Globalisasi telah dikaitkan terhadap fenomena yang terjadi di dunia mulai dari pekerja anak, kerusakan lingkungan, homogenisasi budaya, hingga berbagai macam penyakit yang muncul pada negara-negara kaya maupun miskin. Pada era saat ini pun, kita masih sering mendengar asumsi-asumsi yang mengatakan bahwa globalisasi merupakan sesuatu yang buruk, sebuah sumber dari segala masalah yang menimpa manusia. Asumsi-asumsi seperti itu muncul dari pemikiran-pemikiran kaum anti-globalis. Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba menjelaskan arus balik globalisasi yang berbentuk gerakan-gerakan anti-globalisasi.

Awal mula penentangan anti globalis terjadi 1970-an dengan kemunculan perdamaian seperti di masa modern, kelahiran pergerakan kaum feminis, dan gerakan non-blok, seperti UN Environtment Summit dan Green Parties (Buckman, 2004). Pada tahun 1960 dan 1970-an negara tangan kiri memang sudah terlihat akan artikulasinya terhadap ekonomi. Dan sekitar tahun 1980-an munculah organisasi-organisasi yang tidak berhubungan dengan negara tangan kiri. Keruntuhan tembok Berlin pada 1989, banyak diklaim sebagai kejadian yang menjadi titik balik kapitalisme yang menang atas komunisme. Gaya pemerintahan Amerika yang minimalis yang menang, sedangkan globalisasi ditandai dengan gaya globalisasi Amerika yang mendorong kapitalisme (Buckman, 2004). Selain itu, banyak juga negara yang mengantri untuk ekspansi lebih lanjut dari WTO. IMF dan WTO mendapatkan tekanan baik dari negara tangan kanan maupun kiri.

Kaum anti globalis pada dasarnya hanya memfokuskan pada beberapa isu saja, seperti globalisasi ekonomi. (Buckman, 2004). Kritik terhadap globalisasi ekonomi terdiri atas dua golongan, yaitu golongan protes garis keras dan kritikus globalisasi yang merasa tidak puas baik dalam parameter perbedaan pendapat utama dan wacana (Bhagwati, 2004). Golongan garis keras memiliki rasa penolakan mendalam terhadap ide akan globalisasi karena memandang globalisasi sebagai tindak lanjut kapitalisme di seluruh dunia. Sedangkan golongan kedua adalah golongan yang menuangkan ketidakpuasan mereka ke dalam argumen bahwa globalisasi ekonomi merupakan penyebab beberapa penyakit sosial saat ini, seperti kemiskinan di negara-negara miskin dan kerusakan lingkungan di seluruh dunia (Bhagwati, 2004).

Globalisasi yang diartikan sebagai imperialisme model baru berkembang pesat dari sebelumnya. Hal ini sejalan dengan dibukanya lapak dagang pasar bebas yang diatur dalam institusi-institusi seperti AFTA, WTO, North American Free Trade Agreement (NAFTA), membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi para pemilik modal, dalam hal ini perusahaan multinasional dalam mengembangkan dan meregulasi saham mereka. Perilaku konsumtif menjadi bentuk budaya baru seiring maraknya produk-produk bermerek di kalangan masyarakat internasional sebagai tren kekinian. Hal semacam ini telah berhasil melumpuhkan sendi-sendi perekonomian lokal yang buktinya dapat dilihat pada bagaimana pasar global menunjukkan kemunduran bagi kesejahteraan petani dan pengusaha kecil. Di lain hal, sistem lingkungan tidak luput dari kerusakan akibat model produksi besar-besaran. Hal-hal semacam inilah yang lalu memunculkan gerakan-gerakan penentang globalisasi atau kaum anti globalis (Buckman, 2004).

Bhagwati (2004) juga membagi ketidakpuasan dalam globalisasi menjadi tiga hal yang sebenarnya saling berkaitan, yaitu anti-kapitalisme, anti-globalisasi dan anti-korporasi. Anti-kapitalisme mengaggap bahwa globalisasi akan menyebabkan negara-negara miskin teragredasi ke status bergantung dalam perekonomian internasional. Anti-kapitalisme kemudian telah berubah menjadi anti-globalisasi di kalangan mahasiswa sayap kiri yang melihat bahwa globalisasi hanyalah kedok bagi negara-negara besar untuk menindas negara-negara kecil. Sementara sikap anti-korporasi datang dari banyak orang lain yang tidak menyukai pemikiran sayap kiri, dan juga dari perasaan jelas bahwa perusahaan multinasional adalah agen utama dan penerima manfaat kapitalisme dan globalisasi.

Para kaum anti globalis yang hadir untuk mengkritik globalisasi ternyata juga tidak luput dari kritikan pula. Klaim-klaim yang diucapkan oleh kaum anti-globalis juga mengalami beberapa kritikan. Menurut Micklethwait dan Wooldridge (2001), klaim yang mengatakan bahwa globalisasi justru menguntungkan perusahaan-perusahaan besar saja adalah salah. Mereka melihat bahwa proporsi keluaran dari perusahaan-perusahaan besar justru menurun. Persaingan antara perusahaan yang telah mapan dan perusahaan baru menjadi lebih seimbang dibanding sebelumnya. Hal ini disebabkan globalisasi telah mengurangi keuntungan perusahaan-perusahaan besar selama ini, yaitu modal, teknologi, dan relasi dengan pemerintah. Klaim globalisasi cenderung merusak lingkungan juga ditolak oleh Micklethwait dan Wooldridge (2001), karena perusahaan justru memilih untuk menggunakan cara produksi yang bersih demi menjaga jumlah konsumennya akibat dampak globalisasi yang menawarkan keterbukaan informasi. Selain itu, globalisasi tidak berarti membuat aspek geografis menjadi irelevan karena setiap daerah masih mempunyai comparative advantage-nya masing-masing (Micklethwait & Wooldridge, 2001). Globalisasi juga tidak berarti Americanization karena globalisasi juga berarti menambah ragam pilihan, sehingga Amerika Serikat bukan lagi pilihan satu-satunya (Micklethwait & Wooldrdige, 2001).

Setelah penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa arus balik globalisasi hadir dengan adanya suatu gerakan anti globalis yang cenderung memandang globalisasi sebagai suatu bentuk dari kapitalisme baru yang eksploitatif dan juga dipandang sebagai gerakan neoliberalisasi atas negara-negara kapitalisme yang menginginkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal tersebut pada akhirnya memunculkan protes atau pertentangan dari masyarakat yang peduli terhadap nasib dunia ini dari efek globalisasi dan direalisasikan lewat gerakan untuk menentang kapitalisme dunia dan berlanjut sebagai gerakan anti globalis. Gerakan anti globalis tersebut sebenarnya telah membantu menyadarkan masyarakat dunia agar lebih bersikap kritis dalam menyikapi fenomena globalisasi, bahwa globalisasi tidak hanya membawa keuntungan, akan tetapi juga ada dampak-dampak buruk yang merugikan yang dibawanya. Dengan sikap kritis tersebut, diharapkan masyarakat modern masa kini tidak asal menerima berbagai hal dalam globalisasi serta dapat memilah pengaruh-pengaruh yang ada dalam fenomena globalisasi.

Referensi:

Bhagwati, Jagdish. 2004. “Anti-Globalization: Why?”, dalam In Defense of Globalization, Oxford: Oxford University Press, pp. 3-27.

Buckman, Greg. 2004. “the Anti-Globalization Movement”, dalam Globalization: Tame It or Scrap It?, London: Zed Book, pp. 107-121.

Micklethwait, John. 2001. “the Globalization Backlash”, Foreign Policy, No. 126, pp. 16-26.

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.