Setiap negara memiliki tujuan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan kepentingan nasional masing-masing negara juga tidak sama antara satu dengan yang lain. Terdapat faktor eksternal serta internal yang mendasarinya. Tidak hanya itu saja, dalam pencapaian kepentingan seringkali konflik timbul. Untuk mengakomodasi tercapainya kepentingan serta penyelesaian konflik, dilakukanlah diplomasi, Diplomasi didefinisikan sebagai praktek pelaksanaan politik luar negeri suatu negara dengan cara negosiasi dengan negara lain (Roy, 1995). Sedangkan menurut Webster, diplomasi adalah keahlian dalam melakukan persetujuan atau perjanjian serta memimpin jalannya hubungan di antara negara (Dinh, 1987). Diplomasi merupakan hal yang penting dan pasti dilakukan dalam hubungan internasional. Terdapat berbagai macam diplomasi. Salah satunya adalah security diplomacy.

Security diplomacy merupakan salah satu bentuk diplomasi yang digunakan untuk mengantisipasi isu-isu keamanan tertentu. Dengan seiring berjalannya waktu, tak dapat dipungkiri jika masalah keamanan kini menjadi salah satu faktor yang krusial untuk suatu negara. Jika keamanan suatu negara terancam, maka hal tersebut juga akan berakibat pada keberlangsungan kehidupan negara itu sendiri. Terlebih pada saat abad ke-21 kini yang telah menimbulkan banyak permasalahan yang mengancam kemanan negara dan dapat berimbas pada kepentingan negara itu sendiri. Diplomasi kini tak hanya digunakan untuk membangun aliansi dengan negara lain untuk membangun suatu kerja sama yang saling menguntungkan, kini diplomasi juga digunakan untuk melindungi negara dari ancaman keamanan yang khususnya datang dari luar. Negosiasi digunakan sebagai sarana untuk melindungi keamanan negara dari ancaman yang datang (Nolan, 2009). Contohnya saja semenjak kejadian 9/11, Amerika Serikat kini lebih waspada terhadap masalah terorisme yang bisa menyerang kapan saja dan di mana saja karena kini telah muncul suatu kesadaran jika tidak selamanya kekuatan militer dapat diandalkan karena keterbatasannya, maka cara alternatif untuk masalah tersebut adalah menggunakan diplomasi, baik bilateral maupun multilateral (Nolan, 2009). Tidak mungkin jika setiap permasalahan yang menyinggung keamanan negara harus berujung dengan konflik atau bahkan perang. Diplomasi memegang peranan penting bagi suatu negara untuk dapat menjaga apa yang menjadi kepentingannya melalui kebijakan luar negeri yang dibuat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam security diplomacy ini adalah proses dari pembuatan keputusan itu sendiri, kualitas intelijen, alat-alat kebijakan, quality of discourse, dan dinamika regional (Nolan, 2009).

Bagi beberapa negara, seperti Amerika Serikat, security diplomacy diterapkan sebagai salah satu bentuk kebijakan luar negeri guna meningkatkan keamanan. Keamanan dalam hal tersebut termasuk keamanan dari teror, mengingat sejak peristiwa 9/11, isu terorisme menjadi perhatian dunia. Melalui security diplomacy, pemerintah Amerika Serikat memberikan penghargaan kepada siapa saja yang membantu pemerintah dalam menyediakan informasi yang menyangkut ancaman keamanan (US Department of States, 2009).

Menurut White (2001), security diplomacy dilakukan guna melindungi keamanan dalam negeri maupun keamanan rakyat suatu negara di luar negeri. Perlindungan yang diperoleh dari pelaksanaan security diplomacy sesungguhnya tak hanya ditujukan untuk menyelamatkan kehidupan rakyat, namun juga kepentingan nasional suatu negara. Hal ini dikarenakan, kepentingan nasional suatu negara tidak dapat direalisasikan apabila faktor keamanan tidak menunjang. Security diplomacy dapat dikatakan menjadi sarana soft power guna mengatasi masalah keamanan yang ada yang selama ini cenderung diselesaikan dengan hard power.  Penggunaan hard power yang tidak selamanya efektif meski telah melakukan banyak pengorbanan, membuat para aktor menggunakan diplomasi sebagai sarana penanggulangan masalah. Selain itu, dengan semakin besarnya interdependensi satu sama lain diantara aktor, maka semakin besar pula kesadaran bagi para aktor bahwa gangguan keamanan yang terjadi pada suatu wilayah akan berdampak pada wilayah lainnya (Djelantik, 2007).

Security diplomacy telah dilakukan sejak zaman dahulu. Menurut Jazbec (2006), secara resmi penerapan security diplomacy pertama kali dimulai setelah Westphalian system dipakai oleh pihak-pihak di Eropa. Hal ini didasari oleh adanya kedaulatan bagi setiap negara untuk menentukan nasibnya sendiri serta adanya batas-batas negara yang jelas. Oleh karena itu, setiap negara menginginkan negaranya untuk aman dan terbebas dari campur tangan asing yang kemudian memunculkan konsep kedaulatan. Namun, penulis berpendapat bahwa praktik security diplomacy pada dasarnya telah dilaksanakan semenjak era Mesopotamia. Hal ini dapat dilihat dari adanya perjanjian untuk mengakhiri perang dan menjaga keamanan di wilayah Timur Dekat (Kurizaki, 2011).

Setiap diplomasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan security diplomacy adalah dapat memupuk rasa saling percaya antarnegara melalui aspek keamanan (Djelantik, 2007). Adanya penggunaan soft power juga merupakan suatu kelebihan dari diplomasi ini. Selain itu melalui diplomasi ini juga menunjukkan batas-batas negara dalam dunia internasional. Kelebihan lainnya yakni berperan terhadap tercapainya perdamaian dunia dan terjaga keamanan bersama. Namun bila diplomasi ini gagal maka dapat menimbulkan dampak yang besar yakni terjadinya perang. Hal tersebut merupakan kekurangan security diplomacy.

Contoh diplomasi keamanan adalah pembentukan NATO (North Atlantic Treaty Organization). NATO merupakan organisasi yang menekankan pada bidang militer di negara-negara Atlantik Utara. Tujuan sebenarnya adalah untuk membendung gerakan komunis yang merajalela di negara-negara Eropa Barat pasca Perang Dunia II. Tujuan lain NATO adalah menyelesaikan sengketa secara damai, menghapuskan sengketa ekonomi politik internasional, menghindarkan penggunaan kekerasan militer dalam hubungan internasional, dan saling membantu dan membela negara yang tergabung dalam NATO ketika memperoleh serangan dari negara lain. Pembentukan NATO ini mencerminkan praktik diplomasi keamanan secara nyata. Diplomasi keamanan menekankan menjaga keamanan tanpa menggunakan hard power, melainkan soft power. Penggunaan soft power yang tampak pada pembentukan NATO ini adalah melalui ideologi.

Berdasar penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa security diplomacy adalah diplomasi yang digunakan untuk mengantisipasi isu-isu keamanan tertentu. Diplomasi ini digunakan untuk melindungi keamanan terutama ancaman dari luar. Security diplomacy dapat disebut lebih menitikberatkan pada soft power daripada hard power. Hard power tidak digunakan karena dapat menimbulkan banyak korban jiwa. Security diplomacy ini telah digunakan sejak munculnya perjanjian Westphalia pada tahun 1648. Hal ini didasari untuk melindungi keamanan suatu negara dari luar karena pada saat itu tiap negara telah memiliki kedaulatan dan teritori yang jelas antar negara. Security diplomacy memiliki kelebihan dan kekurangan. Contoh diplomacy security sendiri adalah pembentukan NATO.

Referensi:

Dinh, Tranh Van. 1987. Communication and Diplomacy in Changing World. New York: Ablex Pub.

Djelantik, Sukawarsini. 2007. Diplomasi : Antara Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Jazbec, Milan, 2006. Diplomacy and Security after the End of the Cold War: The Change of the    Paradigm. Glasgow: Harper Collins Publishers.

Kurizaki, Shuhei. 2011. A Natural History of Diplomacy. London: Reaktion Books Ltd

Nolan, Janne E. 2009. Diplomacy and Security in the Twenty-first Century [online], dalam https://isd.georgetown.edu/sites/isd/files/Diplomacy_and_Security.pdf [diakses 13     Oktober 2015]

Roy, S.L. 1995. Diplomasi. Jakarta: PT Grafindo Raja Perkasa

US Department of States. 2009. Diplomatic Security : Regional Security Office. Public Affairs Bureau of Diplomatic Security, Department of States.

White, Brian. 2001. “Diplomacy”, dalam John Baylis dan Steve Smith, The Globalization of

World Politics: An Introduction to International Politics. New York: Oxford University Press.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.