Kelompok penulis akan mengulas jurnal kualitatif karya Mar Kramer yang berjudul Guerrilla Warfare, Counterinsurgency and Terrorism in the North Caucasus: The Military Dimension of the Russian-Chechen Conflict. Dalam tulisannya, Kramer mengangkat topik tentang perang antara Russia dan Chechnya pada masa pertengahan 1990-an. Peperangan di wilayah pegunungan tersebut sebenarnya sudah mencapai kesepakatan untuk berdamai melalui ditandatanganinya Perjanjian Khasyavurt tahun 1996 di Dagestan. Di dalamnya diisyaratkan bahwa pasukan Russia harus ditarik kembali dari wilayah Chechnya dan status Chechnya nantinya akan diputuskan pada akhir tahun 2001. Namun perjanjian tersebut tidak bertahan lama akibat serangan kelompok ekstremis Islam dari Chechnya di Dagestan bulan Agustus 1999. Peperangan antara pasukan Russia dan gerilyawan Chechen pun terus berlanjut. Kasus ini terbilang cukup menarik dikarenakan jumlah pasukan Russia yang pada kenyataannya jauh melebihi jumlah pemberontak hingga 50 banding 1, justru mengalami kesulitan dalam upaya menumpas angkatan bersenjata di wilayah sekecil Chechnya. Disini Kramer mencoba untuk menilai operasi tindakan militer yang dilaksanakan Russia dalam menghadapi Chechnya dan mencari tahu apakah ada pelajaran yang bisa diambil dari perang tersebut.

Penelitian dilakukan Kramer dengan mewawancarai langsung pejabat-pejabat dari Kementrian Pertahanan dan Kementrian Dalam Negeri Russia di Moskow. Data-data tambahan lainnya diambil dari berbagai laporan pers Russia, dokumen-dokumen resmi pemerintah dan militer, riwayat hidup mantan komandan-komandan militer, laporan wawancara tentara Russia yang sudah diterbitkan, data dari NGO Russia, dan analisis jurnal-jurnal militer Russia terkait perang di Chechnya. Penelitian Kramer terbukti bersifat kualitatif dilihat dari pendekatan fenomenologisnya yang berusaha menganalisis perilaku manusia dalam bereaksi menghadapi suatu permasalahan. Dia berusaha untuk memahami suatu peristiwa sosial melalui sudut pandang tertentu dan menarik interpretasi subyektif dari realitas sebagaimana adanya. Data-data yang diambil bersifat kualitatif dan dalam mengumpulkannya pun terdapat hubungan yang interaktif antara peneliti dengan yang diteliti, yakni berusaha sebisa mungkin memperhatikan orang-orang dan keadaan dari fenomena yang diteliti.

Melalui analisisnya, Kramer berteori bahwa terdapat beberapa poin penting dalam tindakan Rusia untuk melawan gerilyawan Chechen. Pertama adalah medan wilayah hutan dan pegunungan Chechnya yang memungkinkan gerilyawan Chechen menyerang konvoi pasukan Russia dengan mudah. Kekurangan pasukan Russia adalah bahwa mereka terlalu mengandalkan formasi serangan disiplin berdasarkan jaringan rute-rute jalan yang merupakan aspek yang jarang ditemui di wilayah perbatasan Chechnya. Para gerilyawan bisa mengambil kesempatan menyerang dengan kemungkinan keberhasilan yang lebih besar karena pergerakan mereka yang adaptif terhadap lingkungan. Pasukan Russia pun bisa dengan mudah dilumpuhkan hanya dengan merusak beberapa jembatan utama dan membajak kendaraan militer Russia yang terjebak. Serangan dari udara juga rentan bagi Russia karena wilayah pegunungan Chechnya yang dapat mengacaukan radar helikopter Russia. Jika ada yang berhasil menerbangkannya, tetap saja akan menjadi sasaran empuk bagi senjata misil Chechen.

Kedua, adalah jaringan jalur transportasi di wilayah perbatasan Chechnya yang menjadi kunci pergerakan pasukan gerilya. Berkat jaringan jalur ini, gerilyawan Chechen telah berhasil mencari posisi strategis untuk memastikan arah serangan balik Russia dan untuk menyergap mereka. Banyak para jihadis asing dengan mudahnya keluar-masuk Chechnya dari Georgia dan bagian utara pegunungan, terutama Dagestan dan Ingushetia. Militer Russia nampaknya mengalami kesulitan dalam mendeteksi jaringan jalur tersebut. Meskipun para komandan Russia sudah menerapkan aturan yang lebih tegas perkara lintas perbatasan untuk mencegah pemberontak Chechen dan gerilya berkumpul di tempat perlindungan terdekat, tetap masih sering ditemui celah-celah. Ketiga adalah bahwa taktik perang Chechen yang lebih mengutamakan langkah-langkah serangan dalam skala kecil terhadap pondasi kemantapan lawannya. Serangan tersebut terbukti jauh lebih efektif daripada taktik Russia yang cenderung mengandalkan serangan kolosal melalui darat dan udara. Taktik-taktik Chechen antara lain gerilya, menanam ranjau, menjatuhkan helikopter dan pesawat Russia, sniper, bom bunuh diri terhadap pasukan Russia dan pejabat pemerintah Chechnya yang pro-Russia.

Poin keempat, pemerintahan Rusia melakukan sensor pemberitaan mengenai praktik perang. Penyensoran pemberitaan tersebut berlaku bagi televisi dan media cetak. Tujuan dari penyensoran tersebut untuk melindungi pemberitaan agar sesuai dengan kepentingan dan tujuan pemerintahan. Salah satu praktik yang dilakukan pemerintahan Rusia adalah mencegah wartawan untuk tidak memasuki kawasan perang. Kurangnya eksplorasi terhadap kejadian nyata di kawasan perang menyebabakan wartawan kekurangan bahan pemberitaan. Sehingga, mereka terpaksa bergantung pada penyiaran televisi yang sudah diatur oleh pemerintahan Rusia.

Poin selanjutnya, Putin berhasil untuk mengacaukan pergerakan partai oposisi dan kompetisi politik yang ada di Rusia. Parlemen dianggap menjadi kepanjangan tangan dari Putin untuk mengawasi partai-partai yang berhalauan liberalis demokratis. Jika terdapat partai yang melakukan perhatian terhadap perang dan beroposisi terhadap pemerintahan seperti Partai Komunis Rusia maka partai tersebut akan dimarjinalkan. Adanya monopoli sistem politis di dalam pemerintahan Putin menyebabakan konflik yang ada tidak dapat diagendakan dalam pencarian resolusi konflik.

Poin keenam dan ketujuh, adanya konflik yang berkelanjutan menyebabkan berkurangnya kepercayaan publik terhadap pemerintahan khususnya agen keamanan dan polisi. Hal ini dikarenakan masyarakat Rusia menyadari bahwa konflik yang ada di dalam kedua institusi tersebut berkembang ke arah politis. Disamping itu, berkurangnya kepercayaan publlk terjadi karena dicurigai adanya praktik korupsi yang terjadi di dalam kedua institusi tersebut dalam menangani konflik yang terjadi.

Poin kedelapan, konflik Chechnya pada awalnya bertujuan dalam pergerakan separatis. Pada perkembangannya, konflik tersebut beralih menjadi gerakan Islam ekstrimis. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pengaruh Wahabi yang masuk ke dalam kelompok separatis Chechnya khususnya pada serangan Basaev dan pasukan Hattab ke Dagestan pada Agustus-September 1999. Adanya hal ini semakin memperkeruh masalah dimana masyarakat Chechnya dianggap mencari dukungan dari negara-negara Islam namun  di sisi lain hal ini dapat menjadi pertunjukkan Putin untuk melawan teroris.

Poin kesembilan, terdapat kontradiksi dimana tidak ada negara lain yang mengakui kemerdekaan Chechnya sebagai negara. Disamping itu, tidak ada pula negara-negara di dunia yang melakukan hubungan diplomatik dengan Chechnya. Meskipun terdapat beberapa negara yang tidak mengakui Chechnya sebagai negara ada dugaan Chechnya mendapat dukungan dari organisasi Islam untuk melakukan pemberontakan. Adanya bantuan yang masuk terhadap usha aseparatis Chechnya diyakini akan memperpanjang konflik separatis.

Selanjutnya, strategi pengalihan kekuasaan kepada otoritas resmi Chechnya akan sangat kecil peluang keberhasilannya, kecuali mayoritas penduduk Chechnya bersedia menerima pemerintah daerah yang sah. Hal tersebut tidak akan terjadi karena pada masa pemerintahan Kadyrov yang memerintah secara kejam dan otoriter melalui penyiksaan, pembunuhan, penangkapan massal, kronisme sistematis yang didukung oleh pasukan Rusia. Dalam pemikiran penduduk Chechen telah terbentuk sebuah persepsi bahwa walaupun dalam bentuk republik, pemerintahan Chechnya sedikit banyak akan tetap dipengaruhi oleh sistem federal Rusia. Dan persepsi atau pemikiran ini semakin menguat dengan adanya pengetatan kontrol dari pusat serta meningkatnya penyebaran pasukan Rusia dalam menangani isu-isu terorisme khususnya di Chechnya.

Poin berikutnya, jika bagian lain dari Kaukasus Utara dan Kaukasus selatan semakin ditarik ke dalam konflik Chechnya, akan timbul sebuah dampak yang mengerikan yang dapat mengancam keamanan regional. Perang di Chechnya telah menjadi katalis atau fasilitator untuk munculnya sejumlah fenomena baru yang telah meningkatkan volatilitas Kaukasus Utara seperti naiknya elemen ekstrimis Islam di Ingushetia, munculnya kelompok radikal di Kabardino-Balkaria dan Karachaevo-Cherkessia. Munculnya gerakan-gerakan dari luar ini secara tidak langsung dapat memperkeruh keadaan serta berpotensi memperpanjang konflik yang ada.

Berikutnya, perang di Chechnya, meskipun tampaknya terbatas pada wilayah Federasi Rusia, telah memiliki dampak keamanan yang lebih luas, termasuk di Irak. Ada bukti bahwa pemberontak yang menolak kehadiran Amerika Serikat dan koalisi di Irak telah menggunakan taktik yang mirip dengan teknik yang digunakan oleh pemberontak di Chechnya. Meskipun artikel di pers Rusia yang mengklaim bahwa gerilyawan Chechen selaras dengan Al-Qaeda yang telah berjuang bersama kelompok Islam fundamentalis di Irak sebagian besar hiperbolik dan tidak berdasar, ada cukup alasan untuk percaya bahwa setidaknya beberapa pemberontak Irak telah menerima bantuan langsung dari para gerilyawan Chechnya. Meskipun tingkat dan sifat hubungan antara IMU dan Wahhabi Chehcnya sulit untuk dilacak, inspirasi bahwa IMU telah ditarik dari pimpinan fundamentalis Islam di Chechnya menggarisbawahi bahwa dampak destabilisasi konflik Rusia-Chechnya telah merambah keluar perbatasan Rusia.

Pemerintah Rusia juga dinilai tidak memiliki akuntabilitas mengenai konflik yang terjadi di Chechnya. Hal ini terlihat saat adanya investigasi yang dilakukan oleh parlemen dan komisi independen menganai asal usul dan pelaksaan perang di Chechnya, namun dengan cepat hal tersebut dibajak oleh pemerintah Rusia dengan membatasi lingkup dari investigasi dan menutupi kesalahan-kesalahan yang berlevel tinggi. Beberapa orang Rusia dan organisasi non-pemerintah internasional telah menulis laporan kritik mengenai penyiksaaan yang merajalela, pembunuhan dan pelanggaran di Chechnya, namun laporan ini terus menerus ditolak oleh pemerintah Rusia, yang juga dengan semangat mengontrol liputan televisi Chechnya untuk memastikan bahwa konflik tidak menjadi masalah debat publik.

Jika dibandingkan, pemerintah Amerika Serikat dan Inggris Raya telah menghadapi pengawasan dari badan legislatif, dari komisi resmi yang  menyelidiki banyak aspek dari Perang Irak dan pendudukan setelah perang, dan dari pers dan organisasi non-pemerintah. Secara lengkap pada Oktober 2004, kelompok survei Irak juga melaporkan informasi berkaitan dengan situasi situasi Irak hingga invasi Maret 2003. Banyak juga analisis dari intelejen yang digunakan oleh pemerintah Amerika Serikat dan Inggris Raya sebelum perang, dan beberapa investigasi dinas lain dan legislatif telah diungkapkan sejumlah besar dari bukti mengenai perang tersebut, awal dan setelahnya. Dengan begitu, warga Amerika Serikat dan Inggris Raya memiliki informasi yang sama banyak mengenai konflik di Irak, bebeda dengan warga Rusia. Kurangnya transparansi pemerintah Rusia dalam hal ini malah memberikan fleksibilitas dan kebebasan pemerintah Rusia dalam beraksi dan juga menjadi celah untuk melakukan korupsi dan pelanggaran lainnya untuk menjaga perang tetap berlanjut.

Perbandingan ini, dan yang lainnya mungkin menarik bagi konflik di tempat lain, sebuah  analisis yang disarankan mengenai perang di Chechnya dapat meemberikan  pelajaran yang berguna bagi pemerintah yang mencoba mengatasi  kekerasan sparatis, pemberontakan, dan terorisme berskala besar.   Perang  anti-pemberontakan  tidak selemah seperti yang diasumsikan, tapi  ketidakmampuan  tentara Rusia dan angkatan bersenjatanya  untuk menghancurkan perlawanan Chechen setelah tahun-tahun telah membuat pertumpahan darah yang berarti dibayar dengan harga mahal. Setidaknya, pemerintah yang ingin  mengakhiri pemberontakan separatis harus bersedia menanggung kerugian bagi masyarakat luas, materi, politik.

Rusia pasti akan memiliki nasib yang lebih baik di Chechnya kalau tentaranya, pasukan keaman dan sistem politiknya tidak terlibat dalam korupsi, kronisme, ketidakpedulian dan inkompetensi administrasi. Masalah yang dimiliki Rusia di Chechnya adalah sebagian kesalahannya sendiri, meskipun begitu, konflik Rusia-Chechnya merupakan pengingat bagi semua pemerintah bahwa sulitnya mengalahkan pemberontakan yang gigih.

Referensi:

Kramer, Mark, (2005). Guerrilla Warfare, Counterinsurgency and Terrorism in the North Caucasus: The Military Dimension of the Russian-Chechen Conflict. Europe-Asia Studies, Vol. 57, No. 2, hal. 209-290

Ditulis oleh: Teguh Andi Raharjo, Universitas Airlangga, teguharaharjo@gmail.com.