Pada awalnya, studi Hubungan Internasional (HI) dianggap sebagai suatu wisdom yang tidak didasarkan pada penelitian dan observasi melainkan dari pengamatan dari bukti-bukti empiris saja. Studi HI kemudian mengalami revolusi pemikiran hingga dipandang sebagai science atau ilmu pengetahuan yang memiliki teori-teori dan dasar pemikiran tertentu seperti cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain. Lebih lanjut, hingga saat ini masih terdapat perdebatan mengenai jangkauan dan batas atas kajian dalam studi HI yang terdiri dari core atau kajian inti dan auxiliary atau kajian pendukung. Perbedaan akar pemikiran HI secara tradisional dan kontemporer juga menimbulkan kompleksitas tersendiri bagi para akademisi. Maka dari itu, muncul urgensi pemahaman lebih lanjut mengenai fokus dan metode pendekatan studi HI yang dianggap paling sesuai untuk digunakan didalam ranah akademik.

Studi HI telah dikembangkan sejak beberapa dekade yang lalu khususnya di Eropa dan Amerika. Perkembangan awal studi HI berakar dari pandangan bahwa HI merupakan sebuah wisdom yang mana pemahaman mengenai fenomena-fenomena hubungan internasional banyak didapatkan dari pengalaman pribadi dan wawasan historis (McClelland, 1969). Para pemikir di Eropa Modern seperti Machiavelli dan Bismarck menganalisis HI dengan menggunakan deskripsi historis yang kemudian dikombinasikan dengan prinsip-prinsip, teori, dan generalisasi tertentu. Bull (1972) menjelaskan beberapa keuntungan yang dimiliki oleh pendekatan historis antara lain dapat memberi pemahaman dari sudut pandang aktor dengan menganalisis latar belakangnya, dapat memberi spesifikasi waktu dalam analisis politik internasional yang terdiri dari serangkaian peristiwa, dan dapat memberi studi kasus yang konkrit dalam pembuktian teori-teori yang ada. Namun di sisi lain, pendekatan historis sulit untuk diaplikasikan secara menyeluruh karena tidak ada jalan pintas dalam memahami sejarah. Oleh karenanya, terjadi revolusi ilmiah atau behavioralisme yang melihat pola, respon, dan pengulangan tindakan dalam hubungan internasional sehingga dapat memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam situasi tertentu (McClelland, 1969).

Lebih lanjut, revolusi behavioralis terjadi pasca Perang Dunia II ketika terdapat banyak fenomena baru dan penelitian mulai mendapat dukungan dari pemerintah (Platig, 1969). Pendekatan behavioralis telah banyak digunakan hingga sekarang dengan melihat pola-pola interaksi dan generalisasi untuk menjelaskan fenomena-fenomena internasional tradisional dan kontemporer. Pola tersebut didapatkan dari kesalahan-kesalahan prediksi yang terjadi di masa lampau sehingga dapat menghasilkan prediksi yang lebih akurat. Maka dari itu, pendekatan behavioralis hanya dapat menghasilkan kemungkinan-kemungkinan, bukan kepastian. McClelland (1969) menyebutkan bahwa terdapat tiga tahap aplikasi pendekatan behavioralis yakni menyusun hipotesis, memastikan hipotesis tersebut dapat diuji secara ilmiah, dan menganalisis, mengumpulkan, membandingkan, dan mengintegrasikan hasil yang didapat. Terkait hal ini, teori berperan sebagai alat penjelas keadaan politik dunia secara umum yang mana teori-teori tersebut bisa bersifat kritis, spekulatif, maupun konstruktif (Bull, 1972). Namun pada kenyataannya, pendekatan ilmiah dan historis saling berkaitan dan saling membutuhkan satu sama lain karena untuk memahami HI secara menyeluruh, dibutuhkan wawasan sejarah yang diikuti dengan pembuktian dari generalisasi teori agar dapat memahami dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di masa depan.

Selanjutnya, penting untuk mengetahui batasan-batasan dan lingkup bahasan dari sebuah studi. Secara umum, Platig (1969) menjelaskan bahwa HI merupakan sebuah studi dengan campuran program dan strategi yang seringkali tumpang tindih dan berdampingan. Studi HI yang interdisipliner kemudian juga memasukkan strategi-strategi dari cabang ilmu lain seperti ekonomi, psikologi, dan sosial. Namun pada dasarnya, HI memiliki ruang lingkup yang dapat dibagi menjadi bagian inti dan luar. Bagian inti kajian HI membahas interaksi antar pemerintahan negara yang berdaulat, distribusi kekuasaan didalam sistem internasional (Platig, 1969) dan politik kontemporer antar negara (Bull, 1972). Dengan kata lain, inti dari kajian HI lebih banyak membahas aspek politik dalam sistem internasional. Namun, fokus kajian tersebut mengalami perkembangan pula dengan adanya penelitian perdamaian yang mengkritik studi HI karena hanya dapat menjelaskan fenomena yang ada dan kurang memberi kontribusi terhadap resolusi konflik. Selain itu, kajian HI juga dianggap terlalu fokus pada interaksi antar negara saja dan tidak terlalu menganggap penting peran dari aktor-aktor non negara, sehingga seharusnya studi HI lebih cocok disebut dengan studi Politik Dunia (Bull, 1972).

Lebih lanjut, bagian luar dan batasan lingkup studi HI terletak pada pembahasan mengenai karakteristik pemerintah yang terlibat dan konteksnya dalam sistem politik yang multinasional. Studi HI yang interdisipliner kemudian memasukkan berbagai cabang ilmu kedalam pembahasannya karena satu fenomena internasional tentu perlu ditinjau dari berbagai aspek agar dapat dipahami secara utuh. Platig (1969) menjelaskan lebih jauh bahwa meski studi HI memiliki jangkauan yang luas, namun terdapat batasan empiris dan intelektual yakni membahas interaksi dari aktor-aktor utama dan sistem politik multinasional. Dengan demikian, difusi dan kombinasi dari cabang ilmu lain hanya digunakan untuk mendukung dan menghubungkan teori-teori yang ada dengan konsep inti HI.

Penulis dapat menyimpulkan bahwa studi Hubungan Internasional telah mengalami perkembangan dalam dinamikanya sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan. Hingga saat ini, baik pendekatan historis maupun pendekatan ilmiah masih relevan digunakan dalam HI karena keduanya tidak dapat dipisahkan. Untuk menjelaskan fenomena dalam sistem internasional, dibutuhkan teori-teori yang didasarkan kepada peristiwa-peristiwa historis di masa lampau. Pemahaman mengenai sejarah teori-teori tersebut juga dibutuhkan untuk analisis kritis dan konstruktif. Ruang lingkup bahasan dalam studi HI yang interdisipliner memang luas dan kompleks, namun inti dari kajian HI adalah interaksi dari aktor-aktor utama dan sistem politik multinasional sehingga difusi dari cabang ilmu lain hanya digunakan untuk mendukung dan menghubungkan teori-teori yang ada dengan konsep inti HI. Penulis beropini bahwa studi HI membahas serangkaian peristiwa-peristiwa yang saling terhubung dan berproses sehingga penting untuk mengkajinya dari berbagai sisi dan memperhatikan hubungan kausalitas yang terjadi antar fenomena.

Referensi:

Bull, Hedley. 1972. “International Relations as an Academic Pursuit” dalam Australian Outlook, Vol. 26, No. 3, pp. 165-251

McClelland, Charles A. 1969. “International Relations: Wisdom or Science?” dalam James N Rosenau, International Politics and Foreign Policy. New York: The Free Press,  pp. 3-5.

Platig, E. Raymond. 1969. “International Relations as a Field of Inquiry” dalam James N Rosenau, International Politics and Foreign Policy. New York: The Free Press, pp. 6-19.