Kawasan Melayu di dalam Asia Tenggara memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan kawasan-kawasan lain. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai dinamika dan berbagai macam aspek dalam kawasan Melayu tersebut. Menurut Trocki (1992), ketiga negara tersebut memiliki kesamaan dalam aspek historis yaitu proses dekolonialisasi tanpa pertumpahan darah. Ketiga negara tersebut mendapatkan kemerdekaan dari Inggris pasca Perang Dunia II. Selain itu, terdapat hubungan historis antara Malaysia dan Singapura yang keduanya berasal dari satu entitas yang sama yaitu Malaya sebelum akhirnya berpisah menjadi masing-masing negara independen berdaulat.

Berkaitan dengan ideologinya, masing-masing negara memiliki ideologi nasionalnya masing-masing. Pada awalnya, Malaysia menggunakan paham-paham sosialisme dan kapitalisme dalam kehidupan bernegara. Namun, seiring adanya isu rasial pada tahun 1969 Malaysia mengembangkan ideologi baru bernama Rukun Negara yang menekankan pada aspek-aspek kebersamaan dan persatuan (Rashid, 2004). Singapura juga memiliki ideologi yang secara substantif tidak memiliki perbedaan jauh dengan Malaysia yaitu ideologi komunitarianisme yang berfokus pada masyarakat dan komunitas sebagai suatu kesatuan. Berbeda dengan Malaysia dan Singapura, Brunei Darussalam memiliki ideologi yang relatif lebih berpusat pada satu kelompok agama tertentu yaitu Islam. Brunei menggunakan ideologi Melayu Islam Beraja yang pada intinya menjunjung tinggi kesultanan dengan azas-azas Islam.

Terdapat perbedaan yang signifikan berkaitan dengan kependudukan tiga negara Melayu ini berdasarkan jumlahnya. Malaysia memiliki jumlah penduduk kurang lebih 25 juta penduduk, sementara Singapura sekitar 5 juta penduduk, dan Brunei Darussalam hanya memiliki kurang lebih 400 ribu penduduk. Di Malaysia sendiri, dari 25 juta penduduk sebanyak 80% di antaranya berdomisili di wilayah Semenanjung Malaya. Singapura memiliki dinamika kependudukan yang unik dibandingkan kedua negara lain. Hal ini berkaitan dengan jumlah penduduk Singapura yang hampir setengahnya merupakan warga negara asing (Singapore Departement of Statistics 2015, 5).

Menurut Palmer (1989), terdapat empat unsur yang terdapat dalam stabilitas nasional suatu negara. Unsur pertama adalah stabilitas politik. Berkaitan dengan itu, ketiga negara Melayu ini memiliki pola perpolitikan yang berbeda. Malaysia merupakan negara dengan sistem politik parlementer yang dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Menggunakan azas multipartai, Malaysia merupakan negara monarki konstitusional dengan kepala negara seorang raja. Brunei Darussalam juga merupakan negara monarki yang dipimpin oleh seorang sultan meskipun memiliki beberapa partai politik di dalamnya. Sementara itu, Singapura merupakan negara dengan sistem parlementer yang dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Mulai tahun 1950-an hingga saat ini, dinamika perpolitikan Singapura didominasi oleh partai People’s Action Party (PAP) meskipun tidak menutup kemungkinan adanya partai politik lain.

Unsur kedua yang berkaitan dengan stabilitas nasional adalah unsur ekonomi. Ketiga negara ini relatif memiliki perekonomian yang cukup baik dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Menurut World Bank (2015), Gross Domestic Product (GDP) Malaysia mencapai angka 338 miliar Dolar Amerika Serikat pada tahun 2014 dengan sektor unggulan di agraria dan industri. Sementara itu, Singapura memiliki GDP sebesar 452 miliar Dolar Amerika Serikat dengan sektor unggulan di bisnis. Meskipun Brunei Darussalam hanya memiliki GDP sebesar 17 miliar Dolar Amerika Serikat, jumlah penduduknya yang sedikit menempatkan GDP per kapita Brunei termasuk negara dengan kondisi perekonomian yang baik di kawasan Asia Pasifik dengan sektor unggulan di perminyakan.

Dua unsur berikutnya adalah unsur sosial dan unsur budaya. Baik Malaysia dan Singapura memiliki diversifikasi dalam hal etnisitas penduduknya yang terdiri dari etnis Melayu, Tionghoa, dan India, namun etnis Melayu merupakan etnis mayoritas di antara ketiga negara ini. Di Malaysia, sekitar setengah penduduknya merupakan etnis melayu dan mayoritas penduduknya merupakan pemeluk agama Islam. Di Singapura, etnis Tionghoa merupakan etnis dominan dengan jumlah sekitar 76%. Etnis Melayu mendominasi di Brunei Darussalam dan hampir 90% penduduknya merupakan pemeluk agama Islam (CIA, 2016). Dinamika kebudayaan di masing-masing daerah sedikit banyak dipengaruhi oleh etnis mayoritas di negara masing-masing. Malaysia merupakan negara dengan kebudayaan Melayu yang kental, sementara kebudayaan Brunei didasari oleh agama Islam. Kebudayaan di Singapura juga didominasi oleh etnis mayoritas yaitu kebudayaan-kebudayaan khas Tionghoa.

Terdapat perbedaan dalam kondisi pertahanan ketiga negara tersebut. Malaysia memiliki anggaran militer sebesar 5,1 miliar Dolar Amerika Serikat pada tahun 2015 (World Bank, 2015). Anggaran tersebut meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang berada di bawah angka 5 miliar Dolar Amerika Serikat. Pada tahun 2014, Brunei Darussalam memiliki anggaran militer sekitar 660 juta Dolar Amerika Serikat yang meningkat dari 500 juta Dolar Amerika Serikat pada tahun 2011. Secara anggaran militer, anggaran Singapura tidak jauh berbeda dengan anggaran Malaysia yaitu sekitar 5,7 miliar Dolar Amerika Serikat. Namun, kondisi geografis Singapura yang kecil serta berada di lautan dangkal merupakan kekurangan tersendiri bagi Singapura sehingga Singapura mengikuti pakta pertahanan bersama dengan Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Malaysia.

Masing-masing negara juga memiliki strength, weakness, opportunity, and threat (SWOT) yang tidak jauh berbeda yang juga berkaitan dengan isu nasionalnya. Ketiga negara ini memiliki keunggulan di bidang ekonomi dengan sektor unggulannya masing-masing, yaitu Singapura dengan bisnis, Malaysia dengan agrikultur serta industry, dan Brunei Darussalam dengan perminyakan. Kemampuan ekonomi tersebut digunakan oleh masing-masing negara sebagai peluang untuk berkembang di ruang lingkup global. Kekurangan dan ancaman ketiga negara ini berkaitan dengan isu sosial dan politik, dimana Malaysia berada dalam kondisi politik yang buruk, masyarakat Singapura yang mulai xenophobic padahal merupakan negara yang hampir separuh di antaranya merupakan warga asing, serta Brunei yang dianggap mendiskriminasi warga negaranya yang non-Islam.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga negara Melayu tersebut memiliki berbagai kesamaan dan perbedaan. Kesamaan umumnya terletak pada aspek sosial terutama bagi Malaysia dan Brunei Darussalam. Meskipun tergolong sebagai negara Melayu, Singapura memiliki disting tersendiri dalam hal sosial mengingat etnis mayoritasnya adalah Tionghoa. Perbedaan terletak pada aspek ekonomi, militer, serta SWOT dan isu-isu nasional.

Referensi:

CIA, (2016). Brunei [online]. Tersedia dalam http://www.cia.gov/library/publications/the-world                -factbook/geos/bx.html (diakses 16 Maret 2016).

Palmer, Monte, (1989). Dilemmas of Political Development. F. E. Peacock Pub.

Rashid, Abdul Rahim, (2004). Patriotisme; Agenda Pembinaan Bangsa. Maziza SDN.BHD, Kepong Baru.

Singapore Departement of Statistics, (2015). Population Trends 2015 [Online] Tersedia di https://www.singstat.gov.sg/docs/default-source/default-document-library/publications/publications_and_papers/population_and_population_structure/population2015.pdf. [Diakses pada 22 Maret 2016].

Trocki, Carl A., (1992). Political Structures in the Nineteenth and Early Twentieth Centuries. Dalam Nicholas Tarling The Cambridge History of Southeast Asia. Cambridge   University Press, pp. 75-126.

World Bank, (2015). Overview: Malaysia [online]. Tersedia di http://www.worldbank.org/en/country/malaysia/overview [Diakses pada 22 Maret 2016].

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.