Negara-negara yang berada di kawasan Pasifik Barat Daya telah melewati berbagai macam dinamika yang kemudian mempengaruhi perkembangan dari batasan-batasan dari negara kawasan tersebut hingga sekarang ini. Pada tahun 1980-an, Pasifik terbagi menjadi dua bagian, yaitu Pasifik Barat Daya dan Pasifik Selatan. Negara-negara Pasifik Barat Daya meliputi Australia, Indonesia, dan negara-negara ASEAN yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. Sedangkan Pasifik Selatan meliputi negara-negara kepulauan seperti Guam, Kiribati, French Plynesia dan lain-lain. Pada fase selanjutnya terjadi penyatuan antara Pasifik Barat Daya dan Pasifik Selatan yang kemudian menjadikan regional wilayah ini sebagai wilayah Pasifik Barat Daya (History of Oceania, tt). Penduduk dari kawasan Pasifik Barat Daya sendiri didominasi oleh tiga ras besar yaitu Mikronesia, Polinesia, dan Mikronesia yang dulunya merupakan imigran-imigran dari Asia Tenggara dan Asia lainnya (Ware, 2005). Adapun ciri-cirinya antara lain adalah, Melanesia biasanya memiliki postur tubuh yang relatif pendek dan berkulit gelap, Mikronesia pada umumnya berkulit hitam, rambut keriting, dan hidung pesek. Sedangkan Polinesia bertubuh tinggi kekar, tegap, warna kulit agak cerah dan berambut lurus.

Pemembahasan mengenai budaya Pasifik Selatan tidak lepas dari pengaruh kolonisasi yang dilakukan oleh bangsa barat. Sebelum berada di bawah pengaruh negara Eropa, penghuni kepulauan Pasifik Selatan adalah masyarakat yang mandiri. Pada dasarnya, wilayah Pasifik Selatan memang tidak bisa berkembang secara pesat mengikuti tatanan internasional. Meski demikian, negara-negara di kawasan ini mampu bertahan dan berkembang dengan memanfaatkan hasil laut yang dijaga secara tradisional (SPREP, T.t). Namun, pengaruh kolonial pada abad ke 17 hingga 18, membawa perubahan mendasar pada berbagai sistem di kawasan ini. Secara etnolinguistik, penduduk kepulauan Pasifik yang tinggal di Oceania dibagi menjadi dua klasifikasi etnis yang berbeda. Pertama, bahasa Austronesia yang digunakan oleh penduduk Polinesia, Mikronesia, dan sebagian besar pulau-pulau kecil Melanesia. Kedua, bahasa Papua yang lebih sering digunakan oleh masyarakat di kawasan Melanesia. Suku bangsa yang beragam dari berbagai pulau yang terbentang di Pasifik Selatan membuat kekayaan budaya di kawasan ini juga kaya (Ware, 2005). Meski demikian, fenomena migrasi yang dilakukan masyarakat Pulau Cook, Samoa, dan Tonga mengakibatkan rumpun kebudayaan yang sama.

Masyarakat Pasifik Selatan masih mendasari kepercayaannya yang berasimilasi dengan cerita mistis yang melegenda. Mereka mempercayai dewa-dewa yang menjaga laut, mereka hidup dengan memanfaatkan alam, sebab itu mereka berusaha melestarikan alam semaksimal mungkin. Tetapi, kolonialisasi bangsa eropa di kawasan tersebut telah merubah kekayaan kultur dan sosial masyarakat Pasifik Selatan. Terjadinya kolonialisasi telah menyebabkan kebanyakan negara negara di kawasan Pasifik Barat Daya ini mengadopsi gaya hidup orang-orang barat seperti mengkomsumsi makanan cepat saji dan minum minumal bersoda. Gaya hidup yang seperti itu pada akhirnya menjadikan masyarakat negara-negara mengalami obesitas dan menjadikan negara-negara kawasan Pasifik Barat Daya menduduki peringkat teratas negara dengan obesitas tertinggi (Ware, 2005). Sementara itu di sektor perekonomian, negara-negara yang berada di kepulauan Pasifik memiliki prospek ekonomi yang berbeda, namun secara mendasar pendapatan ekonomi mereka masih dibawah rata-rata. Menurut Lamont (1993) negara-negara di Kepulauan Pasifik belum bisa mengelolah ekonominya sendiri karena banyak perusahan-perusahan asing yang mengeksploitasi sumber daya alam di Kepulauan Pasifik (kayu, mineral, minyak, hasil laut), yang tanpa sadar merusak ekosistem laut. Hal inilah yang menyebabkan negara kawasan Pasifik Selatan tidak mandiri dan terus membutuhkan sokongan pemerintah barat.

Pendapat yang dikemukakan oleh Lamont (1993) hampir sama dengan penilaian Fairbairn et. al. (1991), luas yang kecil serta letak geografis yang tidak strategis membuat perekonomian yang di masing-masing negara Pasifik tidak berkembang atau semakin buruk. Kerusakan-kerusakan lingkungan yang ada pada negara-negara tersebut akibat dari eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing serta meningkatnya pemanasan global membuat sumber daya yang ada di dalamnya semakin menipis dan menimbulkan khekawatiran masyarakat kawasan. Ketergantungan ekonomi juga dapat dilihat dari adanya bantuan luar negeri melalui lembaga Official Development Assistance (ODA) yang memberikan bantuan melalui pemberian dana sebesar US$1.176 pada negara kepulauan tersebut. Meski suntikan dana telah diberikan, namun bantuan ini berhasil mendongkrak perekonomian yang ada di kepulauan Pasifik, sebab pemerintah di kawasan Pasifik Selatan justru mengalokasikan dana untuk mengimpor produk dari barat daripada memanfaatkannya untuk pengembangan ekonomi rakyat (Fairbairn et. al., 1991).

Selain bergantung pada sektor industri dan hasil laut, pariwisata juga berkontribusi penting bagi perekonomian wilayah ini. Visi dari Kementrian Pariwisata Pasifik menyatakan bahwa pariwisata akan menginspirasi pertumbuhan ekonomi dan memberdayakan masyarakat Pasifik. Melalui pernyataan World Travel and Tourism Council Dalam The 2012 Economic Impact, kontribusi pariwisata pada negara-negara kepulauan Pasifik membentuk 35 hingga 53 persen GDP pada negara-negara seperti Fiji, Cook Islands, Samoa, dan Vanuatu (South Pacific Tourism Organisation, 2013). Diharapkan pada tahun 2020, angka tersebut akan naik pada posisi 45 hingga 60 persen. Negara-negara dengan angka pariwisata yang kecil pun akan dibantu untuk ditingkatkan daya tarik wisata mereka, seperti Tonga, Kiribati, dan Solomon Islands. Bantuan tersebut berbasis pada Deklarasi Waiheke pada tahun 2011 yang menyatakan komitmen untuk mempromosikan wilayah Pasifik sebagai destinasi menarik dan dukungan mereka dalam peningkatan pendapatan masyarakat negara-negara kepulauan Pasifik. Pentingnya pariwisata pada wilayah ini juga didukung oleh survey ekonomi AusAid dan UNESCAP yang menyatakan bahwa sektor tersebut dapat membantu perkembangan berkelanjutan pada kepulauan Pasifik, utamanya termasuk pariwisata berbasis komunitas (South Pacific Tourism Organisation, 2013).

Beralih ke permasalahan yang hadir di kawasan ini, Pasifik Selatan tak bisa lepas dari urgensi problema kelestarian lingkungan. Hal ini bermula ketika masa kolonial hingga Perang Dunia merambah belahan berbagai belahan bumi, kawasan ini juga tak luput dari pengaruhnya. Amerika Serikat sebagai salah satu aktor dalam perang dunia menguji senjata nuklir di Kepulauan Marshall pada 1950-an dan terus menggunakan Kwajalein Atoll untuk uji coba rudal. Kejadian itu terus berlanjut hingga tahun 1993, program Sistem Sasaran Strategis AS berencana untuk meluncurkan empat percobaan setahun dari Hawaii ke Kwajalein selama sepuluh tahun. Bagi penduduk Bikini, Enewetak, dan Rongelap, pengujian nuklir berarti bencana budaya, pertama-tama memaksa orang keluar dari pulau mereka (White dan Lindstrom, 1993). Kemudian mendorong tuntutan hukum yang menghasilkan pembayaran kompensasi besar, yang pada gilirannya telah menciptakan masalah sosial dan perusakan lingkungan yang sangat besar.

Masalah sosial dan perusakan lingkungan itu memiliki dampak yang begitu besar bagi kelangsungan hidup masyarakat Pasifik Selatan. Hal ini dapat dilihat dari letak di tengah lautan luas dengan tinggi daratan sekita 5 meter di atas permukaan laut. Wilayah yang dikelilingi laut ini sangat rawan terhadap gejala–gejala alam seperti abrasi, arus angin dari berbagai arah, potensi gempa yang tinggi karena dekat dengan lempeng Pasifik, serta pulau–pulau vulkanis yang rawan dengan letusan gunung berapi (Crew-Reid, 1989). Hal-hal inilah yang menyebabkan masyarakat Pasifik Selatan sangat peduli karena, kepulauan-kepulaun kecil itu terancam akan tenggelam karena para ahli mempekirakan permukaan air laut akan naik satu meter setiap tahunnya (BBC, 2008). Crew-Reid (1989) menjabarkan bahwa, kerusakan lokal sudah meluas karena eksploitasi tergesa-gesa dan tidak direncanakan pulau terbatas sumber daya. Ekosistem sering diubah secara drastis akibat climate change yang melanda dunia. Permasalahan itu juga meliputi lahan subur dan air tawar terbatas, pertumbuhan populasi dan menipisnya sumber daya alam, ketergantungan pada sumber daya laut, kerentanan terhadap peristiwa ekstrim (siklon, gempa bumi, tsunami), perubahan iklim dan variabilitas (White dan Lindstrom, 1993)

Dari pemaparan yang telah penulis lakukan, dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman dan diversitas yang sebelumnya terjaga di Pasifik Selatan harus terancam akibat kolonialisme yang dilakukan bangsa Eropa. Kolonialisme yang hadir pada akhir abad 17 telah mengubah situasi sosial-politik negara kawasan Pasifik Selatan. Perubahan itu semakin terlihat jelas ketika negara koloni berkomitmen untuk memberikan bantuan keuangan dalam upaya untuk menumbuhkan ekonomi pulau swasembada di kawasan ini. Usaha-usaha itu justru menimbulkan sikap ketergantungan terhadap bantuan asing yang diberikan. Selain masalah ketergantungan dalam ekonomi, masyarakat Pasifik Selatan juga dihadapkan pada problema lingkungan yang mengancam kehidupannya. Hal ini dikarenakan letak di tengah lautan luas dengan tinggi daratan sekitar 5 meter di atas permukaan laut. Wilayah yang dikelilingi laut ini sangat rawan terhadap gejala–gejala alam. Kerjasama yang dilakukan oleh masyarakat Pasifik Selatan dan lembaga internasional, diharapkan mampu mengatasi problema yang ada sekaligus meningkatkan perhatian masyarakat globat terkait isu perubahan iklim.

REFERENSI:

BBC, 2008. “Forecast for Big Sea Level Rise.” [Online] Tersedia dalam: http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/7349236.stm (Diakses pada 26 Februasri 2019)

Carrew-Reid, Jeremy. 1989. Environment Aid and Regionalism in the South Pacific. Canberra: National Centre for Development Studies The Australian National University

Fairbairn, T., Morrison, C., Baker, R., dan Groves, S., 1991. The Pacific Islands: Politics,Economics, and International Relations. Honolulu: University of Hawaii Press.

History of Oceania, tt. “Traditional Subsitiance in Oceania.” [Online] Tersedia dalam: http://www.essential-humanities.net/world-history (Diakses pada 25 Februari 2019).

South Pacific Regional Environtment Programme.T.t “Our Governance.”  [Online] Tersedia dalam: https://www.sprep.org/governance (Diakses pada 25 Februari 2019).

South Pacific Tourism Organisation, 2013. Tourism and Sustainable Development in Pacific Islands. [Online] tersedia di: https://www.sprep.org/attachments/sids/25.%20tourism%20and%20sustainable%20development_sdwg%2018%20april%2013_final.pdf (diakses pada 26 Februari 2019).

Ware, Helen. 2005. Demography, Migration and Conflict in the Pacific, Journal of Peace Research, Vol. 42, No. 4, Special Issue on the Demography of Conflict and Violence, pp. 435-454

White, Geoffrey M dan Lindstrom, Lamont. 1993. “Oceania: Island, Land, People,”. dalamCultural Survival Quarterly: State of the Peoples