Pada bulan ini, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS) telah memerintahkan penangkapan terhadap sejumlah anggota kerajaan dan staff penting dalam pemerintahan Arab Saudi dalam kerangka pemberantasan korupsi di negara tersebut. Hal ini kemudian menimbulkan sejumlah pertanyaan dan spekulasi terkait alasan dan dampak yang dapat terjadi di masa depan. Tepatnya, badan pemberantas korupsi di Arab Saudi, Nazaha,  telah menginvestigasi 674 orang dan kemudian menangkap 298 di antaranya atas tuduhan korupsi finansial dan administratif, termasuk di antaranya penyuapan, penggelapan dan pemborosan uang rakyat, serta penyalahgunaan kekuasaan dan administratif. Diperkirakan hasil korupsi tersebut berjumlah sekitar 101 juta dollar atau 379 juta Saudi Riyal.

Penangkapan tersebut kemudian memicu protes dan tuntutan masyarakat terhadap hak-hak asasi manusia dari para tersangka. Michael Page, salah satu petinggi Human Rights Watch (HRW) untuk Timur Tengah mengatakan bahwa upaya pemberantasan korupsi bukanlah alasan untuk melanggar proses dan mencegah pembelaan yang merupakan hak dari orang-orang tersebut. Ia melanjutkan bahwa mengingat catatan kekerasan yang telah dilakukan sebelumnya, otoritas Saudi harus menyusun reformasi fundamental terhadap sistem pengadilannya untuk memastikan adanya prosedur legal yang benar-benar adil.

Sebelumnya, penangkapan serupa juga telah terjadi pada tahun 2017 di salah satu hotel mewah Ritz-Carlton di Riyadh. Penangkapan tersebut juga dilakukan atas perintah MBS terhadap sejumlah anggota kerajaan dan pelaku bisnis besar di Arab Saudi. Meski pada awal masa jabatannya, MBS memperoleh banyak pujian karena janji-janji reformasi sosial dan ekonomi yang begitu menarik bagi negara konservatif tersebut, namun pada kenyataannya ia juga tidak terlepas dari kritik dan telah terlibat dalam berbagai skandal di antaranya kebijakan MBS yang dipandang menyebabkan Perang Yaman, perlakuan yang tidak baik terhadap para aktivis hak perempuan, dan keterlibatannya dalam kasus pembunuhan Jamal Khashoggi pada tahun 2018. Tindakan-tindakan tersebut kemudian menjadi awal munculnya sejumlah kritik dan skeptimisme masyarakat baik domestik maupun internasional terhadap kepemimpinan MBS.

Lebih lanjut, pada Jumat lalu, MBS juga memerintahkan penangkapan terhadap tiga anggota kerajaan yakni Prince Ahmed bin Abdul Aziz, Prince Mohammed bin Nayef, dan Prince Nawaf bin Nayef. Dua di antaranya merupakan figur politik yang memiliki pengaruh sangat besar di Arab Saudi. Prince Ahmed merupakan adik termuda dari Raja Salman dan salah satu anak dari Raja Abdelaziz yang masih hidup, sedangkan Pangeran Mohammed pernah menjabat sebagai putra mahkota dan menteri dalam negeri pada pemerintahan sebelumnya. Bagi para peneliti, tindakan tersebut merupakan upaya MBS untuk mendapatkan kekuasaan dengan mentarget dua anggota paling berpengaruh di kerajaan. Dengan keduanya dapat menjadi pusat alternatif sebagai penerus kerajaan yang sah, keberadaan mereka telah menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi MBS karena dipandang dapat menggiring opini anggota kerajaan yang lain untuk menggulingkan kekuasaannya dan mencegahnya menjadi penerus Raja Salman. Sementara itu, beberapa peneliti lain memandang penangkapan ini disebabkan oleh kesehatan Raja Salman yang semakin menurun dan kemungkinan kekalahan Donald Trump dalam pemilihan umum Amerika Serikat pada bulan November mendatang.

Setiap tahunnya dan terakhir pada bulan lalu, Raja Salman memanggil Prince Ahmed untuk mendukung naiknya MBS sebagai penerus kerajaan, namun ia selalu menolak dan mengatakan bahwa kerajaan itu adalah miliknya di masa depan berdasarkan keinginan ayahnya. Sebagai anak bungsu dari tujuh Sudairi bersaudara, Prince Ahmed kemudian dapat dikatakan sebagai penerus yang sah berdasarkan sistem garis keturunan di Arab Saudi. Selama ini, Prince Ahmed juga telah terlihat vokal dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan MBS. Pada tahun 2018 ia menyuarakan kritiknya terhadap kebijakan MBS dalam Perang Yaman dan mengatakan bahwa kebijakan tersebut bukanlah kesalahan dari seluruh anggota kerajaan melainkan tanggung jawab Raja Salman dan MBS sepenuhnya. Meski demikian, ia menarik kembali ucapannya dan menganggap bahwa perkataan tersebut telah diartikan diluar konteks sesungguhnya. Tidak hanya itu, ia juga telah berbicara dengan sejumlah anggota kerajaan lain yang meski tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan diketahui oleh kerajaan, namun tindakan ini dipandang sebagai bentuk upaya penggulingan dan pengkhianatan yang berakhir pada penangkapannya pekan lalu. Penangkapan tersebut dipandang sebagai sebuah pesan yang dikirimkan MBS untuk semua anggota kerajaan yang lain, bahwa jika Ahmed saja bisa tertangkap maka begitu pula dengan anggota yang lain.

Sedangkan Mohammed bin Nayef juga merupakan rival yang kuat karena sebelumnya pernah menjabat sebagai putra mahkota dan menteri dalam negeri yang dalam masa kepemimpinannya telah menjalin relasi yang baik dengan badan intelijen Amerika Serikat dan Inggris. Bagi kedua negara tersebut, Nayef adalah penerus yang akan menguntungkan karena dalam kepemimpinan sebelumnya, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya selalu condong ke keuntungan negara-negara Barat. Tidak hanya itu, Nayef juga memiliki koneksi yang kuat baik dari dalam maupun luar kerajaan, serta berpengalaman dalam penjagaan keamanan dalam kerajaan.

Lebih lanjut, penangkapan kedua figur tersebut utamanya dimaksudkan untuk memudahkan transisi kekuasaan agar MBS dapat langsung menjabat sebagai raja pada bulan November dalam pertemuan G20 yang akan diselenggarakan di Riyadh. Pertama, terdapat kekhawatiran MBS bahwa Trump tidak akan terpilih dalam pemilihan umum Amerika pada November mendatang sehingga dukungan yang diberikan oleh Amerika untuk Saudi juga tentu jauh lebih berkurang karena sejatinya partai lain di Amerika bukanlah aliansi Saudi. Glen Carl, salah satu anggota staff badan intelijen Amerika Serikat, mengatakan bahwa jika Trump tidak memenangkan pemilu, maka pendekatan Amerika ke Saudi juga akan berubah. Selanjutnya, kesehatan Raja Salman yang menurun juga tidak menguntungkan MBS karena ia membutuhkan persetujuan semua anggota kerajaan, termasuk Ahmed dan Nayef ketika raja masih hidup agar ia dapat secara otomatis naik menjadi raja ketika Raja Salman meninggal. Sedangkan jika raja sudah tiada dan persetujuan tersebut belum didapatkan, maka akan menjadi lebih sulit karena anggota-anggota yang lain juga dapat berkompetisi untuk posisi raja sesuai dengan tradisi.

Referensi:

Human Rights Watch. 2020. “Saudi Arabia: New Mass Corruption Arrests” [online] tersedia dalam https://www.hrw.org/news/2020/03/17/saudi-arabia-new-mass-corruption-arrests [diakses 19 Maret 2020]

Ibrahim, Arwa. 2020. “MBS’s Crackdown: What Prompted the Recent Arrest of Saudi Royals?” [online] tersedia dalam https://www.aljazeera.com/news/2020/03/mbs-crackdown-prompted-arrest-saudi-royals-200311143707752.html [diakses 19 Maret 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti, Universitas Airlangga, diva.nadila@gmail.com