Hubungan internasional yang terjadi di dunia dapat dikaji melalui berbagai pendekatan dan meliputi berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Selama ini analisis para akademisi terkait Hubungan Internasional hanya banyak berbicara mengenai politik, keamanan, militer, dan ekonomi. Seiring berjalannya waktu, para penstudi Hubungan Internasional mulai menyadari pentingnya menganalisis dunia internasional dengan menggunakan sudut pandang budaya atau kultur. Budaya merupakan salah satu aspek penting yang dapat digunakan untuk mengkaji berbagai fenomena yang terjadi baik dalam ranah domestik maupun internasional meski seringkali dianggap remeh dan tidak memberi dampak yang signifikan. Budaya, sebagaimana dunia internasional, tidak pernah bersifat statis namun selalu dinamis (Majie, 2002). Maka dari itu, keduanya saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain karena budaya dapat termasuk ke dalam salah satu aspek yang mendasari perubahan tersebut, namun juga dapat berkembang karena adanya dinamika dalam dunia internasional itu sendiri.

Para akademisi memiliki cara pandang yang berbeda dalam mendefinisikan budaya. Tyler dalam (Majie, 2002) mengatakan bahwa budaya adalah suatu kesatuan kompleks yang meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, adat istiadat, dan kapabilitas lain yang dimiliki manusia. Sedangkan Clyde Kluckholm dalam Majie (2002) beranggapan bahwa budaya adalah sistem yang terbentuk dari sejarah manusia terkait ketahanan diri serta memiliki kecenderungan untuk disebarluaskan dalam suatu periode tertentu. Terdapat pula pendapat yang mengatakan bahwa dasar fundamental budaya adalah kreativitas manusia atau dengan kata lain, segala hal yang berhubungan dengan manusia dapat dikatakan sebagai budaya. Secara singkat, budaya adalah seluruh kekayaan material dan spiritual yang telah tercipta dari catatan sejarah kehidupan manusia (Majie, 2002). Namun, hal terpenting dari sebuah kultur adalah orientasi nilai yang terkandung didalamnya. Nilai-nilai tersebut kemudian dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan perilaku dan keputusan seseorang atau sebuah negara.

Lebih lanjut, Majie (2002) memaparkan bahwa budaya atau kultur dapat memengaruhi Hubungan Internasional dalam lima model yaitu yang pertama, budaya memiliki peran penting dalam pencapaian suatu negara karena budaya merupakan suatu dasar bagi kondisi spiritual, etika, dan ekonomi dalam kehidupan manusia. Kedua, kultur berperan sebagai navigasi pembuat keputusan suatu negara. Kultur dapat mendefinisikan nilai, kepentingan, kebiasaan, dan keinginan sehingga para pemimpin yang menganalisis dan menyelesaikan masalahnya sehingga melalui pandangan kultur yang berbeda akan menghasilkan kebijakan yang berbeda pula (Majie, 2002). Ketiga, kultur sebagai desainer dari struktur sosial dan ekonomi yakni kultur dapat mendasari pergerakan suatu institusi internasional dan dapat memengaruhi peran negara didalamnya. Struktur sosial dan ekonomi dan sosial yang terdapat dalam suatu peradaban banyak bergantung pada nilai-nilai budaya yang ada.

Keempat, kultur sebagai variabel penting dalam Hubungan Internasional yaitu pada dasarnya konflik-konflik dalam politik global terjadi antar negara dan peradaban yang mana banyak dipengaruhi pula oleh perbedaan kultur karena kultur sendiri digunakan oleh negara sebagai penentu perilaku. Majie (2002) menjelaskan bahwa perbedaan kultur atau cultural gap dapat menjadi salah satu sumber konflik dalam dunia internasional karena perbedaan orientasi nilai yang dimiliki negara-negara. Permasalahan kultur semakin marak terjadi pada masa pasca Perang Dingin karena pada saat itu, kontradiksi yang ada tertutupi oleh peran dua negara hegemon yang berkuasa. Maka ketika Perang Dingin berakhir, mulai muncul kembali konflik-konflik terkait etnis dan agama di berbagai wilayah di dunia. Namun meski dapat memunculkan konflik, perbedaan kultur juga dapat berperan sebagai dasar harmoni dan keselarasan dalam Hubungan Internasional. Setiap kultur pasti mengandung nilai-nilai yang positif dan negatif sehingga perbedaan kultur yang ada dapat menyebabkan adanya refleksi diri dari masing-masing pihak dan sebagai pertukaran kebaikan (Majie, 2002). Menilik lebih dalam, terwujudnya dapat dijelaskan dengan melihat kemajuan teknologi, kemudahan akses informasi, dan transportasi yang menyebabkan muncul kultur dunia yang cenderung seragam dan komplementer. Kesamaan kultur tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk bekerjasama karena mulai muncul interdependensi dan kepentingan bersama (Majie, 2002).

Lebih lanjut, pada pasca Perang Dingin, kultur Barat khususnya Amerika Serikat mulai mendominasi dunia. Amerika Serikat sendiri menginginkan tatanan dunia yang unipolar namun banyak negara-negara yang mendukung multipolar. Majie (2002) menjelaskan bahwa terdapat lima bukti bahwa negara Barat telah menggunakan kultur untuk merebut kembali kekuasaannya. Pertama, diplomasi Hak Asasi Manusia yang dipelopori oleh Amerika Serikat. Hak Asasi Manusia dipandang sebagai suatu hal yang universal dan harus diterapkan oleh negara-negara lain. Hal ini kemudian menjadi “senjata” Amerika untuk mengintervensi kedaulatan negara lain dan untuk menghancurkan rezim-rezim yang menghalangi jalannya (Majie, 2002). Kedua, Amerika Serikat memasukkan nilai-nilai liberalnya dalam institusi internasional untuk mencapai kepentingan nasionalnya sendiri.

Pada akhirnya hal ini memunculkan bias pada keputusan yang dikeluarkan oleh institusi internasional meski seharusnya keputusan tersebut harus berdasar pada keinginan dan kebutuhan komunitas dunia. Ketiga, intervensi humanitarian yang dilakukan oleh institusi internasional seperti PBB kepada negara-negara yang dianggap melanggar Hak Asasi Manusia menjadi akses penggunaan kekuatan militer untuk mengancam kedaulatan negara tersebut (Majie, 2002). Selanjutnya, penyebaran kultur dan paham liberalnya juga dilakukan melalui pasar dan komersil sebagai sumber komoditas. Industri-industri kreatif seperti televisi, film, dan siaran radio dimajukan agar dapat masuk ke pasar asing dan penyebaran menjadi semakin mudah. Namun negara-negara lain di dunia tidak serta merta menerima kultur dan ide yang disebarkan oleh negara Barat tersebut. Keadaan dunia yang multipolar mulai memunculkan kompetitor-kompetitor dengan penyebaran ideologinya sendiri dan teori-teori terkait ancaman yang disebabkan oleh negara Barat. Negara Barat sendiri menyikapi hal ini dengan menganggap gerakan-gerakan tersebut adalah gerakan nasionalis yang berbahaya dan menentang Hak Asasi Manusia (Majie, 2002).

Dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain isu-isu politik, ekonomi, dan keamanan yang seringkali dibahas dalam Hubungan Internasional, aspek lain seperti budaya juga merupakan hal yang penting untuk dikaji. Secara singkat budaya adalah gabungan aspek material dan spiritual yang tercipta melalui sejarah kehidupan manusia di dunia. Budaya atau kultur sendiri memiliki peran penting dalam Hubungan Internasional yakni sebagai dasar pencapaian suatu negara, navigasi pembuat keputusan, desainer dari struktur sosial dan ekonomi, variabel penting, dan sebagai dasar harmoni dalam tatanan dunia. Seiring dengan perkembangan zaman khususnya pasca Perang Dingin, kultur mengalami perkembangan pesat yang juga memengaruhi strategi negara-negara dalam menentukan langkah dan kebijakannya. Kultur sendiri dapat menyebabkan konflik karena adanya cultural gap antara satu peradaban dengan peradaban lain namun juga dapat menyebabkan integrasi antar negara karena mulai muncul kultur dunia yang tidak dianut oleh suatu negara tertentu saja sehingga terdapat pula kepentingan bersama. Penulis beropini bahwa kultur memang tidak dapat dilihat dan diukur namun keberadaannya merupakan salah satu faktor penting dalam dinamika Hubungan Internasional.

Referensi:

Majie, Zhu. 2002. “Contemporary Culture and International Relations” dalam Yu Xintian, ed., Cultural Impact on International Relations. Washington D.C: Council for Research in Values and Philosophy, pp. 23-39