Peradaban Yunani Kuno hingga saat ini seringkali dikategorikan sebagai sebuah era yang penting bagi kehidupan manusia hingga kini. Peradaban ini disebut memiliki teknologi dan pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan peradaban lain di eranya dalam banyak bidang, tak terkecuali diplomasi. Istilah “diplomasi” sendiri bahkan diserap dari bahasa Yunani, yaitu diploun yang berarti melipat (Inoguchi dalam Kurizaki, 2007:58). Dalam tulisan kali ini, penulis akan menjelaskan mengenai diplomasi di era Yunani Kuno.

Praktek diplomasi di era Yunani Kuno dilakukan oleh para city-state yang ada pada saat itu (Kurizaki, 2007:58). Awalnya city-states Yunani Kuno bersifat sangat kontras dengan era sebelumnya yaitu Mesopotamia yang lebih terbuka terhadap pemerintahan asing dan memilih untuk lebih tertutup satu sama lain (Adcock, 1948:1-2). City-states yang ada saat itu meminimalisir interaksi terhadap city-states lainnya selama mereka tidak benar-benar membutuhkan bantuan. Hal ini juga didasari oleh sifat geografis Yunani yang bergunung-gunung sehingga satu wilayah akan terisolir dengan wilayah lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, interaksi antar city-states tidak dapat terhindarkan, dan praktek diplomasi antar city-states mulai berlangsung.

Praktek diplomasi di era ini menggunakan utusan-utusan diplomatis yang memiliki beberapa peran, yaitu sebagai penyampai pesan, pengambil keputusan diplomatis, serta berorasi di depan warga city-states lainnya (Kurizaki, 2007:58-59). Hal ini jelas menunjukkan adanya perbedaan antara utusan di era Mesopotamia yang hanya bertugas untuk menyampaikan pesan. Utusan city-states diwajibkan untuk berorasi di sudut-sudut kota yang sedang disinggahi untuk mempengaruhi warga kota lain agar setuju dengan apa yang diinginkan dengan negara asal utusan tersebut. Jumlah utusan yang berangkat bervariasi tergantung tingkat kepentingan praktek diplomasi, namun umumnya Athens mengirimkan 10 perwakilan serta Spartan mengirimkan 3 perwakilan (Mosley, 1965:257-260).

Menurut Adcock (1948, 3-6), Corinthian, Athens, dan Spartan sebagai city-states besar di era Yunani Kuno memiliki budaya diplomasi yang berbeda satu sama lain. Corinthian memiliki ciri khas diplomasi yang bersifat langsung dan halus serta percaya bahwa segala hal dapat digunakan sebagai objek perdagangan. Budaya Athens dalam berdiplomasi yaitu selalu menuntut sesuatu yang lebih tinggi dari sewajarnya namun tanpa disertai kemampuan bernegosiasi yang cukup karena utusan Athens cenderung kurang sepenuh hati dalam menjalankan tugasnya. Sementara Spartan cenderung bersikap egois dalam berdiplomasi.

Dari penjelasan di atas, penulis berpendapat bahwa terdapat beberapa hal yang diwariskan oleh era Yunani Kuno terhadap dunia diplomasi saat ini. Pertama adalah penggunaan utusan yang memiliki wewenang untuk bernegosiasi. Saat ini, diplomat juga bertugas untuk melakukan negosiasi untuk memenuhi kepentingan negaranya masing-masing. Warisan kedua adalah praktek diplomasi publik, yaitu memberikan pencitraan baik terhadap daerah asalnya serta mempengaruhi opini publik terhadap klausul negosiasi yang disampaikan. Di era modern ini, praktek diplomasi seperti ini umum dijumpai untuk memberikan citra tertentu di mata publik. Meski demikian, diplomasi di era ini memiliki kekurangan yaitu minimnya aspek legalitas terhadap perjanjian yang sudah dilaksanakan (Adcock, 1948:7).

Dari penjelasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa praktek diplomasi di era Yunani Kuno dilakukan oleh city-states. Awalnya setiap city-states cenderung lebih tertutup, namun karena interaksi antar city-states tidak dapat dihindarkan maka diplomasi mulai dilaksanakan untuk mencapai kesepakatan bersama. Utusan city-states yang dikirim tidak hanya berperan sebagai penyampai pesan, namun juga sebagai negosiator serta orator. Setidaknya terdapat tiga city-states yang memiliki corak budaya diplomasi yang berbeda, yaitu Corinthian, Athens, dan Spartan. Penulis berpendapat bahwa peran diplomat yang luas serta adanya praktek diplomasi publik merupakan warisan dari diplomasi di era ini terhadap dunia diplomasi hingga kini.

Referensi:

Adcock, F. E. (1948). The Development of Ancient Greek Diplomacy. L’antique Classique, Vol. 17, hal. 1-12.

Kurizaki, Shuhei. (2007). The Logic of Diplomacy in International Disputes. ProQuest. (hal. 58-60)

Mosley, J. Derek. (1965). The Size of Embassies in Ancient Greek Diplomacy. Transactions and Proceedings of the American Philological Association, Vol. 96, hal. 255-266.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.