Terorisme merupakan isu yang hingga saat ini masih berusaha diperangi bersama-sama oleh komunitas internasional. Pada dasarnya, terorisme telah ada sejak lama, akan tetapi isu mengenai terorisme baru muncul di permukaan sekitar tahun 1970an dan disusul terjadinya peristiwa 9/11 tahun 2001 di Amerika Serikat. Selama hampir dua dekade terakhir, terorisme semakin berkembang, demikian pula dengan jaringannya yang bertambah banyak. Bermula dari jaringan Al-Qaeda, yang kemudian memperluas diasporanya, dilanjutkan dengan munculnya kelompok-kelompok lain, hingga individu sebagai pelaku utama. Seiring dengan perjalanan waktu, terorisme kemudian mengalami pergeseran. Hal tersebut yang nantinya akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini.

Perkembangan dunia memicu munculnya aktor baru dalam dunia internasional, yaitu teroris yang menyebabkan ancaman baru bagi ketidakamanan global. Pada dasarnya, terorisme tidak memiliki satu definisi baku, hal ini tidak terlepas dari jangkauan terorisme yang semakin luas. Tony Coady (dalam Kamal, 2008) mendefinisikan terorisme sebagai penggunaan kekerasan yang terorganisir oleh suatu kelompok atau perorangan untuk menyerang orang-orang yang tidak bersalah atau properti mereka untuk tujuan politik tertentu. Sementara Majelis Umum PBB dalam Resolusi 49/60 tahun 1994, menyatakan bahwa, terorisme mencakup tindakan kriminal yang dimaksudkan untuk memprovokasi keadaan teror di masyarakat umum, sekelompok orang, atau orang-orang tertentu untuk tujuan politik, dan bahwa tindakan semacam itu dalam keadaan apa pun tidak dapat dibenarkan, apa pun pertimbangan politik, filosofis, ideologis, rasial, etnis, agama atau sifat lain yang dapat digunakan untuk membenarkan mereka (OHCHR, t.t). Terorisme mulai menjadi perhatian masyarakat ketika terjadi penyerangan dari kelompok Al-Qaeda terhadap Amerika Serikat. Al-Qaeda dibentuk oleh Osama Bin Laden pada akhir tahun 1980-an dengan agenda utama kelompok untuk mendukung Muslim yang berperang melawan Uni Soviet selama Perang Afghanistan (Mahmoud Ould Mohamedou, 2011). Organisasi ini sempat bubar namun kemudian mendirikan kembali markasnya di Afghanistan pada tahun 1996 di bawah perlindungan milisi Taliban (Mahmoud Ould Mohamedou, 2011). Organisasi ini kemudian mendirikan kamp-kamp untuk militan Muslim dari seluruh dunia, melatih keterampilan paramiliter, dan melibatkan agennya dalam berbagai serangan teroris, termasuk penghancuran kedutaan besar Amerika Serikat di Nairobi, Kenya,  Dar es Salaam, Tanzania pada tahun 1998, dan masih banyak lagi.

Puncak dari aksi kelompok terorisme Al-Qaeda berada di tahun 2001, saat 19 anggotanya melakukan serangan 9/11 terhadap Amerika Serikat (Britannica, 2019). Lebih lanjut, Mannik (2009) memaparkan bahwa Al-Qaeda telah menghasilkan hubungan kerjasama antar entitas dengan ideologi yang sama dan membawahi sejumlah organisasi-organisasi teror di lebih dari 76 negara. Dalam menjalankan operasinya, Al-Qaeda merupakan organisasi terorisme pertama yang menggunakan internet sebagai penghubung jaringan yang telah dibentuknya, serta memanfaatkan fenomena aliensi masyarakat muslim di seluruh dunia untuk menyebarkan informasi terkait terorisme lebih lanjut. Sehingga, Mannik (2009) berargumen bahwa Al-Qaeda sebagai suatu organisasi terorisme telah berevolusi menjadi sebuah jaringan advokasi transnasional, yang menanamkan nilai-nilai ideologi yang dimilikinya serta berupaya untuk menggunakan berbagai cara dan kemungkinan untuk menarik pengikut lebih banyak meski tidak lagi menggunakan struktur organisasi hirarkis seperti dahulu. Karena itu, era pasca Al-Qaeda dapat dikatakan sebagai titik balik dimulainya terorisme kontemporer. Dengan kata lain, aksi-aksi terorisme kontemporer tidak lagi menggunakan nama Al-Qaeda sebagai organisasi utama, namun terdiri dari jaringan terorisme dunia yang saling terhubung dan beroperasi secara independen.

Pasca Al-Qaeda, mulai muncul beberapa definisi baru tindakan teror atau kegiatan apa yang perlu dilakukan seseorang untuk dilabeli sebagai teroris. Definisi teroris menurut Haberfield dan Hassell (2009) merupakan individu yang mewakili kaum minoritas di dunia dan berupaya untuk menyampaikan ‘keluhan’ terhadap masyarakat luas. Mereka akan berusaha untuk memperoleh apa yang dimiliki oleh kaum mayoritas dengan berbagai cara termasuk menghancurkan apapun yang dimiliki kaum mayoritas (Haberfield dan Hassell, 2009). Berlanjut, dari awal 1970-an hingga sekarang, terdapat tiga generasi utama organisasi teroris. Generasi teroris ini dapat diklasifikasikan sebagai (1) generasi pertama: organisasi teroris intranasional (2) generasi kedua: organisasi teroris internasional (3) generasi ketiga: organisasi teroris transnasional (TTO) (Pearlstein, 2004). Menurut pandangan Pearlstein (2004) karakteristik terorisme pasca Al-Qaeda yaitu pertama, semakin banyak masalah agama yang melampaui batas negara-bangsa, banyak gerakan fundamentalis Islam radikal. Kedua, batas negara-bangsa semakin permeable atau bahkan tidak relevan. Ketiga, kemajuan teknologi dan komunikasi memungkinkan para teroris untuk mengirimkan pesan satu sama lain dengan mudah dan murah. Perkembangan internet dan telekomunikasi seluler membuatnya lebih mudah bagi teroris transnasional dan sekutunya untuk terlibat dalam komunikasi global (Pearlstein, 2004).

Di era baru terorisme, terdapat serangan ‘virtual’ yang melibatkan serangan cyber anonim bagi para teroris mengingat semakin canggihnya teknologi (Hoffman, 2002). Pasca Al-Qaeda, akses akan bagaimana merakit suatu senjata maupun menyusun strategi lebih mudah sehingga peluang munculnya terorisme semakin besar. Pasca Al-Qaeda, tindakan terorisme cenderung lebih sporadic daripada tradisional, yang mana lebih berkskala kecil namun sering dilakukan (Pearlstein, 2004). Senjata yang digunakan pun lebih kecil, namun mematikan. Terorisme pasca Al-Qaeda mengutamakan penyampaian pesan daripada penguasaan teritori. Selanjutnya, jika sebelumnya pelaku terorisme umumnya berasal dari daerah teritorinya saja, namun pasca Al-Qaeda tidak terpaut oleh keterbatasan teritori melainkan berasal dari berbagai negara-negara lainnya. Terorisme pasca Al-Qaeda memiliki tujuan yang lebih kompleks, yang mana sebelumnya hanya memiliki satu tujuan yaitu ideologikal (Pearlstein, 2004). Terakhir, apabila sebelumnya terorisme berfokus pada penghancuran suatu wilayah, namun pasca Al-Qaeda lebih membuat masyarakat lebih panik atau efek psikologis menjadi sasaran utama (Pearlstein, 2004). Lebih lanjut, Richard M. Pearlstein (2004) juga menyatakan adanya pergeseran sistem internasional seiring munculnya kelompok teroris transnasional sebagai aktor baru di dalamnya. Sistem ini disebut dengan sistem global polipleks. Istilah polipleks sendiri menggambarkan sistem global yang memiliki berbagai jenis aktor global dalam jumlah yang banyak yang berinteraksi erat sehingga dunia menjadi sulit diatur. Namun tetap, dalam sistem ini aktor utamanya adalah negara. Tetapi negara perlu untuk membagi kekuasaannya dengan aktor lain di dalam sistem polipleks. Dan salah satu jenis aktor lainnya adalah organisasi transnasional yang dapat berupa perusahaan, sindikat kejahatan, organisasi profesional, kemanusiaan, lingkungan, dan keagamaan dan organisasi teroris (Pearlstein, 2004).

Kompleksitas aktor internasional tersebut juga berdampak pada semakin banyaknya respon dan kecaman terhadap terorisme, seperti dari: (1) kerjasama individu antar negara; (2) IGOs seperti PBB, NATO, Uni Eropa (yang memperketat pengecekan di setiap perbatasan), serta Interpol; dan (3) relasi informal misalnya dalam summit yang dilakukan oleh beberapa kepala negara. Upaya yang lebih besar dalam mencegah perluasan jaringan terorisme umumnya dilakukan oleh negara, seperti melakukan pengetatan di perbatasan, perubahan kebijakan migrasi dan deportasi, pembentukan perjanjian ekstradisi hingga ekstrateritori dengan negara lain (Pearlstein, 2004). Sebagai contoh, kebijakan yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat, pasca seranan 9/11 yang telah lama dikenal dengan gerakan anti-terorisme atau counterterrorism oleh Presiden Amerika Serikat pada saat itu yakni George W. Bush. Presiden Bush mengemukakan idenya yang dikenal sebagai New World Order yang di dalamnya berisikan mosi untuk menentang aksi terorisme. Dalam pidatonya, ia menyebutkan bahwa “Either you with us or with the terrorist”, berawal dari pernyataan tersebutlah kemudian sistem internasional berubah menjadi the West vs the Rest. Dengan maksud, Amerika Serikat beserta pendukungnya, dan negara atau pihak lain yang berpihak pada teroris (Salter, 2002). Amerika Serikat meningkatkan anggaran negara untuk melakukan counter-terrorism. Selain itu, Amerika Serikat juga membekukan aset yang memiliki keterkaitan dengan jaringan teroris; memberikan insentif lebih kepada pihak yang melapor keberadaan jaringan teroris; meningkatkan sistem deteksi di bandara dan tempat vital lainnya; mengembangkan teknologi intelejen; dan memperketat penjagaan di batas-batas negara (Pearlstein, 2004). Guna mengatasi persoalan terorisme era kontemporer ini, Haberfield dan Hassell (2009) menawarkan tiga upaya preventif yang dapat dilakukan oleh negara dan komunitas internasional. Pertama, melalui manajemen resiko yakni proses dalam mempertimbangkan berbagai kemungkinan ancaman. Hal ini dilakukan dengan identifikasi terhadap kapasitas, intensi, kemungkinan serangan, serta kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan. Kedua, melalui peningkatkan data intelegen, yakni dengan pengumpulan data terkait jaringan teroris dan anggotanya secara komprehensif. Gagasan ini dianggap mampu menjadi salah satu solusi preventif terorisme di era kontemporer. Ketiga, mempersiapkan situasi krisis yang mungkin ditimbulkan (Haberfield & Hassell, 2009). Kendati demikian, perlu diingat bahwa terorisme adalah kasus yang tidak mudah untuk diselesaikan. Hal ini disebabkan munculnya dilema antara penggunaan aspek militer atau penggunaan law-enforcement dalam menuntaskan terorisme. Di satu sisi, penggunaan law enforcement dapat menekan dan mengurangi perluasan jaringan. Akan tetapi di sisi lain, hal tersebut tidak begitu berdampak pada penyelesaian. Sedangkan penggunaan militer dikhawatirkan dapat meningkatkan tensi antar pihak yang terlibat dan memakan korban yang lebih banyak (Cassidy, 2007).

Salah satu bentuk terorisme kontemporer dapat dilihat dari kasus teror yang terjadi di London Bridge pada tahun 2017. Peristiwa ini terjadi dimulai pukul 21.58 waktu setempat, Sabtu 3 Juni 2017. Diawali dengan masuknya sebuah van putih dengan tiga orang di dalamnya ke London Bridge dari sisi utara sungai dan berbalik melawan arah setelah enam menit kemudian. Ketika mencapai ujung utara jembatan, van tersebut memutar balik dan menaiki trotoar, kemudian melintasi jembatan lagi dan menabrak pejalan kaki, hingga menyebabkan 3 orang meninggal (BBC, 2018). Tidak berhenti disitu, van tersebut juga menabrak seorang pria hingga jatuh ke sungai, dan setelah melintasi jembatan, van tersebut berhenti di dekat BarrowBoy and Banker yakni sebuah restoran dan bar, lalu keluarlah tiga orang pria dengan membawa pisau keramik merah muda sepanjang 30 cm yang diikatkan ke pergelangan tangan mereka, kemudian mereka berlari ke pasar Borough dan menebas serta menikam orang yang berada di daerah tersebut. Peristiwa ini memakan korban dari berbagai golongan seperti warga sipil dan aparat keamanan seperti polisi yang berusaha mengamankan dan melawan para penyerang tersebut. Peristiwa tersebut berakhir dengan penembakan yang dilakukan oleh polisi bersenjata hingga ketiga penyerang tersebut terbunuh (BBC, 2018).

Respon internasional terhadap insiden terorisme ini mengundang berbagai rasa duka, keterkejutan, dukungan, solidaritas, hingga simpati dari berbagai pemerintahan nasional dan organisasi internasional, antara lain seperti Argentina, Hungaria, Amerika Serikat, European Commission, Finlandia, dan lain-lain. Sedangkan respon domestik terhadap London Bridge Attack ini mengunggah kecaman dan proposisi tegas dari Perdana Menteri Inggris, Theresa May, yang menyatakan bahwa tindakan terorisme ini merupakan salah satu indikator bahwa terdapat tren ancaman baru yang harus dihadapi. Lebih lanjut, Layanan Polisi Metropolitan Inggris dalam merespon serangan ini juga menuai pujian dan menjadi salah satu model ideal terkait respon, pelatihan, dan sumber daya. Hal ini dikarenakan pasca serangan terorisme di Paris tahun 2015 menyebabkan pihak Inggris untuk mempelajari sistem tertentu terkait penanganan yang efektif dan ringkas, salah satunya seperti jikalau terjadi serangan, tugas polisi atau unit penanganan terorisme tidak untuk menangani korban melainkan memindahkan korban ke tempat yang aman terlebih dahulu, dan bahwasanya tugas yang paling penting bagi masing-masing pihak sejatinya adalah untuk pergi ke tempat muasal ancaman (Hewitt, 2017). Tidak hanya itu, modus operandi (MO) serangan teroris tidak hanya mengalami diversifikasi, namun menjadi lebih sederhana dikarenakan upaya yang di propaganda yang diutamakan adalah untuk memberi inspirasi alih-alih menyerang negara Barat secara langsung. Kondisi ini juga disadari oleh Theresa May yang merasa bahwa internet dan korporasi media daring “raksasa” layaknya Facebook dan Google harus memiliki regulasi yang lebih ketat untuk mengawasi dan mencegah terciptanya safe space atau celah yang biasa digunakan kelompok ekstrimis untuk berdiskusi  (Anderson, 2017). Serangan jembatan London, membuktikan bahwa terorisme tidak lagi diidentifikasikan dengan pihak-pihak yang terlatih atau di rekruit secara khusus dan “formal”. Terorisme menjadi self-empowered. Maka dari itu, terbunuhnya korban-korban di jembatan tersebut memang tidak memiliki dampak yang sama atau ditekankan secara simbolik sebagai “serangan” layaknya Al Qaeda, namun reaksinya tetap memiliki signifikansi yang hampir sama besarnya (Wright, 2017).

Dari pembahasan tersebut penulis menarik kesimpulan bahwa terorisme pasca Al-Qaeda telah mengalami banyak pergeseran. Teror tidak lagi ditujukan untuk menggulingkan rezim politik, namun justru menimbulkan ketakutan masyarakat. Faktor yang menjadi alasan dilakukannya aksi teror juga semakin beragam, tidak lagi terbatas pada isu politik maupun identitas. Penulis menyepakati anggapan yang menilai terorisme telah mengalami perluasan. Pun terorisme kontemporer ini mengalami redefinisi pasca Al-Qaeda, bila dahulu terorisme berfokus pada penggunaan weapon atau senjata, namun terorisme kontemporer lebih berfokus pada metode dalam melakukan aksinya. Tidak berhenti di situ saja, dahulu pelaku teror lebih mudah untuk dideteksi yakni kelompok-kelompok yang menuntut terjadinya perubahan. Namun di era kontemporer, teror dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk individu yang tidak terafiliasi pada suatu kelompok. Karenanya penulis beranggapan bahwa diperlukan upaya penanggulangan dan pencegahan yang lebih besar dari negara serta komunitas internasional.

Refensi:

Anderson, David,. 2017. Attacks in London and Manchester: Independent Assesment of MI5 and Police Internal Reviews. United Kingdom: Brick Court Chambers.

BBC,. 2018. London attack: What Happened, [Online]. Tersedia dalam: https://www.bbc.com/news/uk-england-london-40147164 [diakses 25 Maret 2019].

Britannica,. 2019. “Al-Qaeda: History, Meaning, Terrorist Attacks, & Facts”, [Online]. Tersedia dalam: https://www.britannica.com/topic/al-Qaeda [Diakses 25 Maret 2019].

Cassidy, Robert,. 2007. Counterinsurgency and the Global War on Terror: Military Culture and Irregular War. London: Routledge

Haberfield, Maria R. dan Agostino Von Hassell,. 2009. A New Understanding of Terrorism: Case Studies,Trajectories and Lessons Learned. New York: Springer Science+Business Media, Ch. 1 & 18.

Hewitt, Steve,. 2017. Eight minutes on London Bridge: years of training led to lightning police response, [Online]. Tersedia dalam: https://theconversation.com/eight-minutes-on-london-bridge-years-of-training-led-to-lightning-police-response-78815 [diakses 25 Maret 2019].

Hoffman, Bruce,. 2002. “Rethinking Terrorism and Counterterrorism 9/11”, dalam Studies and Conflict and             Terrorism.

Kamal, Muhammad,. 2008. “The Meaning of Terrorism: A Philosophical Inquiry”. NCEIS Research Paper, University of Melbourne, 1(1): 1-11.

Mahmoud Ould Mohamedou, Mohammad,. 2011. “The Rise and Fall of Al-Qaeda”. GCSP Geneva Papers, No. 3, p. 1-38.

Mannik, E. 2009. “Terrorism: Its Past, Present, and Future Prospect” dalam Religion and Politics in Multicultural Europe: Perspectives and Challenges. Tartu University Press.

Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights. t.t., “Human Rights, Terrorism, and Counter-Terrorism”, [Online]. Tersedia dalam: https://www.ohchr.org/Documents/Publications/Factsheet32EN.pdf [Diakses 25 Maret 2019].

Pearlstein, Richard M., 2004. Fatal Future? Transnational Terrorism and The New Global Disorder. Texas: University of Texas Press.

Salter, Mark B., 2002. “New Barbarians, Old Barbarians: Post-Cold War IR Theory. ‘Everything Old is New Again’”, dalam Barbarian & Civilization in International Relations. London: Pluto Press, pp. 128-155.

Wright, Robin,. 2017. How Different-and Dangerous-Is Terrorism Today?, [Online]. Tersedia dalam:  https://www.newyorker.com/news/news-desk/how-different-and-dangerous-is-terrorism-today  [diakses 25 Maret 2019].

Ditulis oleh: Itta Afifa, Vidia Utami Fariinzi, Danika Ramadhani, Ida Ayu Laksmi D, Divany Nadila R, Devira Adventia P, Tamara Shidazhari