Kondisi ekonomi internasional yang pada awalnya dikuasai oleh negara-negara Barat karena penggunaan strategi kapitalisme dan kolonialisme pada era kontemporer mulai tersaingi oleh majunya perekonomian negara-negara di Asia Timur khususnya Jepang dan Tiongkok. Saat ini, kawasan Asia Timur dipandang sebagai negara-negara industri baru atau Newly Industrialized Countries (NICs). Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai cara yang digunakan untuk dapat menaikkan perekonomiannya dalam kurun waktu dua dekade saja. Terkait hal ini, aspek ekonomi saja tidak dapat menjawab fenomena tersebut, namun ada aspek penting lain yakni budaya. Budaya didefinisikan sebagai kebiasaan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok etnis, kelompok agama, dan kelompok sosial yang cenderung tidak berubah dari generasi ke generasi (Guiso, Sapienza, Zingales (2006) dalam Hennida, 2016). Dalam kawasan Asia Timur sendiri, terdapat suatu pandangan filsafat hidup yang mendasari perilaku dan cara hidup mereka yaitu konfusianisme. Dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan strategi yang digunakan oleh masing-masing negara di Asia Timur untuk memajukan perekonomiannya yang berdasarkan kepada ajaran konfusianisme dan bagaimana konfusianisme dapat dianggap sebagai penyebab krisis pada tahun 1997.

Dijelaskan dalam Kwon (2007), konfusianisme menyebabkan negara-negara Asia Timur untuk menerapkan tipe kapitalisme yang berbeda dari barat untuk mencapai modernitas. Konfusianisme digunakan sebagai sumber etika berperilaku secara kekeluargaan serta mengutamakan kerja keras dan aktivisme. Dengan perilaku-perilaku tersebut, konfusianisme telah menjadi faktor penting yang mendorong negara-negara Asia Timur untuk dapat bangkit dari kegagalan ekonomi di periode sebelumnya meski dalam prakteknya, peran konfusianisme berbeda di setiap egara dan dinamis mengikuti aktor negara kulturalnya. Namun selain itu, Berger (1986) dalam Hennida (2016) menyebutkan bahwa negara-negara Barat sebenarnya juga turut andil dalam kemajuan ekonomi Asia Timur dengan menggunakan cara humiliation atau penghinaan. Penghinaan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Jepang khususnya, mendorong masyarakat Jepang untuk bekerja lebih keras agar tidak terpuruk dalam rasa malu. Hal ini dipandang sebagai salah satu faktor lain yang menyebabkan masyarakat Asia Timur dapat menyaingi ekonomi negara-negara Barat.

Meningkatnya perekonomian Asia Timur pada awalnya dipelopori oleh Jepang. Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II kemudian mengalami kerugian perang dan kehancuran ekonomi seiring dengan adanya kerusakan infrastruktur dalam negerinya. Situasi ini kemudian dimanfaatkan Amerika Serikat untuk mempermalukan Jepang dengan memaksanya mengakui keunggulan Amerika Serikat dalam hal teknologi dan kemajuan (Hennida, 2016). Jepang kemudian mulai melakukan Restorasi Meiji dengan bersikap lebih terbuka, mempelajari teknologi Barat, lalu mulai membangun sektor industrinya. Industri awal yang dibangun Jepang adalah industri ringan seperti tekstil dan barang-barang elektronik sederhana yang kemudian berkembang menadi industri berat seperti besi dan baja, kapal, bahan-bahan kimia, dan barang petroleum (Steven (1990) dalam Hart-Landsberg&Burkett, 1998). Namun, pada tahun 1980-an, terjadi krisis minyak yang menjadi penghambat bagi Jepang sehingga Jepang merealokasikan manufaktur dan mesin-mesinnya ke wilayah Asia sebagai bentuk ekspansi domestik dan investasi. Selain itu, kesuksesan Jepang juga disebabkan oleh bubble economy yakni naiknya harga tanah, konstruksi, dan perumahan domestiknya sendiri secara pesat dalam waktu yang relatif cepat (Oizumi (1994) dalam Hart-Landsberg&Burkett, 1998). Namun pada tahun 1990-an, harga tersebut mulai mengalami penurunan yang signifikan karena kota-kota metropolitan di Jepang seperti Osaka dan Tokyo telah mencapai puncaknya. Hal ini kemudian menjadi suatu permasalahan baru bagi Jepang.

Sedangkan di Tiongkok pada tahun 1949, Mao Zedong mengubah Tiongkok menjadi negara sosialis dan secara bertahap mulai membuka diri dengan melakukan liberalisasi pada sektor ekonomi internasional dan melakukan perdagangan bebas. Pada masa ini neo-konfusianisme digantikan oleh partai komunis karena dipandang sebagai legasi feudal yang merupakan musuh dalam sistem Marxisme (Hennida, 2016).Maka Tiongkok mulai menggunakan pembangunan ala Soviet yang berorientasi pada industri sosialisme. Namun pada tahun 1956 Tiongkok mulai menggunakan sistemnya sendiri yakni berorientasi pada agrikultur (Rosker (2014) dalam Hennida, 2016). Reformasi ekonomi ini kemudian diteruskan oleh Deng Xiaoping pada tahun 1978 dan membawa beberapa perubahan besar bagi perekonomian Tiongkok. Dengan menggunakan sumber daya manusianya yang melimpah, Tiongkok melakukan kegiatan ekspor besar-besaran untuk membangkitkan perekonomiannya. Kemudian pada tahun 1980-an neokonfusianisme mulai digunakan kembali karena di bawah pimpinan Deng Xiaoping, berbagai ajaran filosofi boleh dipelajari (Hennida, 2016). Neokonfusianisme lalu kembali diajarkan kembali karena dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat, dikhawatirkan akan terjadi penurunan nilai moral dan etika.

Selanjutnya di Korea Selatan pembangunan ekonomi mulai dilakukan pada masa pasca kolonialisme Jepang di Korea. Hal ini dikarenakan kolonialisme telah menimbulkan han pada masyarakat Korea, yakni rasa benci terhadap orang-orang yang telah menyakiti mereka selama turun temurun, sehingga mereka menginginkan kemajuan ekonomi yang dapat menyaingi negara-negara lain khususnya Jepang. Korea Selatan juga termasuk negara yang menerapkan nilai-nilai konfusianisme dalam praktik politik dan ekonominya seperti kerja keras, loyalitas da hierarki, sehingga Presiden Park pada saat itu bisa mendorong setiap individu untuk menyadari posisinya masing-masing sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi (Hennida, 2016). Kegiatan ekonomi yang dilakukan pada masa pasca kolonialisme ini adalah memfokuskan ekspor atas barang-barang agrikultur karena dianggap paling menguntungkan (Akkemik, 2009). Lebih lanjut, hal ini memunculkan chaebol yang dengan mudah mendapat kredit, penggunaan fasilitas negara untuk urusan bisnis, dan keringanan pajak impor (Seth (2011) dalam Hennida, 2016). Namun kemudian pada saat krisis pada tahun 1980, Korea Selatan mengalami kemunduran karena inflasi dalam negeri, lonjakan harga minyak, dan hutang luar negeri dengan Jepang. Namun dengan etos kerja dalam prinsip konfusianisme yang dianutnya, perlahan Korea Selatan dapat memperbaiki perekonomiannya dengan pemerintahan dan birokrasi terpusat serta kebijakan nasional yang kuat (Hennida, 2016).

Lebih lanjut, meski konfusianisme dianggap berhasil dalam mewujudkan kemajuan ekonomi yang pesat di Asia Timur, terdapat pandangan lain bahwa konfusianisme justru menyebabkan terjadinya krisis 1997 bagi perekonomian dunia. Krisis 1997 sendiri merupakan krisis finansial yang dialami negara-negara Asia Tenggara, Korea Selatan, dan Taiwan. Dimulai dari ekspor besar-besaran yang dilakukan oleh negara-negara tersebut yang menyebabkan jumlah kredit suku bunga cenderung tinggi dan berada diatas suku bunga negara-negara maju. Kondisi mengakibatkan daya tarik bagi pemodal sehingga capital inflow yang masuk ke negara-negara ini menjadi tinggi dan pertumbuhan ekonomi meningkat hingga 8-12%. Namun, ketika Amerika Serikat berhasil bangkit dari resesi domestik dan mulai menaikkan suku bunganya, aliran dana berpindah arah dan berakibat pada naiknya nilai dollar dan menurunnya nilai mata uang negara-negara lain. Dari peristiwa ini dapat dilihat bahwa etos kerja tinggi yang berakar dari konfusianisme menyebabkan dampak yang merugikan khususnya bagi negara-negara di Asia.

Simpulan dari paparan diatas adalah dianutnya paham konfusianisme khususnya di negara-negara Asia timur memang membawa dampak yang signifikan dalam kemajuan ekonominya masing-masing. Dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar konfusianisme seperti kerja keras, loyalitas, dan kekeluargaan, negara-negara Asia Timur dapat menyaingi bahkan melebihi kekuatan ekonomi negara-negara Barat yang sejak dahulu memonopoli perekonomian dunia. Namun di sisi lain, konfusianisme juga dianggap dapat membawa kerugian bagi negara-negara lain pada masa krisis finansial tahun 1997. Etos kerja yang dilakukan secara terus menerus dengan kepercayaan berlebih kepada struktur hirarkis yang ada dengan menerapkan prinsip anak yang setia dan berbakti kepada ayahnya dalam ajaran konfusianisme dapat berakibat buruk pada kegiatan ekonomi yang dilakukan suatu negara. Penulis beropini bahwa pada dasarnya prinsip konfusianisme mengajarkan hal-hal yang positif untuk diterapkan, namun seiring berjalannya waktu terdapat pergeseran nilai budaya dan sosial dalam masyarakat yang mana seharusnya dapat disesuaikan dengan ajaran konfusianisme tersebut. Negara juga sebaiknya dapat memilah ajaran-ajaran konfusianisme yang sesuai dengan kondisi saat ini.

Referensi:

Akkemik, K Ali. 2009. Economic Development in East Asia: A Comparative Look at Japan, Korea, Taiwan, and Singapore. Singapore: World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd

Hennida, Citra, et al. 2016. “Budaya dan Pembangunan ekonomi di Jepang, Korea Selatan, dan China” dalam Global dan Strategis 9(2)

Kwon, Keedon. 2007. “Economic Development in East Asia and a Critique of the Post Confusian Thesis” dalam Theory and Society Vol.36 no.1

Hart-Ladsberg, Martin & Burkett, Paul. 1998. “Contradictions of Capitalist Industrialization in East Asia: A Critique of “Flying Geese” Theories of Development” dalam Economic Geography. Vol. 74 no.2