Polisi Israel di Jerusalem menembak mati seorang warga Palestina berkebutuhan khusus karena dicurigai membawa senjata pistol pada Sabtu lalu. Kantor berita resmi Palestina, Wafa, mengidentifikasi korban sebagai Iyad Hallak, seorang pemuda berusia 32 tahun yang mengidap autisme dan tengah berjalan kaki menuju sekolah untuk masyarakat berkebutuhan khusus ketika ia ditembak. Hasil otopsi oleh the Institute of Forensic Medicine di Abu Kabir menunjukkan bahwa Hallak meninggal dunia akibat dua peluru di dadanya. Dalam sebuah pernyataan, pihak kepolisian Israel mengatakan bahwa Hallak memiliki gerakan yang mencurigakan dan membawa benda yang terlihat seperti pistol. Ketika diminta untuk berhenti, ia tetap berjalan sehingga polisi mulai meluncurkan sejumlah tembakan yang berakhir pada tewasnya Hallak.

Dikutip dari Channel 12 dalam Los Angeles Times, polisi perbatasan Israel menembakkan peluru ke kaki Hallak, lalu mengejarnya hingga menemui jalan buntu. Dituliskan pula bahwa seorang polisi senior telah memberi perintah untuk menghentikan serangan namun tidak didengar oleh polisi lain yang kemudian tetap menembakkan sekitar enam hingga tujuh peluru tambahan dari senjata M-16-nya. Video dari Associated Press menunjukkan bahwa ditemukan tiga lubang peluru di tembok putih di tempat kejadian, sedangkan Hallak sendiri ditemukan tidak membawa senjata apa pun. Ayah Hallak, Kheiri, mengatakan bahwa pasca kejadian tersebut, polisi juga telah menggeledah rumahnya dan tidak menemukan apa pun. Sedari kecil, Hallak telah didiagnosis dengan autisme dan memiliki kesulitan komunikasi dengan orang lain. Salah seorang sepupu Hallak mengatakan bahwa: “ia bahkan tidak mengerti arti polisi, tentara, atau senjata. Ia hanya melihat orang asing dan lari, dan mereka masih menembakinya.”

Dalam beberapa hari belakangan, telah terjadi peningkatan kekerasan di Jerusalem timur dan Tepi Barat, meski tidak separah tahun 2015-2016 ketika pasukan keamanan Israel berupaya menghentikan serangan lone wolf di jalanan. Kelompok pejuang HAM Palestina dan Israel kemudian telah berulang kali mengecam aksi aparat keamanan yang menggunakan kekerasan di jalanan khususnya untuk orang-orang yang berjalan sendirian dan hanya “terlihat” mencurigakan, termasuk dalam kasus Hallak. Ayman Odeh, ketua partai Arab terbesar di parlemen menuliskan bahwa: “rakyat harus menolak kasus yang ditutup-tutupi dan menuntut keadilan untuk polisi yang bersalah. Keadilan hanya akan terwujud ketika keluarga Hallak serta semua rakyat Palestina mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan.”

Beberapa pihak kemudian juga mengaitkan kejadian ini dengan kematian George Floyd di Amerika Serikat yang juga dibunuh oleh aparat kepolisian. Di Jerusalem Barat, sekitar 150 demonstran berkumpul dan melaksanakan aksi unjuk rasa terkait kekerasan polisi. Demonstrasi serupa juga terjadi di Tel Aviv dan Jaffa pada hari Sabtu dan Minggu lalu. Mereka menyuarakan slogan-slogan dan seruan kemarahan antara lain “a violent policemen must stay inside” dan ”Palestinian lives matter”. Di hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel meminta maaf atas kematian Hallak. Benny Gantz, Perdana Menteri “bergilir” Israel yang duduk berdampingan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, juga mengatakan bahwa: “kami meminta maaf atas insiden penembakan Iyad Hallak dan kami juga turut berduka. Saya yakin isu ini akan segera diselidiki dan akan menemui akhir yang baik.”

Ketegangan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh rencana Israel untuk melebarkan wilayahnya di Tepi Barat dengan persetujuan Presiden Trump dalam Rencana Timur Tengahnya, yang banyak memeroleh kritik dari rakyat Palestina karena dipandang tidak adil. Netanyahu mengatakan bahwa Israel akan menerapkan rencana ini pada bulan Juli mendatang. Dalam rencana ini, warga Palestina diperbolehkan menetap di luar perbatasan Israel dengan otonomi pemerintahan yang terbatas dan harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Menghadapi hal ini, Mahmoud Abbas dari pihak the Palestinian Authority (PA) yang memerintah daerah otonom di Tepi Barat pada pekan lalu mengatakan bahwa Palestina akan hengkang dan menghentikan perjanjian-perjanjian terdahulu – termasuk Perjanjian Oslo hingga koordinasi keamanan terbaru – yang telah disepakatinya dengan Israel dan Amerika Serikat, serta memutus hubungan khususnya terkait kerjasama keamanan sebagai bentuk protes atas rencana tersebut.

Meski demikian, beberapa pihak menganggap bahwa keputusan tersebut hanya sebuah gertakan semata karena ancaman serupa telah diungkapkan beberapa kali sebelumnya oleh pihak Palestina. Tareq Baconi, seorang analis hubungan Israel-Palestina dari International Crisis Group mengatakan bahwa rencana tersebut memang ada, namun belum benar-benar dilaksanakan karena jika benar, maka seharusnya kini Abbas telah melakukan tindakan yang lebih keras dengan menghancurkan struktur-struktur yang dibuat dalam perjanjian-perjanjian tersebut, termasuk PA itu sendiri. Akan tetapi, Sekjen the Palestine Liberation Organization (PLO), Saeb Erekat berpendapat bahwa hubungan keamanan dan intelijen nampaknya memang telah terputus. Meski ia tidak dapat menjelaskan secara detil, namun ia memastikan bahwa Palestina telah menghentikan kontak dengan CIA dan badan intelijen Israel.

Referensi:

Hasson, Nir dan Peleg, Bar. 2020. “Autistic Palestinian Shot Dead by Israeli Police Laid to Rest: ‘He Didn’t Even Know What a Soldier Is’” [online] tersedia dalam https://www.haaretz.com/middle-east-news/palestinians/.premium-palestinian-shot-dead-by-israeli-police-he-didn-t-even-know-there-was-such-a-thing-1.8885850 [diakses 2 Juni 2020]

Holmes, Oliver. 2020. “Palestine Cuts off All Ties with Israel and US: is it a Bluff” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/world/2020/may/25/palestine-cuts-off-all-ties-with-israel-and-us-is-it-a-bluff-mahmoud-abbas [diakses 2 Juni 2020]

Los Angeles Times. 2020. “Israeli Forces Kill Unarmed Autistic Palestinian” [online] tersedia dalam https://www.latimes.com/world-nation/story/2020-05-30/israeli-forces-kill-unarmed-autistic-palestinian-man [diakses 2 Juni 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R