Diperkirakan Republik Ceko tengah mengalami kekeringan yang terparah dalam 500 tahun terakhir. Meski pandemik virus corona merupakan isu yang tampaknya paling mendesak saat ini, namun fenomena perubahan iklim dan kekeringan di negara tersebut juga tidak dapat diabaikan karena dapat menjadi tantangan krusial selama beberapa tahun ke depan. Jika kekeringan terus berlanjut, maka hal tersebut dapat mengancam proses panen dan membatasi ketersediaan air minum. Berdasarkan peta persebaran yang dipublikasikan oleh pemerintah Ceko, pada pertengahan April, hanya sekitar 0,1 wilayah Ceko yang memiliki tinggi air tanah pada batas normal, sedangkan kekeringan ekstrim dapat ditemukan di 75,4 persen wilayah.

Sejatinya, meningkatnya urgensi fenomena kekeringan di Ceko dapat ditelusuri kembali sejak tahun 2015 ketika suhu udara mengalami kenaikan drastis dan curah hujan yang tidak menentu. Dalam dekade terakhir, curah hujan dan musim salju telah menurun intensitasnya, sementara di sisi lain suhu udara mengalami kenaikan. Sedangkan pada tahun ini, kombinasi antara tidak adanya salju serta musim dingin yang hangat kemudian dapat menghasilkan malapetaka bagi Ceko. Sehingga, dapat dikatakan bahwa kekeringan yang dialami Ceko saat ini merupakan hasil akumulasi dari kekeringan sejak enam tahun lalu dan ditambah dengan cuaca yang tidak menentu.

Menteri Lingkungan, Brabec mengatakan bahwa saat ini Ceko tengah memasuki periode kekeringan yang tidak dapat diprediksi baik dari durasi maupun besar dampaknya. Terlebih, seharusnya bulan April adalah waktu ketika air seharusnya paling tinggi dan memenuhi tanah. Sedangkan tahun ini, jumlah air tanah terhitung hanya 22 persen dari jumlah pada bulan April di tahun-tahun sebelumnya. Ia melanjutkan bahwa jika fenomena ini terus berlanjut dengan kecepatan yang sama, kemungkinan besar sungai-sungai kecil akan kering dan dapat mengakibatkan puluhan bahkan ratusan desa harus disuplai oleh persediaan air tadah. Kekeringan yang berkelanjutan dapat berakibat pada turunnya suplai air minum di masyarakat. Keringnya sumber-sumber mata air juga dapat menyebabkan kerugian yang besar untuk lahan-lahan pertanian. Selain itu, kekeringan dan tingginya suhu udara juga menyebabkan terjadinya serangan kumbang kayu yang sejak tahun lalu telah menyebabkan kerugian negara sekitar 1,70 milyar dolar.

Lebih lanjut, kondisi kekeringan Ceko disebabkan oleh struktur dan sistem pertanian yang tidak menguntungkan. Kebanyakan sungai di Ceko mengalir dari dalam ke luar wilayah sebagai akibat dari tata letak lahan pertanian yang telah diterapkan sejak era komunis. Pada masa itu, terdapat paksaan untuk melakukan sistem kolektivisasi – lahan-lahan pertanian disatukan ke dalam unit-unit yang sangat besar untuk tiap-tiap jenis tanaman spesifik, sementara jalan dan pembatas lain antar lahan tersebut dihapuskan. Para ahli mengatakan bahwa sistem ini telah mengurangi kemampuan tanah untuk menahan air, hingga kemudian meninggalkan negara dengan populasi 10,7 juta orang tersebut dengan kondisi tanah yang seringkali mengalami kekeringan di musim panas.

Untuk menghadapi fenomena ini, pemerintah membutuhkan strategi dan kebijakan yang tepat agar kerugian tidak semakin besar. Dalam hal ini, kementerian lingkungan Ceko berencana akan mengadakan pertemuan the National Coalition for Fighting Drought pada tanggal 12 Mei mendatang untuk membicarakan kesiapan Ceko terkait aksesibilitas air minum. Selain itu, Brabec juga sedang melakukan negosiasi dengan kementerian keuangan untuk meningkatkan budget pengeluaran nasional hingga mencapai 112,7 pounds untuk kekeringan dan membantu meningkatkan hasil panen gandum dan rapeseed. Meski demikian, belum jelas bagaimana dan langkah-langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya terkait uang tersebut.

Pada dasarnya kekeringan tidak hanya di Ceko, namun juga di negara-negara tetangganya. Para petani di Eropa termasuk Swedia dan negara-negara Baltik juga turut merasakan kekeringan meski tidak separah di Ceko. Bahkan, di tahun 2019 lalu beberapa petani terpaksa harus menyembelih hewan-hewan ternaknya karena kurangnya bahan pangan. Akan tetapi, beberapa faktor kemudian telah mempengaruhi parahnya kekeringan yang terjadi di Ceko termasuk di antaranya sistem tata letak lahan pertanian yang tidak menguntungkan hingga kondisi geografis Ceko yang sepenuhnya dikelilingi oleh daratan dan tidak mendapat akses terhadap wilayah perairan.

Referensi:

AFP, 2020. “’Catasthropic’ Drought Hits Czech Republic” [online] tersedia dalam https://guardian.ng/news/catastrophic-drought-hits-czech-republic/ [diakses 30 April 2020 ]

Ponikelska, Lenka. 2020. “Czechs Fear Historic Drought Threathening Harvest, Water Supplies” [online] tersedia dalam https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-04-29/czechs-fear-historic-drought-threatening-harvest-water-supplies [diakses 30 April 2020]