Pada masa pasca Perang Dingin, Amerika Serikat beserta aliansinya dengan negara-negara Barat memenangkan kompetisi persaingan penyeimbangan kekuatan dan pengaruh di seluruh dunia. Didukung dengan kemudahan penyebaran informasi dan komunikasi oleh globalisasi dalam penemuan teknologi-teknologi baru, negara-negara Barat terus menyebarkan ideologi dan pengaruhnya kepada negara-negara lain. Pengaruh yang dimaksud dapat berupa legitimasi politik, monopoli ekonomi, dan penyebaran budaya. Namun, Kishore Mahbubani dalam bukunya yang berjudul Can Asians Think? berargumen bahwa kesuksesan yang dirasakan oleh negara-negara Barat tidak menjamin pengaruh tersebut bebas dari ancaman negara-negara nonbarat. Dengan kata lain, meski tidak mendapat ancaman militer dari negara mana pun, namun ancaman bagi mereka dapat berupa hal lain yang tidak kalah kuat melalui tingginya jumlah penduduk di seluruh dunia dan menurunnya populasi di negara Barat sendiri. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah strategi baru yang komprehensif dan sesuai untuk diterapkan pada masa sekarang oleh negara-negara Barat untuk mempertahankan reputasinya.

Pada masa Perang Dingin, kedua pihak baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet menganggap penting setiap negara di dunia dan berusaha untuk mempengaruhi sebanyak mungkin massa untuk mendukung bloknya. Negara Dunia Ketiga sekalipun dapat dianggap strategis bagi kedua blok dan menciptakan hubungan negara patron dan klien yang diwujudkan melalui bantuan luar negeri dan subsidi. Namun, tatanan tersebut berubah pada masa berakhirnya Perang Dingin karena runtuhnya Soviet kemudian menyebabkan negara-negara aliansinya merasakan kekalahan yang sama dan bantuan Soviet terhadap negara-negara tersebut juga dihentikan (Mahbubani, 2001). Begitu pula dari pihak pemenang yakni negara Barat, yang menyusun ulang skala prioritasnya atas negara-negara lain untuk diajak bekerjasama. Dalam hal ini, negara Dunia Ketiga kemudian tidak lagi dianggap strategis oleh negara Barat dan tidak lagi mendapat perhatian lebih untuk kerjasama-kerjasama lebih lanjut. Meski hal tersebut berarti pencabutan bantuan luar negeri dari negara superpower, namun juga terdapat hal positif seperti menurunnya jumlah pemerintahan diktator dan berakhirnya konflik-konflik yang terkait Perang Dingin (Mahbubani, 2001). Selain itu, beberapa negara kemudian juga dapat beradaptasi dan muncul sebagai negara kuat tanpa bantuan dari negara besar mana pun seperti India dan Brazil.

Penemuan teknologi yang banyak ditemukan pada masa Perang Dingin kemudian menyempitkan dunia menjagi global village yang saling terintegrasi sehingga batas negara Barat dan non-Barat menjadi tidak jelas. Maka pada masa berakhirnya Perang Dingin, negara Barat semakin sulit untuk memisahkan diri dari negara-negara Dunia Ketiga karena dianggap memberi beban dan memunculkan ketergantungan. Namun atas pengaruh global village, konflik yang terjadi di suatu daerah akan berdampak pada negara lain pula sehingga negara-negara di dunia menjadi semakin terhubung (Mahbubani, 2001). Tingginya arus migrasi akibat mudahnya transportasi kemudian menghasilkan imigran-imigran yang bergerak lintas batas negara. Hal tersebut kemudian dapat mengancam jumlah populasi di negara-negara Barat dan dapat berdampak pada semakin berkurangnya pengaruhnya di dunia.

Permasalahan lain adalah munculnya negara-negara Asia Timur sebagai kekuatan ekonomi baru yang berpotensi untuk menyaingi negara-negara Barat. Jika melihat kilas balik jejak historis yang dimiliki kawasan Asia Timur, peristiwa kalahnya Rusia atas Jepang pada tahun 1905 telah memunculkan dampak psikologis anti kolonial pada negara-negara Asia Timur, sehingga di masa sekarang pula negara-negara tersebut berusaha untuk menyaingi dan mengalahkan negara-negara maju yang ada (Mahbubani, 2001). Namun hal tersebut tidak hanya berhenti di tingkat regional melainkan juga sampai ke negara-negara lain seperti Meksiko, Turki, Malaysia, dan Indonesia yang mana hal ini dapat mengancam posisi negara-negara Barat. Lebih lanjut, kesuksesan negara seperti Jepang yang menggunakan sistem pemerintahan terpusat kemudian juga dapat melemahkan usaha demokratisasi yang disebarkan oleh Amerika Serikat. Istilah “good governance” kemudian muncul sebagai bentuk pemerintahan ideal yang bersumber dari negara-negara Asia Timur dengan ciri-cirinya antara lain dapat menciptakan stabilitas politik, birokrasi berbasis meritokrasi, pertumbuhan ekonomi dengan kesetaraan, prudensial fiskal, dan tingkat korupsi yang relatif rendah (Mahbubani, 2001).

Dapat disimpulkan bahwa keberhasilan negara-negara Barat dalam menyebarkan pengaruhnya pada masa setelah berakhirnya Perang Dingin tidak lepas dari hambatan dan ancaman dari negara-negara lain termasuk negara Dunia Ketiga. Pertama, penemuan teknologi melalui globalisasi dapat menyebabkan hilangnya batas negara dan munculnya global village yang mana hal tersebut kemudian menyebabkan meningkatnya arus migrasi negara berkembang ke negara maju. Fenomena ini kemudian dapat merugikan negara Barat karena pada akhirnya konflik yang terjadi di suatu negara dapat berakibat ke negara lain pula sehingga usahanya untuk memisahkan diri dari negara Dunia Ketiga dapat terhambat. Kedua, negara-negara Asia Timur mulai mendominasi perekonomian dunia dan dapat mengancam negara Barat yang memegang posisi ekonomi terkuat saat ini. Terlebih didasari oleh rasa anti kolonialisme, kesuksesan negara di Asia Timur kemudian menginspirasi negara-negara berkembang lain untuk memajukan perekonomiannya. Dan ketiga, kondisi yang ada kemudian menyebabkan pembangunan ekonomi melalui good governance yang ditawarkan oleh negara-negara Asia Timur kemudian dirasa lebih menarik dan efektif jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan demokratis yang dicetuskan oleh Amerika Serikat. Penulis beropini bahwa pada dasarnya setiap negara memiliki kecenderungan dan ciri khas masing-masing yang seharusnya ditonjolkan sebagai bentuk kekuatan negara tersebut tanpa harus meniru atau menggunakan prinsip dari negara yang dominan saat itu. Hal tersebut perlu dikembangkan karena penyebaran ideologi dan prinsip oleh negara lain dapat memiliki motif lain yang menguntungkan kepentingan negara tertentu saja sehingga penting untuk menggunakan kultur dan kebiasaan dari negaranya sendiri.

Referensi:

Mahbubani, Kishore. 2001. “The West and the Rest” dalam Can Asians Think?. Toronto: Key Porter Book, pp. 40-57