Pada hari Jumat lalu, Amerika Serikat mengumumkan kebijakan baru untuk memperketat pemberian visa untuk para jurnalis yang berasal dari Tiongkok, diklaim sebagai respon mereka terhadap perlakuan pemerintah Tiongkok terhadap jurnalis Amerika Serikat. Pihak departemen keamanan nasional Amerika menyebutkan bahwa Tiongkok telah melakukan tindakan supresi terhadap independensi jurnalisme dan harus mendapat balasannya. Dalam regulasi tersebut, para jurnalis berkewarganegaraan Tiongkok yang bekerja di agensi-agensi media non-Amerika akan memperoleh batasan masa berlaku visa hingga 90 hari saja. Meski dapat diperpanjang untuk 90 hari berikutnya, penurunan tersebut dapat terbilang cukup drastis dari pemberian izin visa sebelumnya yang tidak memiliki batas waktu tertentu dan cukup melakukan entri tunggal saja bagi seluruh jurnalis Tiongkok yang memiliki paspor dan visa masuk yang sah.

Program pengetatan visa kemudian semakin menambah eskalasi konflik Amerika Serikat dengan Tiongkok untuk memperebutkan dominasi media global terkais isu ekonomi, geopolitik, dan penyebaran informasi. Sejak awal terjadinya perang dagang antar kedua negara adidaya tersebut dimulai, perebutan media global memang telah menjadi isu yang sangat penting. Dalam beberapa bulan terakhir, utamanya dalam situasi pandemik virus corona yang berawal di Tiongkok, ketegangan isu media dan jurnalisme Amerika Serikat dan Tiongkok meningkat. Hal ini juga mempengaruhi hubungan diplomatik antar keduanya dalam berbagai aspek serta menimbulkan rasa saling curiga atas kebijakan-kebijakan yang diterapkan. Para jurnalis Tiongkok yang berada di Amerika dan berusaha untuk bekerja secara independen telah menunjukkan kekhawatiran terkait masa depan pekerjaan mereka dan mengatakan bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam konflik yang begitu kompleks. Para jurnalis Amerika yang berada di Tiongkok juga mengatakan hal serupa.

Sembari mengumumkan regulasi barunya, Amerika mengklaim bahwa tindakan ini diperlukan untuk mengimbangi perlakuan Tiongkok yang semena-mena terhadap aktivitas jurnalisme dalam beberapa bulan terakhir. Peraturan ini diperkirakan akan mengurangi jumlah jurnalis Tiongkok di Amerika, namun juga berpotensi dapat memicu tindakan balasan dari pemerintah Tiongkok. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok umumnya memberikan izin visa  dalam durasi yang pendek – hanya berlaku sekitar satu hingga enam bulan – dengan tujuan untuk mengontrol berita-berita yang diunggah para media asing.

Pada bulan Februari, Amerika Serikat menunjuk lima kantor media Tiongkok sebagai bagian dari “misi asing” dari pemerintah Tiongkok dan mencurigai beberapa jurnalis sebagai mata-mata. Beberapa hari setelahnya, pemerintah Tiongkok mencabut hak jurnalisme bagi tiga jurnalis yang bekerja untuk The Wall Street Journal akibat tulisan mereka terkait Partai Komunis Tiongkok yang dipandang rasis karena menggunakan istilah “the real sick man of Asia”. Amerika serikat kemudian memerintahkan empat kantor berita Tiongkok untuk memangkas jumlah staf mereka di Amerika.

Sedangkan pada bulan Maret, Tiongkok mengusir hampir semua jurnalis Amerika dari The New York Times, The Washington Post, dan The Wall Street Journal dengan alasan tindakan tersebut bersifat resiprokal dan perlu dilakukan. Menilik lebih dalam, hal tersebut terjadi kurang lebih dua pekan setelah Amerika Serikat mengumumkan bahwa hanya 100 – sebelumnya 160 – warga negara Tiongkok yang dipekerjakan oleh lima agen media pemerintah Tiongkok yang diperbolehkan untuk bekerja di Amerika Serikat. Kebijakan tersebut diajukan oleh David R. Stilwell, asisten menteri luar negeri untuk Asia Timur dan Pasifik, hingga kemudian memperoleh persetujuan pada 24 Februari. Para petugas kenegaraan mengatakan bahwa saat itu mereka memang sedang membicarakan aksi balasan terhadap penindasan Tiongkok terhadap para jurnalis Amerika.

Lebih lanjut, pemerintah Amerika memutuskan bahwa program pengetatan visa akan segera diterapkan pada Senin esok dan hanya berlaku untuk jurnalis Tiongkok saja, tidak berlaku untuk jurnalis dari Hongkong dan Makau. Tindakan ini disebut sebagai balasan yang setimpal untuk kebijakan Tiongkok terhadap para jurnalis Amerika di bulan Maret, sekaligus sebagai langkah penting yang akan meningkatkan perlindungan keamanan nasional. Sementara itu pihak agen media Tiongkok, Global Times, segera memberikan responnya dengan mengunggah artikel yang menuliskan bahwa tindakan ini menunjukkan kurangnya rasa percaya diri dan standar ganda. Amerika Serikat yang seringkali mengklaim dukungannya terhadap kebebasan pers, kini banyak menerapkan program yang berlawanan dengan prinsip tersebut.

Referensi:

Bloomberg News. 2020. “U.S Tightens Visa Rules for Chinese media in Journalists Spat” [online] tersedia dalam https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-05-09/u-s-tightens-visa-rules-for-chinese-media-in-journalists-spat [diakses 10 Mei 2020]

Wang, Vivian dan Wong, Edward. 2020. “U.S Hits Back at China with New Visa Restrictions on Journalists” [online] tersedia dalam https://www.nytimes.com/2020/05/09/us/politics/china-journalists-us-visa-crackdown.html [diakses 10 Mei 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti