Pada tanggal 18 Desember 2019, presiden ke-45 Amerika Serikat, Donald Trump memperoleh tuntutan impeachment oleh House of Representatives Amerika Serikat – yang mayoritas berasal dari partai Demokrat – melalui party line vote atas tuntutan penyalahgunaan kekuasaan dan obstruksi kongres. Secara matematis, sejatinya tuntutan ini memiliki kemungkinan yang kecil untuk berhasil, mengingat dalam anggota senat Amerika Serikat, Partai Republik memiliki jumlah mayoritas, sehingga dapat memiliki pengaruh yang besar dalam pemungutan suara senat nantinya. Namun, proses impeachment kemudian tidak hanya dapat dipahami dalam konteks penggulingan Trump dari kekuasaannya saja, melainkan juga berkaitan dengan konteks yang lebih besar yakni cita-cita masyarakat Amerika Serikat secara umum.

Jika meninjau secara historis, Amerika Serikat cenderung menjunjung tinggi proposisi nilai-nilai kebebasan dan kesetaraan, yang dalam praktiknya tidak selalu dapat diaplikasikan oleh pemerintahan yang sedang berkuasa. Hal ini dapat ditunjukkan misalnya dalam Chinese Exclusion Act hingga penyiksaan di Guantanamo Bay. Meski demikian, nilai-nilai dan cita-cita ideal di atas masih bertahan dan diperjuangkan oleh masyarakat Amerika Serikat karena dua hal. Pertama, adanya orang-orang yang masih memperjuangkan nilai-nilai tersebut seperti Sojourner Truth dan Heather Heyer yang telah  berjuang dan menuntut adanya pelanggaran serta celah-celah antara situasi ideal dan realita. Kedua, sistem pemerintahan Amerika Serikat yang meski seringkali menjadi sumber ketidakadilan dalam negeri, namun juga sejatinya memiliki kewenangan dan harapan untuk menguatkan komitmen Amerika Serikat pada cita-cita idealnya. Dengan kata lain, tuntutan impeachment tidak hanya ditujukan untuk menurunkan Donald Trump saja melainkan juga merupakan bagian dari upaya untuk mengembalikan penerapan nilai-nilai ideal Amerika Serikat.

Lebih lanjut, pada akhirnya prediksi kemenangan Trump benar-benar terjadi ketika 5 Februari 2020, Donald Trump dinyatakan bebas dari segala tuntutan atas keputusan pemungutan suara di antara para senat. Pemungutan suara ketiga dan terakhir tersebut tidak segera dilakukan di bulan Desember karena dalam tahapan impeachment, perlu dilakukan penunjukan sejumlah manajer yang bertugas sebagai prosekutor yang akan membawakan artikel penuntutan di hadapan para senat. Menurut juru bicara House of Representatives, Pelosi, penunjukan tersebut penting untuk dipikirkan secara matang-matang agar adil dan tepat sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama.

Meninjau proses impeachment yang terjadi pada presiden-presiden Amerika Serikat terdahulu, kasus Trump dapat dikatakan cukup unik dan berbeda karena pasca pembebasannya dari impeachment, Trump harus langsung berhadapan dengan para voters dari masyarakat Amerika dalam pemilihan umum di bulan November mendatang. Maka dari itu, fenomena impeachment tersebut dapat memiliki peran penting dalam pertimbangan para voters dan dapat menentukan masa depan Trump dan Amerika Serikat.

Lebih lanjut, situasi politik di Amerika Serikat pasca peristiwa ini masih belum bisa diprediksi. Pihak partai Demokrat mengatakan bahwa meski gagal menurunkan Trump dari kursi kekuasaannya, namun mereka memandang bahwa hal ini dapat menjadi fondasi yang baik untuk memicu perbincangan mengenai isu-isu yang mereka angkat seperti pelaksanaan Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi, dan kesetaraan. Sedangkan sebaliknya, partai Republik sendiri mengatakan bahwa pembebasan Trump dari segala tuntutan impeachment merupakan kesuksesan yang menguntungkan karena telah menunjukkan power presidensialnya yang tidak terkalahkan. Hal ini kemudian ditunjukkan lebih jauh dengan pemecatan sejumlah saksi dalam pemerintahan Trump terkait kasus Ukraina, dua hari pasca pembebasan Trump dari impeachment, menyerang hakim yang mengawasi kasus-kasus penting yang melibatkan mantan penasihatnya, dan menyarankan agar pihak militer dapat mendisiplinkan Letnan Kolonel Alexander Vindman.

Jika ditinjau berdasarkan data yang diterbitkan oleh Gallup, polling terbaru dari masyarakat Amerika Serikat menunjukkan adanya peningkatan hingga 49% yang masih membela dan mendukung Trump, 50% lainnya berada di pihak oposisi dan menginginkan penurunan Trump dari jabatannya, sedangkan hanya 1% yang memilih untuk tidak mengeluarkan pendapat. Dengan kata lain, situasi politik kini semakin memanas di Amerika Serikat dengan pembagian suara yang semakin tipis antara pihak pendukung Trump dan pihak oposisi.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa meski tuntutan impeachment Trump dari jabatan kekuasaannya sebagai presiden Amerika Serikat kini telah berakhir, namun masih menimbulkan pergolakan dan dinamika dalam perpolitikan dalam negeri. Utamanya menjelang pemilihan umum pada bulan November mendatang, baik partai Demokrat maupun partai Republik tengah mempersiapkan strategi atas langkah-langkah selanjutnya yang dapat mempengaruhi masa depan dan hasil akhir dari pemilihan suara tersebut. Dengan kata lain, saat ini adalah hingga beberapa bulan ke depan adalah masa-masa krusial bagi para politikus Amerika Serikat sehingga diperlukan pertimbangan yang matang dan tindakan yang tepat.

Referensi:

Collinson, Stephen. 2020. “Trump’s Impeachment Trial is Over but the Politics are not” [online[ tersedia dalam https://edition.cnn.com/2020/02/06/politics/donald-trump-impeachment-election-2020/index.html [diakses 17 Februari 2020]

Gawthorpe, Andrew. 2019. “impeachment Won’t Force Trump out of Office. But it Matters for Our Republic” [online] tersedia dalam https://www.theguardian.com/commentisfree/2019/dec/18/trump-impeachment-why-it-matters [diakses 17 Februari 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com