Jenis coronavirus baru yang secara resmi diberi nama COVID-19, telah menyebabkan penyakit pernapasan yang cukup mengkhawatirkan bagi masyarakat dunia. Berawal dari Tiongkok dan telah menyebar ke 24 negara di dunia, kini virus COVID-19 dinyatakan sebagai public health emergency of international concern (PHEIC) yang kelima kali sepanjang sejarah oleh World Health Organization (WHO). Hal ini disebabkan oleh tanda-tanda penularan melalui transmisi human-to-human di luar Tiongkok dan kekhawatiran WHO jika virus tersebut menyebar di negara yang memiliki sistem pelayanan kesehatan yang lemah. Virus ini telah menyebabkan 1369 kematian sejak Desember 2019 (2,9% dari 46.550 kasus) dengan dua di antaranya berada di luar Tiongkok yakni di Jepang dan Filipina. Hingga kini, ribuan kasus telah dikonfirmasi di Tiongkok dan diprediksi akan terus meningkat.

Secara sederhana, dapat dipahami bahwa coronavirus terdiri dari inti material genetik yang tertutup dalam lapisan protein dan menyerupai mahkota (dalam bahasa Latin, corona). Virus ini dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan gejala-gejala gastrointestinal. Beberapa gejalanya dapat bersifat ringan namun dalam beberapa kasus dapat berakibat pada penyakit fatal seperti pneumonia. Lebih lanjut, penyebaran virus ini dapat dilakukan antar manusia atau disebut dengan human-to-human transmission seperti cairan ketika seseorang batuk atau bersin, atau dengan menyentuh permukaan yang terkena virus tersebut. Wilayah penyebaran virus ini banyak terjadi di Wuhan – pusat penyebaran –  namun juga dapat terjadi di bagian lain Tiongkok dan negara-negara lain.

Tidak hanya mempengaruhi tingkat kesehatan global saja, namun juga di bidang ekonomi. Menurut artikel Overseas Development Institute (ODI), coronavirus outbreak juga menyebabkan dampak pada dinamika ekonomi global. Dituliskan bahwa pada tahun 2003, penyebaran virus the severe acute respiratory syndrome (SARS) telah menurunkan output ekonomi dunia sebesar 50 triliun dolar. Sedangkan kini, mengingat GDP Tiongkok sebesar 17% di dunia, munculnya coronavirus diprediksi dapat menyebabkan penurunan ekonomi global sebesar 360 triliun dolar. Dampak nyatanya dapat dilihat dalam penurunan harga pasar, produksi yang tertunda, penutupan batas teritori, dan pembatalan penerbangan lintas negara. Dengan kata lain, penurunan ekonomi yang dialami Tiongkok tentu akan mempengaruhi negara-negara lain pula, khususnya negara-negara kelas menengah dan bawah.

Menghadapi hal tersebut, negara-negara di dunia mulai menunjukkan kekhawatirannya terhadap penyebaran coronavirus lebih lanjut dan mengadakan pengetatan pada alur mobilitas antar negara dan mengadakan pertemuan-pertemuan terkait langkah-langkah medis apakah yang harus diambil selanjutnya. Sebagai contoh, Singapura merupakan salah satu negara yang dipandang rentan terhadap coronavirus dengan 67 kasus tercatat, sebagaimana dinyatakan oleh Lawrence Wong, co-chair dari task force Singapura terkait coronavirus. Singapura merupakan salah satu negara dengan tingkat interkonektivitas yang tertinggi dengan dunia internasional. Faktanya, setiap 80 detik terdapat setidaknya satu penerbangan yang berangkat ataupun datang di Bandara Changi, Singapura – lebih tinggi dibandingkan dengan Bandara JFK dan San Fransisco di Amerika Serikat dan Dubai di Uni Emirat Arab.

Dalam interkonektivitas yang tinggi tersebut Singapura menyadari pentingnya keamanan yang lebih ketat untuk mencegah penyebaran coronavirus. Hal ini kemudian dilakukan dengan memasang alat pendeteksi suhu tubuh di bandara untuk secara otomatis dapat mendeteksi suhu tubuh penumpang yang akan memasuki dan meninggalkan Singapura, serta menugaskan sejumlah staff untuk memeriksa gejala demam dan batuk yang merupakan gejala utama dari coronavirus itu sendiri. Sementara itu, tidak hanya dari negara, respon terhadap coronavirus juga datang dari INGO khususnya di bidang bantuan kemanusiaan dan kesehatan. Meski sebelumnya, Tiongkok cenderung tertutup terhadap informasi dan bantuan eksternal dari INGO, kini telah mengurangi restriksi visa untuk bantuan dari organisasi internasional. Contohnya salah satu organisasi kesehatan dari California, Direct Relief, telah mengirimkan 572.000 masker N95, lebih dari 340.000 sarung tangan, dan sejumlah lain barang-barang lain. Save the Children China juga telah mengirimkan 36.000 masker dari gudang fasilitas di Indonesia untuk rumah sakit di Wuhan, dengan bantuan dari relawan setempat.

Selain itu, komunitas internasional juga telah menyusun the Strategic Preparedness and Response Plan (SPRP) terkait aktivitas terbaru coronavirus dengan mengumpulkan biaya sebesar 675 juta dollar serta melakukan upaya-upaya untuk menyediakan sumber daya dan fasilitas yang dibutuhkan oleh organisasi-organisasi kesehatan di tingkat global termasuk WHO agar dapat mengimplementasikan kesehatan publik sebagai prioritas khususnya di negara-negara yang paling rentan terhadap virus tersebut. Menurut Dr Mike Ryan, kepala program kesehatan darurat WHO, respon outbreak yang efektif banyak bergantung pada kesiapan pemeriksaan sebelum outbreak tersebut datang. Maka dari itu, diperlukan sumber daya yang cukup untuk mengamankan negara-negara yang paling rentan sebelum virus memasuki wilayah tersebut.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa munculnya virus corona tipe COVID-19 sejak Desember 2019 telah menimbulkan kekhawatiran tidak hanya dari Tiongkok saja namun juga telah mempengaruhi dinamika internasional. Dalam menghadapi hal ini, aktor-aktor internasional yakni negara dan organisasi internasional telah mengupayakan pencegahan dan penanganan medis agar keadaan dapat tetap terkendali dan menurunkan kecemasan masyarakat terhadap penyebaran virus ini. Terkait hal ini, prioritas penanganan terletak pada negara-negara yang dipandang masih memiliki tingkat pelayanan kesehatan yang masih lemah dan juga terus mengirimkan bantuan-bantuan medis pada Tiongkok dan negara-negara lain dengan penderita coronavirus didalamnya.

Referensi:

UN News, 2020. “Coronavirus Emergency: Here’s What We Know so Far” [online] tersedia dalam https://news.un.org/en/story/2020/02/1056562 [diakses 15 Februari 2020]

UN News, 2020. “Coronavirus Spread Now a Global Emergency Declares World Health Organization” [online] tersedia dalam https://news.un.org/en/story/2020/01/1056372 [diakses 15 Februari 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com