Dalam konteks pembahasan mengenai globalisasi, budaya dan identitas masih seringkali diabaikan dan tidak dianggap lebih penting jika dibandingkan dengan isu-isu lain seperti ekonomi dan politik. Namun, globalisasi yang ditandai dengan adanya integrasi lintas batas ruang dan waktu, dapat menciptakan sebuah pola baru dalam proses interaksi manusia. Sedangkan budaya dan identitas, merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari masing-masing individu, sehingga dalam interaksi dan hubungan antar manusia tentunya juga melibatkan unsur budaya dan identitas di dalamnya. Terkait hal ini, globalisasi dan modernisasi dapat memunculkan pertanyaan apakah kemudian peningkatan interdependensi dan integrasi yang lintas batas negara, ras, dan kebangsaan, dapat menyebabkan munculnya konflik dan ancaman baru bagi eksistensi budaya dan identitas di dunia? Bagaimana peran budaya dan identitas lokal di lingkungan masyarakat global? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, tulisan ini akan mengkaji lebih lanjut terkait relasi antara globalisasi dengan aspek budaya dan identitas di dunia.

Selama ini, budaya atau kultur telah menjadi salah satu aspek penting dalam dinamika kehidupan manusia. Dalam tulisannya yang berjudul Globalization, Culture, and Identities in Crisis, Lieber & Weisberg (2002) memberi penjelasan bahwa di era globalisasi, reaksi kultural yang muncul memiliki dua macam pandangan. Di satu sisi, globalisasi dianggap mendorong integrasi dan menghilangkan batas-batas serta dimensi-dimensi negatif dari kultur. Globalisasi dianggap sebagai langkah vital menuju dunia yang lebih stabil untuk orang-orang di dalamnya. Sedangkan di sisi lain, terdapat pandangan bahwa globalisasi membawa dampak buruk bagi kelangsungan budaya di dunia karena adanya power besar yang dapat merusak dan menggeser budaya yang telah ada. Seringkali bentuk protes terhadap globalisasi diwujudkan dalam demonstrasi-demonstrasi keras di jalanan oleh para anti-globalis. Lieber & Weisberg (2002) menjelaskan lebih lanjut bahwa kultur kemudian menjadi arena kontestasi yang penting di era globalisasi, serta memengaruhi manusia dari berbagai dimensi. Arena yang dimaksud mencakup macam-macam kultur yang ada seperti pop culture, folk culture, dan high culture. Namun, intensitas kontestasi kultur di setiap wilayah berbeda, tergantung pada tingkat modernitas yang dimilikinya. Sebagai contoh, penduduk Amerika Serikat sebagai negara maju dan modern, umumnya memiliki sikap netral dan toleran terhadap budaya, sehingga menganggap diversitas budaya yang ada hanya sebagai seni. Sedangkan penduduk Timur Tengah dengan kebudayaannya yang kental, menganggap kultur sebagai suatu hal yang sakral dan tradisional, sehingga gerakan ekstrim dan konflik budaya di era globalisasi lebih mudah terjadi.

Meningkatnya integrasi antar wilayah di era globalisasi, memunculkan adanya pandangan terkait homogenisasi budaya. Globalisasi seringkali dikaitkan dengan istilah-istilah yang dianggap negatif seperti kapitalisme, westernisasi, individualisme, dan konsumerisme. Ghosh (2011) dalam tulisannya yang berjudul Cultural Changes and Challenges in the Era of Globalization memaparkan bahwa revolusi teknologi dan informasi, menyebabkan perilaku produktif menjadi tergantikan oleh perilaku konsumtif. Kini, signifikansi penjualan jasa meningkat dengan pesat dan hampir semua hal dapat dikomodifikasikan. Meminjam istilah “cultural entrepreneur” dari Panini dalam Ghosh (2011), barang-barang kultural dapat semakin mudah menyebar dan dikenal di tingkat global. Tidak hanya itu, perkembangan internet juga dapat mengonstruksi pemikiran manusia karena dapat menyiarkan hal-hal tertentu hingga menimbulkan konflik baru seperti cyber crime. Dominasi aspek tertentu dalam penyebaran melalui visual media kemudian memunculkan istilah “hegemoni kultur” yang memasuki pikiran manusia.

Akan tetapi, Ghosh (2011) juga menyatakan bahwa globalisasi tidak hanya dapat menyebabkan homogenitas namun juga heterogenitas budaya yang ditunjukkan dalam penyebaran berita-berita lokal melalui media internet. Terbukanya akses internet dapat menunjukkan keadaan dunia yang lebih luas, kompleks, dan beragam dibandingkan jika melihat dari berita-berita lokal saja. Argumen ini didukung oleh Van der Bly (2007) yang mengemukakan bahwa meski globalisasi dapat membentuk sebuah global culture, namun pada praktiknya dari perspektif mikro, kultur tersebut tetap diaplikasikan dengan cara dan memiliki dampak yang berbeda bagi masing-masing kelompok sosial. Dengan kata lain, globalisasi tidak sepenuhnya singular dan unidireksional, namun dapat menyebabkan situasi yang homogen sekaligus heterogen di waktu yang sama.

Terkait tiga pandangan diatas, penulis memandang bahwa globalisasi dapat menjadi kesempatan sekaligus ancaman bagi eksistensi budaya dan identitas di dunia sebagai sebuah arena kontestasi. Pandangan bahwa globalisasi membuka informasi untuk penonton yang lebih luas dapat menjadi kesempatan untuk mempromosikan objek pariwisata, ataupun dapat menjadi sarana untuk meningkatkan identitas individu sebagai bagian dari suatu kelompok dengan mempromosikan baik ras, kebangsaan, maupun agamanya di tingkat global. Namun, globalisasi juga dapat menjadi ancaman bagi budaya dan identitas karena besarnya pengaruh asing dapat mengubah preferensi masyarakat sehingga hal-hal seperti “language death” atau hilangnya budaya tradisional dapat terjadi. Selain itu, penulis juga sepakat dengan Ghosh (2011) yang menggunakan istilah “competitive inequality” yakni semakin melebarnya ketimpangan baik secara kultur maupun aspek lain di dunia karena globalisasi. Barang-barang modern seperti telepon genggam, kemudian menjadi simbol status seseorang di masyarakat dan kehilangan fungsinya sebagai alat bantu manusia. Dengan demikian, penulis berpendapat bahwa globalisasi memiliki tingkat pengaruh yang berbeda-beda bagi setiap individu, sehingga budaya dan identitas menjadi arena kontestasi bagi golongan orang-orang yang terlibat di dalamnya saja.

Untuk mendukung argumen diatas, penulis menggunakan studi kasus turisme di wilayah Pasifik Selatan. Negara-negara di Pasifik Selatan umumnya berbentuk kepulauan kecil dan terpisah satu sama lain oleh samudera yang luas. Oleh karenanya, hal ini menyebabkan adanya kesulitan transportasi dan distribusi, sehingga seringkali wilayah ini dianggap terisolasi dan sering terabaikan dari perhatian dunia. Dengan adanya globalisasi, negara-negara tersebut mendapat kesempatan untuk lebih dikenal dunia melalui promosi dan iklan di internet sebagai bentuk strategi pariwisatanya (Harrison & Pratt, 2015). Keindahan alam yang dimilikinya kemudian menjadi atraksi utama bagi para turis untuk datang dan berlibur di wilayah tersebut. Namun di sisi lain, globalisasi yang meningkatkan arus migrasi kemudian juga berpengaruh pada menurunnya jumlah penduduk lokal dan meningkatnya penduduk asing di Pasifik Selatan sehingga budaya-budaya dan bahasa tradisional mulai ditinggalkan dan mengarah pada budaya-budaya asing. Hal ini menunjukkan bahwa bagi wilayah dengan tingkat keragaman budaya yang tinggi, globalisasi dapat digunakan untuk mempromosikan budaya-budaya tersebut, namun di sisi lain juga dapat menggerusnya hingga budaya tersebut digantikan oleh budaya-budaya global yang populer.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa globalisasi memiliki kompleksitas yang tinggi dan dapat memengaruhi eksistensi budaya dan identitas di dunia dalam berbagai cara dan tingkatan. Meski seringkali dikaitkan dengan istilah-istilah seperti konsumerisme, kapitalisme, individualisme, dan modernisasi, globalisasi kultur tidak kemudian merujuk pada kemungkinan kultur global yang satu dan singular, namun juga dapat meningkatkan signifikansi penyebaran kultur plural di seluruh dunia. Globalisasi telah menjadi cara untuk mengonstruksi identitas baru dan menghasilkan pluralisme di masyarakat. Tantangan yang kemudian didapatkan adalah bagaimana cara masyarakat untuk dapat hidup berdampingan dan menghormati diversitas budaya dan identitas yang terbentuk baik yang disebabkan oleh globalisasi maupun yang tidak.

Referensi:

Ghosh, Biswajit, 2011. “Cultural Changes and Challenges in the Era of Globalization: Case of India” dalam Journal of Developing Societies, 27 (2)

Harrison, David & Pratt Stephen. 2015. “Tourism in Pacific Island Countries: Current Issues and Future Challenges” dalam Tourism in Pacific Islands. New York: Routledge.

Lieber, Robert J & Weisberg, Ruth E. 2002. “Globalization, Culture, and Identities in Crisis”, dalam International Journal of Politics, Culture, and Society, 16 (2)

Van der Bly, Martha C.E. 2007. “Globalization and the Rise of One Heterogeneous World Culture: A Micro Perspective of Global Village” dalam International Journal of Comparative Sociology, 48 (2-3)