Diplomasi Keantariksaan: Strategi India dalam Menyebarkan Pengaruh di Asia Selatan

 

Pasek Acyuta Diwangkara Satyakusuma

Departemen Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Airlangga

 

Abstrak

Sebelumnya, pemanfaatan teknologi luar angkasa India selalu berorientasi pada pembangunan nasional. Namun, kegiatan keantariksaan India dalam beberapa tahun terakhir telah muncul secara bertahap sebagai elemen sentral dalam kebijakan luar negeri India ketika berhubungan dengan dunia internasional khususnya sebagai upaya untuk menyebarkan pengaruh India di kawasan Asia Selatan. Dengan kata lain, program keantariksaan India bertindak sebagai alat diplomasi yang dalam proses pelaksanaannya penulis sebut sebagai diplomasi keantariksaan. Lalu, bagaimana India mengimplementasikan program keantariksaannya sebagai alat diplomasi? Melalui tulisan ini, penulis akan mencoba untuk menjelaskan bagaimana inisiasi program keantariksaan India digunakan sebagai alat diplomasi menggunakan tiga dimensi, yaitu; (1) proyeksi program keantariksaan sebagai soft power, (2) utilisasi kegiatan luar angkasa sebagai alat diplomasi untuk memeroleh kepentingan, dan (3) implementasinya kegiatan keantariksaan sebagai alat diplomasi.

Kata Kunci: Diplomasi Keantariksaan, India, Pengaruh, Soft Power

Previously, the use of Indian space technology was always oriented towards national development means. However, Indian space activities in recent years have gradually emerged as a central element in Indian foreign policy making in dealing with the international world especially to spread India’s influence in the South Asian region. In other words, India’s space program acts as a diplomacy tool in the process of India’s foreign policy. That being said, how could India implement its space program as a diplomatic tool? Through this paper, the author will try to explain how the initiation of the Indian space program is used as a diplomatic tool using three dimensions, namely; (1) the projected space program as a soft power, (2) the utilization of space activities as a diplomatic tool to obtain interests, and (3) the implementation of space activities as a diplomacy tool.

Keywords: Space Diplomacy, India, Influence, Soft Power

Aktivitas keantariksaan bukan lah sebuah kegiatan yang dapat dikembangkan dan dilakukan oleh negara-negara di seluruh dunia. Setidaknya, hanya terdapat sekitar 18 negara dunia yang mampu mengembangkan program-program keantariksaan, dan India adalah salah satunya. Negara-negara yang berperan aktif dalam mengembangkan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan terkait keantariksaan ini disebut sebagai spacefaring states. Pada proses perumusan visi keantariksaan India, aspek sosio-ekonomi adalah aspek yang menjadi penekanan India dalam melakukan pengembangan program keantariksaannya (Sachdeva 2016). Setelah tahun-tahun awal kegiatan keantariksaan India berfokus pada tujuan sosio-ekonominya, India kini telah berhasil mengoperasikan jaringan perkembangan sosio-ekonomi terbesar dan terluas di dunia dengan mengaplikasikannya dalam bentuk penyediaan jasa telekomunikasi, penyiaran, tele-medicine, tele-education, dan pembangunan pedesaan. Tidak hanya itu, India juga berhasil mengembangkan Global Positioning System (GPS) yang dibantu dengan Geo-Augmented Navigation (GAGAN) sebagai sistem navigasi fungsional, serta mampu menciptakan satelit penginderaan jarak jauh dengan kualitas tinggi dan sebanding dengan resolusi yang terbaik di dunia (Sachdeva 2016).

Namun meskipun pemanfaatan teknologi luar angkasa India selalu berorientasi pada pembangunan nasional, kegiatan keantariksaan India dalam beberapa tahun terakhir telah muncul secara bertahap sebagai elemen sentral dalam kebijakan luar negeri ketika berhubungan dengan dunia internasional. Program keantariksaaan India sendiri diproyeksikan sebagai soft power yang digunakannya untuk menjadi simbol kekuatan India pada konteks kecakapan teknologi serta aspirasi kekuatan ekonomi di masa depan (Prasad 2016). Soft power sendiri adalah matriks kekuatan khusus yang digunakan untuk menjelaskan kemampuan suatu negara dalam memengaruhi orang lain tanpa menggunakan langkah-langkah paksaan. Alih-alih, soft power merupakan kemampuan suatu negara untuk meraih reputasi dan daya tarik yang dibangunnya melalui pencapaian nasional di bidang-bidang prestise tertentu (Nye 2004). Dimensi soft power dari program keantariksaan India sendiri telah dibangun tidak hanya untuk mengejar prestise, namun juga sebagai dasar perumusan narasi khusus yang ditujukan untuk meningkatkan profil program keantariksaaannya sendiri dalam berdiplomasi. Pada tahap yang lebih lanjut, melekatnya narasi keantariksaan yang diikuti dengan perkembangan positif teknologi dan program keantariksaan India akan membangun citra positif India di mata internasional juga. Lalu, bagaimana India mengimplementasikan program keantariksaannya sebagai alat diplomasi? Melalui tulisan ini, penulis akan mencoba untuk menjelaskan bagaimana inisiasi program keantariksaan India digunakan sebagai alat diplomasi menggunakan tiga dimensi, yaitu; (1) proyeksi program keantariksaan sebagai soft power, (2) utilisasi kegiatan luar angkasa sebagai alat diplomasi untuk memeroleh kepentingan, dan (3) implementasinya kegiatan keantariksaan sebagai alat diplomasi.

Keberhasilan Program Keantariksaan Sebagai Narasi Soft Power India

Salah satu hal yang paling menarik dari narasi kesuksesan India dalam proyeksi teknologi keantariksaannya adalah pencapaian India dalam menjadi spacefaring states dilakukannya secara self-reliance tanpa bantuan negara lain. Self-reliance ini lah yang menjadi kebanggan tersendiri bagi India. Pasalnya, pencapaian India memang lah dramatis mengingat India merupakan salah satu negara termiskin di dunia pada era Perang Dingin. Pencapaian India tersebut semakin terlihat signifikan jika melihat fakta saat ini bahwa negara termiskin di era Perang Dingin telah mampu menyamai level kedua spacefaring states lainnya seperti Prancis, Cina dan Jepang. Melihat konfigurasi kekuatan teknologi spacefaring states di dunia, hanya Amerika Serikat dan Rusia yang memiliki kapabilitas keantariksaan lebih baik dari India. Program keantariksaan India pun semakin diperhitungkan di kancah internasional. Dampaknya, banyak negara-negara dunia yang kemudian terbuka untuk melakukan hubungan kerja sama dengan India. Sebagaimana yang dikatakan Michael Sheehan (2007), kerja sama internasional selalu menjadi fitur utama dari pelaksanaan program keantariksaan India dan di saat yang bersamaan, kerja sama juga menjadi strategi India dalam menyebarkan pengaruhnya terhadap dunia dengan menunjukkan kecanggihan teknologinya ketika bekerjasama dengan negara-negara maju di dunia. Selain narasi self-reliance, narasi kuat lainnya yang sering digunakan India untuk meningkatkan reputasi internasionalnya adalah mengenai kesuksesan India dalam melaksanakan dan mengembangkan program keantariksaan yang efektif biaya. Pada setiap kesempatan, para petinggi negara tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyampaikan pesan bahwa pencapaian program keantariksaan India adalah program yang paling efektif dan berhasil di dunia (Aliberti 2018).

Penggunaan narasi tersebut pun terbilang sukses. Berbagai komentar positif datang dari media-media internasional tentang keberhasilan program keantariksaan India yang berhasil dicapai meskipun dengan anggaran terbatas. Pada dampak yang lebih lanjut, media yang menyoroti program keantariksaan India sebagai program yang efektif biaya mampu membawa manfaat yang relevan pada tingkat investasi yang datang dari perusahaan multinasional pencari inovasi berbiaya rendah. Terlebih, India juga membawa narasi lain yang sama kuatnya dengan dua narasi sebelumnya, yaitu narasi tentang penggunaan antariksa sebagai “tujuan luhur”. Tujuan luhur yang dimaksud merujuk pada tujuan sosio-ekonomi India yang menjadi orientasi utama pengembangan program keantariksaan India ketika pertama kali diinisiasi oleh Jawaharlal Nehru dan Vikram Sarabhai (Alberti 2018). Pada era pemerintahan Perdana Menteri Manmohan Singh, India telah berhasil memwujudkan impian dari Vikram Sarabhai yang mengedepankan utilisasi teknologi keantariksaan demi pengembangan sosio-ekonomi, dan hasilnya pun membawa banyak dampak positif kepada India. Di antaranya adalah ditemukannya teknologi satelit yang mampu memonitor dan memprediksi cuaca. Teknologi ini sangat berdampak positif terhadap India yang sering terlanda kekeringan dan banjir setiap tahunnya (Sheehan, 2007). Selain memprediksi cuaca, teknologi satelit mampu mengeskalasi komunikasi yang efektif untuk mendistribusikan bantuan medis serta pemerataan pendidikan. Teknologi remote sensing satellites juga memberi dampak positif terhadap permasalahan sosial di India. Teknologi tersebut mampu mengelola proyek-proyek agrikultur India serta dapat memonitor sumber daya yang dibutuhkan (Sheehan, 2007).

Selain keuntungan sosial, investasi dalam proyek-proyek keantariksaan juga mendatangkan keuntungan bagi perekonomian negara. Kasturirangan dan Murthi (2008) mengatakan bahwa “INSAT satellites’ images triggered growth of Indian geospatial industry whose human resource strengths match the best in the world and generated a market”. Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor krusial untuk meningkatan perekonomian negara, dan dengan adanya teknologi keantariksaan, maka menurut Kasturirangan dan Murti kualitas sumber daya manusia juga membaik. Industri keantariksaan di India membawa banyak sekali keuntungan dalam aspek teknologi, perdagangan internasional, telekomunikasi, foreign invenstment yang dapat menciptakan lapangan kerja serta memperbaiki kualitas pendidikan. ISRO mengklaim bahwa investasi dalam program keantariksaan telah memberikan double return dari setiap rupee yang dikeluarkan (Menon, 2008). Hal ini sejalan dengan penjelasan dari Sheehan (2007) bahwa teknologi keantariksaan dapat memberikan lima hingga 10 kali lipat keuntungan dari modal awal. Oleh karena itu, program keantariksaan menjadi salah satu prioritas utama untuk memperoleh keuntungan sosial dan ekonomi di era sebelum pemerintahan Narendra Modi.

Masyarakat internasional yang sebelumnya mempertanyakan alasan pengembangan program keantariksaan India di tengah kemiskinan yang dialami warga negaranya seakan memeroleh jawaban bahwa sebenarnya—dengan melihat fakta bahwa program keantariksaan India membawa keuntungan ekonomi—India harus memiliki dan mengembangkan program keantariksaan justru karena warga negaranya sedang menghadapi kemiskinan. Dengan memanfaatkan keberhasilan program keantariksaan dan perubahan persepsi dunia internasional terhadap India itu lah kemudian yang menjadi fondasi dari narasi program keantariksaan India sebagai pemenuhan tujuan luhur (Alberti 2018).

Program Keantariksaan Sebagai Alat Diplomasi

Motivasi dapat berevolusi dari waktu ke waktu. Meskipun para pemimpin India di awal perkembangannya menolak segala kegiatan keantariksaan yang tidak secara langsung terkait dengan alasan pembangunan yang jelas, tercapainya visi sosio-ekonomi yang diimpikan oleh Sarabhai pun juga kemudian dapat mengalami pergeseran. Keberhasilan yang dicapai India dalam penguasaan teknologi keantariksaannya telah menempatkan India pada posisi strategis untuk mengeksploitasi keberhasilannya dan memperluas pengaruhnya terhadap lanskap geopolitik global (Lele 2016). Keberhasilan misi-misi ini telah menggeser citra India dari yang sebelumnya hanya menjadi penerima teknologi keantariksaan dari negara-negara maju, kini telah menjadi negara kekuatan keantariksaan yang maju. Sebagaimana pergeseran kapabilitas dan pergeseran status terjadi, Narendra Modi seakan turut menggeser fokus program keantariksaan India yang sebelumnya beriorientasi pada tujuan sosio-ekonomi ke program yang lebih prestisius dan kompetitif, yaitu dengan menjadikan program keantariksaan India sebagai alat diplomasi untuk meningkatkan dominasi dan pengaruhnya dalam catur perpolitikan global sebagai ukuran kedudukan global (Gopalaswamy 2013).

Menggunakan cara yang serupa dengan apa yang dilakukan Cina dan Jepang, India dalam beberapa tahun terakhir telah mulai mengeksplorasi pemanfaatan program luar angkasa dalam perumusan kebijakan luar negerinya. Mengutip Prasad (2016), saluran diplomatik India semakin beralih ke penggunaan narasi-narasi mengenai keberhasilan program keantariksaan India. Program keantariksaan India dimanfaatkan sebagai kekuatan yang menjadi bargaining power bagi India untuk memeroleh manfaat dari perjanjian kerja sama dengan negara-negara lain, utamanya dalam upaya untuk memperluas pengaruh terhadap negara-negara lain (Prasad 2016). Pada konteks ini, perlu digarisbawahi bahwa kerja sama internasional dalam hal keantariksaan India memang bukan hal baru. Namun, perluasan progresif kompetensi teknis India di bidang keantariksaan 10 tahun terakhir telah memungkinkan India untuk secara sengaja menempatkan program keantariksaan sebagai upaya pencapaian tujuan diplomatik. Program keantariksaan India pun saat ini telah digunakan untuk mencapai dua tujuan inti kebijakan luar negeri India, yaitu memperkuat posisi dominannya di Asia Selatan dan mengklaim kepemimpinan politik negara-negara Global South.

Apa yang telah dilakukan India tersebut pada dasarnya mengindikan satu hal utama, yaitu adanya keinginan India untuk menjadi salah satu Global Great Power di dunia. Adapun terdapat tiga indikator sebuah negara untuk dapat dikatakan sebagai negara global great power di abad ke-21. Indikator pertama adalah kapabilitas ekonomi yang tinggi. Indikator kedua adalah indikator yang berhubungan dengan indikator pertama, yaitu militer. Hal ini dikarenakan setelah negara semakin kaya, lantas negara akan memiliki kecenderungan untuk memperkuat kekuatan militernya. Pada konteks India, dengan mempertimbangkan narasi-narasi India yang selalu berkaitan dengan keantariksaan, kekuatan militer yang mungkin akan dibangun India adalah kekuatan militer berbasis keantariksaan. Sedangkan indikator terakhir adalah dukungan dari negara-negara tetangga. Jika berdasarkan pada asumsi regional security complex, maka dukungan dari negara-negara tetangga hanya dapat diperoleh melalui cara-cara damai. Oleh karena itu, India dalam membangun citranya sebagai global great power harus menekankan pada akumulasi kekuatan lunak atau soft power dibandingkan kekuatan militer yang pada konteks ini, indikator-indikator tersebut sebaiknya diikat dengan kembali menggunakan narasi-narasi mengenai kepemilikan teknologi-teknologi berbasis keantariksaan sehingga dapat menjadi katalis bagi negara-negara lain untuk dapat menerima pengaruh India. Sebagaimana yang ditekankan sebelumnya, lingkungan yang damai dan makmur adalah prasyarat untuk keamanan nasional dan perluasan ekonomi India. Oleh karena itu, adalah hal yang wajar jika India menaruh pengembangan program keantariksaan sebagai prioritas tertinggi pembangunannya, mengingat keantariksaan adalah soft power yang cukup kuat dan mampu menarik negara-negara lain untuk berhubungan tanpa adanya paksaan (Nye 2004).

Inisiasi Kerja Sama Keantariksaan Sebagai Aksi Diplomasi India

Pada tahun 2014, Perdana Menteri India, Narendra Modi mengusulkan pengembangan satelit komunikasi sebagai “hadiah” untuk anggota South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC).Oleh karena itu, Indian Space Research Organisation (ISRO) yang merupakan badan keantariksaan milik India merancang satelit yang dapat menampung 12 transponder untuk mengoptimalkan penyiaran DTH, tele-medicine, tele-education, manajemen bencana, dan sejumlah layanan komunikasi di kawaasn Asia Selatan.Biaya terkait pembangunan dan peluncuran satelit semuanya ditanggung oleh India, sementara negara anggota lainnya cukup hanya berkontribusi pada ground stations mereka (Reddy 2017).Setelah kesuksesan peluncurannya, Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan sebagai berikut:

“With this launch we have started a journey to build the most advanced frontier of our partnership. With its position high in the sky, this symbol of South Asian cooperation would meet the aspirations of economic progress of more than 1.5 billion people in our region and extend our close links into outer space”

Efek limpahan positif dari peluncuran satelit pada diplomasi “neighborhood first” India ditunjukkan dengan baik oleh tanggapan hangat yang diberikan oleh semua pemimpin negara-negara Asia Selatan (Annadurai 2017). Presiden Maladewa Abdulla Yameen Abdul Gayoom, misalnya, menyatakan: “underlined India’s neighbourhood first foreign policy and showed its commitment to the development of the region”. Sementara Perdana Menteri Bhutan Tshering Tobgay memuji peluncuran itu dengan menyebut sebagai berikut: “impressive milestone in the history of the world with one Country launching a satellite for the free use of its neighbours” (Annadurai 2017). Respon-respon ini menunjukkan bahwa India telah berhasil dalam membangun citranya dalam kawasan. Pada tahap yang lebih lanjut, penggunaan program keantariksaan sebagai alat diplomasi India untuk membina hubungan dengan negara-negara kawasan berpotensi pada berhasilnya India dalam menyebarkan pengaruhnya di kawasan. Dengan demikian, dominasi India bukan lah hal yang tidak mungkin terjadi, setidaknya dalam kawasan.

Selain pembangunan satelit khusus Asia Selatan, inisiasi lain yang memiliki efek limpahan positif untuk tujuan kebijakan luar negerinya ditawarkan India melalui Proyek Telemedicine Inter-Asia dan India-Afrika. Sementara bantuan medis di negara-negara berkembang sebagian besar berasal dari negara-negara Barat, India telah menegaskan dirinya sebagai pemimpin yang tidak dibahas dalam hal penyediaan layanan kesehatan melalui telemedicine berbasis satelit. Menjadi tuan rumah jaringan telemedis terbesar di Asia Selatan, India telah berkembang tidak hanya ke negara-negara Asia lainnya tetapi juga ke benua Afrika baik di tingkat pemerintah maupun non-pemerintah (Bonnefoy 2014). Upaya pertama diprakarsai oleh pemerintah India pada tahun 2007, dengan proyek percontohan perawatan kesehatan yang menghubungkan rumah sakit di negara-negara SAARC dengan rumah sakit khusus di India. Dua tahun kemudian, proyek ini secara resmi diresmikan dan dinamai sebagai proyek SAARC e-Network Telemedicine. Sebagaimana dirinci oleh Bonnefoy (2014), INSAT ISRO yang dikembangkan India menghubungkan rumah sakit di Thimphu (Bhutan), Kathmandu (Nepal) dan Kabul (Afghanistan), dengan dua rumah sakit khusus di utara India. Sejak 2009, telah terdapat 148 sesi tele-edukasi, 110 sesi Pendidikan Medis Berkelanjutan, dan 15 telekonsultasi yang mencakup 19 spesialisasi berbeda, mulai dari pediatri hingga bedah saraf menjadi terhubung dengan adanya teknologi ini. Hal ini kemudian mengindikasikan bahwa implementasi teknologi India benar-benar berpengaruh dalam perkembangan negara-negara lain.

Tidak hanya menjalin hubungan dengan negara, India juga melibatkan organisasi nirlaba India, Apollo Telemedicine Networking Foundation (ATNF), untuk terlibat dalam proyek SAARC e-Network Telemedicine. India bahkan memberinya wewenang untuk mengelola proyek itu sendiri. Yayasan ini diberi layanan telemedicine dengan pusat-pusat khusus di negara-negara seperti Irak, Yaman, Kazakhstan dan Myanmar. Selain memfasilitasi pendidikan medis yang berkelanjutan, para dokter di rumah sakit di luar negeri menjadi terhubung dengan para dokter spesialis dari Rumah Sakit Apollo di India untuk melakukan rujukan, konsultasi, pendapat kedua, ulasan, dan tindak lanjut pasca perawatan (Dutta 2012).

Kesimpulan

Dengan berdasarkan pada fakta bahwa program keantariksaan India diterima oleh berbagai negara dalam kawasan, penulis menyimpulkan bahwa penggunaan program keantariksaan sebagai alat diplomasi India untuk menyebarkan pengaruhnya di kawasan berhasil dijalankan. Meski demikian, menempatkan program keantariksaan sebagai bagian dari tujuan kebijakan luar negerinya tidak dapat dilakukan begitu saja. Keberhasilan India pada konteks ini bergantung besar pada keberhasilan program keantariksaannya sebelumnya yang ditujukan untuk tujuan-tujuan sosio-ekonomi masyarakat India. Hal ini dikarenakan narasi-narasi yang membangun program keantariksaan sebagai kekuatan bagi India berawaldari tujuan-tujuan sosio-ekonomi tersebut. Pesan yang disampaikan India melalui narasinya pun sebenarnya sangat sederhana dan menarik; pengalaman India dapat relevan bagi negara berkembang yang ingin mewujudkan program yang hemat biaya dan bermanfaat secara sosial. Dengan menggunakan narasi-narasi yang dibawakan, bukan tidak mungkin bagi India untuk menyebarkan pengaruhnya secara lebih luas. Narasi-narasi yang dibawa India terkait program keantariksaan dapat dikatakan sangat mampu menjadi soft power India untuk menarik negara-negara lain, khususnya negara berkembang, untuk “belajar” dari India. Dengan menggunakan program keantariksaan, pengaruh India untuk masuk ke negara-negara lain bukan lah hal yang tidak mungkin.

Selain itu, hal penting yang menjadikan India mampu membawa program keantariksaan pada level perumusan kebijakan luar negeri adalah berkat adanya ambisi dari Perdana Menteri Narendra Modi untuk menggeser visi program keantariksaan yang sebelumnya berorientasi sosio-ekonomi menjadi lebih pada pengejaran prstise. Lebih lanjut, keinginan untuk memeroleh prestise tinggi tersebut mengarahkan India pada upaya untuk menggunakan program ini untuk menyebarkan pengaruhnya di luar negeri. Berangkat dari ambisi tersebut dan disertai dengan modal teknologi yang cukup matang, India kemudian berhasil memberi pengarunya secara lintas batas dengan menggunakan program keantariksaan sebagai alat diplomasinya. Alhasil, teknologi-teknologi keantariksaan milik India tidak hanya tersebar di seluruh negeri India, namun juga tersebar di seluruh kawasan Asia Selatan. Bahkan pada tahap yang lebih lanjut, bukan tidak mungkin bagi India untuk akhirnya mampu menembuskan pengaruhnya pada level global, apalagi dengan tersedianya kemampuan ekonomi yang dimiliki India saat ini.

Referensi

Aliberti, Marco, 2018. India in Space: Between Utility and Geopolitics. Vienna: Springer.

Annadurai, M, 2017a. Future exploration missions of ISRO, dalam 60th session of the United Nations Committee on peaceful uses of outer space. Vienna: UNOOSA

Bonnefoy, A., 2014. “Humanitarian telemedicine. Vienna: European Space Policy Institute.

Dutta, V., 2012. “Apollo enters Myanmar with telemedicine service”, The Economic Times.

Gopalaswamy, B., 2013. “India’s perspective”, dalam A. M. Tellis (Ed.), Crux of Asia. China, India and the emerging global order. Washington, DC: Carnegie Endowment for International Peace.

Kasturirangan, K. dan K. R. Sridhara Murthi. 2008. “India’s Future in Space Exploration”, dalam Harvard Asia Pacific Review, Vol. 2: 19-23

Lele, A., 2016. “Power dynamics of India’s space programme.”, Astropolitics: The International Journal of Space Politics and Policy, 14(2), 120–134.

Menon, Subhadra. 2008. “India’s Rise to the Moon”, dalam Nature: International Journal of Science. Vol: 455: 874-875

Nye, J., 2004. Soft power: The means to success in world politics. New York: Public Affairs.

Prasad, N., 2016. “Diversification of the Indian space programme in the past decade: Perspectives on implications and challenges”, Space Policy, 36, 38–45.

Reddy, V. S., 2017. “Exploring space as an instrument in India’s foreign policy and diplomacy”, dalam R. P. Rajagopalan & P. Narayan (Eds.), Space India 2.0 commerce, policy, security and governance perspectives (pp. 165–176). New Delhi: Observer Research Foundation.

Sachdeva, Gurbachan S, 2016. “Space Doctrine of India”, dalam Astropolitics: The International Journal of Space Politics & Policy. Vol 14.

Sheehan, Michael, 2007. The International Politics of Space, Abingdon; New York: Routledge