasihnya pada Presiden Xi terkait hal ini. Selain itu, Trump juga mengkritik WHO bersikap lambat karena tidak segera mengumumkan situasi darurat dan tidak secara transparan mengatakan bahwa COVID-19 dapat menular melalui human to human transmission. Faktanya, WHO telah memperingatkan negara-negara terkait hal ini sejak 10 Januari. Maka dari itu, keputusan Trump untuk menghentikan pemberian dana pada WHO menimbulkan kekhawatiran serta pertanyaan terkait kesungguhan Trump dalam menghentikan pandemik.

Referensi:

Smith, David. 2020. “Trump Halts World Health Organization Funding over Coronavirus ‘Failure’” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/apr/14/coronavirus-trump-halts-funding-to-world-health-organization [diakses 15 April 2020]

Superville, Darlene. 2020. “Trump Directs Halt to Payments to WHO During Virus Pandemic” [online] tersedia dalam https://abcnews.go.com/Health/wireStory/trump-directs-halt-payments-virus-pandemic-70153315 [diakses 15 April 2020]