Pada Hari Minggu lalu, tiga orang pengungsi asal Sudan ditangkap di Prancis karena tindakan kriminal penyerangan yang menyebabkan dua orang terbunuh dan lima orang lainnya terluka cukup parah. Peristiwa ini semakin menambah kekhawatiran dan ketakutan masyarakat Prancis di tengah pandemik saat ini. Investigasi kemudian segera dilakukan oleh badan penyelidikan dan kepolisian Prancis terkait kemungkinan adanya jaringan terorisme dengan kelompok-kelompok ekstrimis yang berada di luar Prancis.

Pelaku pertama yang telah diidentifikasi bernama Abdallah A.O, berjalan memasuki toko penjual tobacco di daerah Romans-sur-Isere, dekat Grenoble, lalu mulai melakukan penusukan terhadap pemilik toko dan sejumlah pelanggan. Pemilik toko tobacco tersebut, Serge Founier, beserta pasangannya, Ghislaine Auclair, menjadi salah satu korban luka dengan kondisi yang paling parah. Ia mengakui bahwa dirinya masih mengalami shock, namun berusaha untuk tetap semangat dan bersikap positif. Walikota Marie-Helene Thoraval menyatakan bahwa setelah meninggalkan toko tobacco, ia berjalan memasuki toko daging dan mengambil pisau sebelum kemudian menyerang pelanggan dan orang-orang yang sedang mengantri di depan toko roti. Pemilik toko daging tersebut, Ludovic Breyton, mengatakan bahwa setelah mengambil pisau, pelaku segera melompat dan menusuk seorang pelanggan, kemudian melarikan diri. Istri Ludovic telah berupaya membantu korban tusukan namun upaya tersebut sia-sia. Polisi mengatakan bahwa ia sempat menyerang di dua toko berbeda sebelum akhirnya tertangkap. Penyerangan tersebut dilakukan sekitar pukul 10.45 siang dan pelaku ditangkap sekitar 15 menit setelahnya.

Sebelum ditangkap, ia ditemukan sedang berlutut di tengah jalan dan tengah berdoa dalam Bahasa Arab. David Olivier Reverdy, seorang anggota the National Police Alliance Union, mengatakan bahwa pelaku kemudian memohon polisi untuk segera menghabisinya saja. Tercatat ia bernama Abdallah A.O, lahir pada tahun 1987, merupakan seorang pengungsi dari Sudan sejak Juni 2017 dan mendapat izin tinggal di Prancis pada Juli di tahun yang sama. Polisi menyatakan bahwa sebelumnya ia tidak memiliki jejak rekam kriminal apa pun, namun investigasi tetap akan terus dilakukan. Pada penyerangan ini, Abdallah telah membunuh dua orang yakni seorang penjual daging berumur 55 tahun dan seorang pelayan berumur 44 tahun. Saat ini ia telah ditangkap dan diinterogasi bersama kedua rekannya oleh pihak kepolisian setempat.

Lebih lanjut, ketika polisi menyelidiki tempat tinggalnya, mereka dokumen yang ditulis tangan berisi sejumlah konotasi religius dan pernyataan keluhan terkait dirinya yang harus bertempat tinggal di negara orang-orang “kafir” atau para unbelievers. Salah satu rekannya ditemukan di tempat tersebut dan kemudian juga ditangkap, bersama dengan Abdallah dan rekan lain yang bertempat tinggal di sekitar daerah tersebut. Perdana Menteri Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan bahwa ia optimis akan menemukan jalan terang untuk masalah yang telah menambah duka di Prancis yang tengah mengalami penderitaan parah akibat virus corona dalam beberapa minggu terakhir.

Sejatinya saat ini Prancis telah memasuki masa lockdown dalam kurang lebih 20 hari terakhir. Maka dari itu, telah dilakukan pembatasan masyarakat yang diperbolehkan untuk keluar rumah – hanya diperbolehkan untuk membeli keperluan sehari-hari dan berolahraga. Penyerangan ini kemudian juga dipandang telah memposisikan Prancis dalam posisi rentan karena tenaga polisi dan keamanan tengah dikerahkan untuk mengamankan kebijakan lockdown di seluruh kota. Namun pasca peristiwa penusukan ini, kelompok investigator Prancis segera berupaya menemukan jaringan teroris yang memiliki hubungan dengan ketiga pelaku, baik di tempat asalnya, Sudan, maupun di tempat lain.

Mengulas kembali aksi-aksi terorisme yang pernah terjadi di Prancis, sejatinya penyerangan telah terjadi beberapa kali. Pada November 2015 di Teater Bataclan, sebuah kelompok ekstrimis telah membunuh 130 orang. Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu serangan skala besar terburuk dalam sejarah Prancis. Pada Juli 2016 juga terdapat serangan yang membunuh 86 orang dan melukai lebih dari 400 orang akibat tabrakan truk yang menyerang kerumunan di Nice, bagian selatan Prancis. Pelakunya ialah seorang imigran Tunisia yang kemudian juga tewas akibat tembakan polisi setempat. Di bulan yang sama, dua teroris ISIS juga telah melakukan aksi pembunuhan terhadap seorang pendeta Katolik yang tengah beribadah di Normandy. Kemudian di awal tahun ini juga terjadi penyerangan oleh seorang pengikut Al-Qaeda yang menerobos masuk ke kantor majalah the Charlie Hebdo hingga menewaskan 17 orang di dalam gedung dan tiga orang lain halaman luar. Meninjau sejumlah peristiwa di atas dan penusukan yang baru saja di Prancis, maka investigasi dan upaya counter-terrorism menjadi suatu hal penting untuk diprioritaskan oleh pemerintah agar peristiwa serupa tidak lagi terjadi di masa depan.

Referensi:

Allen, Peter. 2020. “Three Sudanese Refugees Held After Terror Attack in French Town on Coronavirus Lockdown that Left Two Dead and Seven Severely Wounded” [online] tersedia dalam https://www.dailymail.co.uk/news/article-8189351/Three-Sudanese-refugees-held-terror-attack-French-town-coronavirus-lockdown.html [diakses 6 April 2020]

BBC. 2020. “Romans-sur-Isere: France Launches Terror Probe After Knife Attack” [online] tersedia dalam https://www.bbc.com/news/world-europe-52165522 [diakses 6 April 2020]

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti