Situasi di perbatasan Armenia dan Azerbaijan kembali memanas. Setelah berupaya untuk menjaga perdamaian di masa pandemi, pada hari Minggu (12/07) dan Senin (13/07) lalu terjadi pertempuran sengit di antara keduanya yang melibatkan sejumlah senjata-senjata berat. Pihak Azerbaijan mengatakan bahwa pertempuran tersebut terjadi di Distrik Tovuz utara yang berbatasan dengan Armenia. Dalam pertempuran tersebut, setidaknya empat serdadu Azerbaijan yang salah satunya berpangkat letnan tewas.

Pertempuran militer terus berlanjut dalam beberapa hari berikutnya dan menewaskan lebih banyak korban. Pada hari Kamis (16/07), tentara Armenia menyerang tiga desa di Tovuz dengan senjata berat dan peluru mortar. Pihak berwenang menyatakan bahwa serangan-serangan masih berlanjut namun saat ini situasi telah dikendalikan oleh para tentara Azerbaijan. Hingga kini, dilaporkan tidak kurang dari 15 tentara dari kedua pihak tewas dalam bentrokan tersebut. Sementara dari pihak Armenia sendiri membantah adanya korban dalam jumlah banyak, melainkan hanya beberapa orang terluka dan dua perwira tewas. Pada akhirnya, tentara Azerbaijan berhasil memukul mundur Armenia dalam serangan balasan.

Penyebab utama dari bentrokan ini masih belum jelas, namun kedua belah pihak saling menuding siapa yang menjadi dalang utama dengan melakukan serangan-serangan yang menarget pemukiman penduduk sipil di perbatasan. Konflik wilayah pegunungan Nagorno Karabakh antara Armenia dan Azerbaijan memang merupakan konflik penting yang tidak dapat diabaikan, namun bentrokan pada Minggu lalu justru terjadi di daerah yang cukup jauh dari Karabakh dan tepat berada di perbatasan kedua negara.

Sejak menyepakati gencatan senjata pada tahun 1994, sejatinya konflik perbatasan Armenia dan Azerbaijan masih kerap terjadi, meski beberapa upaya perdamaian telah dilaksanakan seperti mengadakan pertemuan dengan mediator dari “Kelompok Minsk” yang terdiri dari diplomat-diplomat Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat.

Dilansir dari Al Jazeera, menteri pertahanan Armenia menuduh tentara Azerbaijan telah banyak berpindah tempat dan menggunakan para warga sipil sebagai “tameng manusia”. Sementara pihak Azerbaijan sendiri membantah telah menarget warga sipil dan memberi tudingan yang sama terhadap Armenia.

Bentrokan yang terjadi akhir-akhir ini, juga secara tidak langsung memengaruhi persaingan antara Turki yang mendukung Azerbaijan dan Rusia yang mendukung Armenia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Selasa (14/07) bahwa Turki tidak akan pernah ragu untuk melawan dan memperjuangkan hak atas tanah Azerbaijan. Ia juga menyebut adanya konspirasi dibalik bentrokan militer tersebut.

“Ini bukanlah pelanggaran dan konflik perbatasan melainkan serangan langsung terhadap Azerbaijan. Sungguh jelas serangan ini menunjukkan bahwa Armenia memulai pertarungan yang sebenarnya tidak dapat ia menangkan”, ujar Erdogan, sebagaimana dituliskan dalam VOA News.

Media pro-pemerintah Turki juga telah menulis artikel-artikel yang memojokkan Rusia atas bentrokan yang terjadi antara Armenia dan Azerbaijan, meski tidak menjelaskan lebih lanjut dasar dari tuduhan tersebut.

Pihak Rusia melalui Juru Bicara Kremlin Dmitry Perskov membantah hal tersebut dan mengatakan bahwa Rusia sangat prihatin atas bentrokan yang terjadi dan siap untuk mengadakan mediasi di antara kedua negara bekas Uni Soviet tersebut. Terdapat kekhawatiran bahwa bentrokan ini akan menjadi masalah yang berkepanjangan dan mengarah pada hukum “mata untuk mata” – merugikan kedua belah pihak.

Pertempuran tersebut juga telah menarik perhatian Amerika Serikat dan Uni Eropa. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat merilis pernyataan yang “mengecam dengan tegas kekerasan di perbatasan internasional Armenia dan Azerbaijan” serta mengharapkan kedua pihak dapat mematuhi gencatan senjata dan meredakan konflik. Kekhawatiran dari pihak internasional meningkat karena ancaman stabilitas kedua negara tersebut dapat berdampak pada stabilitas regional pula, yang merupakan jalan masuk pipa minyak bumi dan gas dari Laut Caspian ke pasar dunia.

Sementara itu Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev mengambil keputusan yang mengejutkan dengan memecat Menteri Luar Negeri Elmar Mammadyarov pada Kamis lalu karena dipandang telah melakukan “negosiasi tidak bermakna” dengan Armenia. Elmar kemudian digantikan oleh Menteri Pendidikan, Jeyhun Bayramov.

Keadaan politik dan sosial dalam negeri di kedua negara akibat bentrokan ini juga sedang tidak stabil. Warga sipil di sekitar wilayah pertempuran mengaku ketakutan atas terjadinya serangan susulan dan meminta pemerintah untuk segera menyelesaikan konflik. Demonstrasi massa juga telah terjadi di sejumlah titik termasuk Baku, ibukota Azerbaijan pada 14 Juli. Rakyat menyerukan “Karabakh adalah milik kita!” dan sejumlah slogan lain, mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Mereka berusaha untuk memasuki gedung parlemen dan diakhiri dengan beberapa penangkapan dari polisi.

Referensi:

Al Jazeera. 2020. “Shelling between Azerbaijan and Armenia Ends Brief Ceasefire” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/07/shelling-azerbaijan-armenia-ends-ceasefire-200716184550121.html [diakses 17 Juli 2020]

Jones, Dorian. 2020. “Azerbaijan-Armenia Clashes Turkey-Russia Rift” [online] tersedia dalam https://www.voanews.com/europe/azerbaijan-armenia-clashes-highlight-turkey-russia-rift [diakses 17 Juli 2020]

Rozanskij, Vladimir. 2020. “Conflict Reignites between Armenians and Azeris. Perhaps Also Between Russia and Turkey?” [online] tersedia dalam http://www.asianews.it/news-en/Conflict-reignites-between-Armenians-and-Azeris.-Perhaps-also-between-Russia-and-Turkey-50588.html [diakses 17 juli 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila R