Perkembangan zaman dan perubahan periode waktu dapat memberi dampak tertentu pada tatanan politik dan kultur dunia. Tatanan baru tersebut kemudian memunculkan isu dan konflik baru yang lebih kompleks dan meliputi berbagai aspek. Terorisme merupakan salah satu isu yang marak terjadi sejak peristiwa 9/11 di Amerika Serikat pada tahun 2001 dan telah mendapat perhatian baru di dunia internasional. Pada umumnya, pelaku terorisme tidak berasal dari negara tempat ia melakukan aksi terornya dengan motif yang berbeda-beda sehingga isu terorisme dikategorikan sebagai isu yang mengancam masyarakat global di era kontemporer. Samuel Huntington kemudian muncul sebagai salah satu pakar yang menciptakan istilah “clash of civilizations” yakni anggapan bahwa kegiatan terorisme yang terjadi merupakan sebuah benturan dari peradaban Islam dengan Barat dan akan terus berlanjut dalam tingkat yang lebih tinggi. Neumayer dan Plumper (2009) dalam tulisannya yang berjudul International Terrorism and the Clash of Civilizations kemudian mencoba mengkritik konsep clash of civilizations dan mengaitkannya dengan teori terorisme internasional.

Pertama, memandang dari konsep yang ditawarkan Huntington, ia menganggap bahwa konflik dominan yang terjadi di dunia pasca Perang Dingin akan bergeser dari konflik ideologi ke konflik perbedaan peradaban yang mana peradaban diartikan sebagai pengelompokan kultural tertinggi dan identitas kultural yang terluas (Neumayer & Plumper, 2009). Jika mengacu pada definisi tersebut, maka pada masa ini terdapat kurang lebih tujuh peradaban besar yakni Barat, Sinic, Jepang, Islam, Hindu, Slavic Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika. Lebih lanjut, modernisasi ekonomi akan melemahkan kekuatan negara bangsa sehingga identitas yang akan menonjol adalah agama, dan hal tersebut akan menimbulkan berbagai konflik. Terkait hal ini, Huntington mengatakan bahwa peradaban Islam telah terlibat dalam lebih banyak konflik jika dibandingkan dengan peradaban yang lain khususnya dalam kasus terorisme yang dianggap sebagai salah satu senjata paling populer (Neumayer & Plumper, 2009). Namun, Neumayer & Plumper (2009) membantah pernyataan ini dengan menyatakan bahwa Huntington tidak menggunakan dasar teoritik apapun sehingga tidak mampu menjelaskan mengapa terorisme dianggap sebagai senjata yang populer dan pada kenyataannya, kegiatan terorisme bisa dilakukan oleh peradaban manapun.

Lebih lanjut, Neumayer & Plumper (2009) memandang bahwa pemimpin kelompok terorisme merupakan aktor-aktor rasional yang memiliki tujuannya masing-masing. Dengan kata lain, tujuan utama kegiatan terorisme bukanlah untuk menciptakan teror, namun dengan adanya teror tersebut, maka pihak lawan akan mengikuti keinginannya. Terdapat tiga golongan utama dari kelompok teroris di era modern yakni kelompok anti kolonial yang menuntut kemerdekaan nasional dari pemerintahan yang sedang berlaku, kelompok radikal yang menentang kapitalisme, dan kelompok religius yang menuntut pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang berdasar kepada aturan agamanya (Neumayer & Plumper, 2009). Penyebaran teror kemudian dianggap paling efektif karena adanya ekslusi kelompok tertentu dari proses politik di negaranya, tidak adanya dukungan dari masyarakat, dan kekuatan asimetris antara pemerintah dan kelompok teroris. Oleh karenanya, selain untuk menyebarkan teror, kegiatan terorisme juga dilakukan untuk mencari pendukung dan merekruit anggota, yang mana kelompok-kelompok tersebut juga membutuhkan tempat tinggal dan amunisi senjata (Neumayer & Plumper, 2009). Terkait anggota kelompok teroris itu sendiri, Neumayer & Plumper (2009) menjelaskan bahwa terdapat tiga faktor yang mendasari yakni persamaan ideologi, persamaan nasib, dan rasa kecewa terhadap keadaan politik yang ada.

Jika dibandingkan dengan konsep milik Huntington, Neumayer & Plumper lebih cenderung melihat alasan terjadinya terorisme itu sendiri. Neumayer & Plumper (2009) menjelaskan bahwa meski pada umumnya kelompok-kelompok teroris yang ada ingin mengubah struktur politik domestiknya, namun target yang dituju adalah negara Barat karena memegang peranan media massa terbesar di dunia. Maka dari itu, penyerangan terhadap Barat akan memiliki nilai yang strategis. Kedua, kelompok teroris akan menyerang negara yang mendukung dan memberi bantuan kepada pemerintah negaranya karena tujuan utamanya adalah menggulingkan kekuasaan pemerintah negaranya sendiri. Penelitian kemudian dilakukan dengan didasari oleh International Terrorism: Attributes of Terrorists Events (ITERATE), dengan melihat data empiris yang ada. Namun, pada kenyataannya hasil data yang diperoleh sulit untuk dianalisis tanpa menimbulkan bias, karena terdapat identitas yang overlap dan faktor-faktor lain yang dapat berpengaruh seperti politik dan geografis (Neumayer & Plumper, 2009).

Dapat disimpulkan bahwa tulisan Neumayer dan Plumper mencoba mengkritik konsep clash of civilizations yang dicetuskan oleh Samuel Huntington terkait kegiatan terorisme yang terjadi di dunia internasional. Jika dikaitkan dengan teori terorisme internasional, argumen Neumayer dan Plumper memiliki persamaan dan perbedaan dengan argumen Huntington. Argumen utama yang dimiliki oleh Neumayer dan Plumper adalah penciptaan teror di dunia oleh kelompok terorisme bukanlah tujuan utamanya, melainkan keinginan adanya reformasi politik domestik atau dengan kata lain ingin menggulingkan pemerintahan yang ada. Melalui aksi terorisme, kelompok tersebut akan mendapat perhatian publik melalui media massa dan dapat sekaligus digunakan untuk mencari pengikut lebih banyak. Pemimpin kelompok teroris dianggap rasional karena terdapat motif dan tujuan tertentu yang ingin dicapainya melalui aksi terornya. Lebih lanjut, konflik terorisme tidak selalu didasarkan atas kebencian antar peradaban namun alasan lain yang lebih luas. Penulis beropini bahwa aksi terorisme memang tidak dapat dijustifikasi sebagai perbuatan dari kelompok peradaban tertentu saja karena anggota kelompok teroris tidak selalu didasarkan kepada identitas yang sama seperti agama dan kewarganegaraan namun lebih kepada persamaan nasib dan tujuan yang ingin dicapai.

Referensi:

Neumayer, Eric & Plumper, Thomas. 2009. “International Terrorism and the Clash of Civilizations” dalam British Journal of Political Science, Vol. 39, No. 4, pp. 711-734