Salah satu indikator yang bisa digunakan untuk melihat dan mengukur perkembangan suatu negara atau wilayah adalah kondisi demografis dan kependudukannya. Wilayah Asia Timur merupakan wilayah yang cenderung terdiri dari negara-negara berkembang dengan perekonomian yang mengalami peningkatan drastis sejak beberapa dekade terakhir hingga dapat menyaingi perekonomian negara-negara Barat. Peristiwa tersebut menyebabkan adanya transisi demografis yang terjadi dalam masyarakat negara-negara di Asia Timur khususnya Tiongkok yang saat ini termasuk kedalam lima negara dengan jumlah populasi tertinggi di dunia. Namun, wilayah Asia Timur memiliki transisi demografis yang unik dan tidak dapat disamakan dengan perkembangan yang terjadi di Barat sehingga dibutuhkan suatu bentuk analisis yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor-faktor distingtif yang mempengaruhi seperti budaya, diskriminasi gender, dan kondisi ekonomi. Negara-negara Asia Timur yang pada umumnya memiliki sistem pemerintahan yang hirarkis dan terpusat seperti Tiongkok kemudian merespon peningkatan populasi yang ada dengan melakukan intervensi pemerintah untuk menstabilkan kembali kondisi demografisnya melalui berbagai kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut diperlukan karena peningkatan populasi yang tidak terkendali dianggap dapat memunculkan berbagai potensi hambatan seperti kemunduran ekonomi, tingginya arus migrasi dan urbanisasi, serta aging population.

Pemahaman singkat terkait perkembangan demografis dan kependudukan yang terjadi di Asia Timur khususnya Tiongkok dapat ditinjau dari sisi sejarahnya. Sebelum masa Perang Dunia II, angka kelahiran baik di Barat maupun Timur pada umumnya masih relatif tinggi dengan rata-rata enam anak dalam satu keluarga. Namun teknologi medis dan tingkat edukasi yang belum modern menyebabkan angka harapan hidup masih cenderung rendah jika dibandingkan dengan masa sekarang sehingga angka mortalitasnya pun tinggi dimana rata-rata terjadi kematian sebelum anak menginjak umur 15 tahun (Zhao, 2011). Negara Barat kemudian mengalami transisi demografis pada masa pasca Perang Dunia II yang menyebabkan menurunnya angka mortalitas sekaligus kelahiran sehingga pada masa kini pun negara-negara Barat mengalami pertumbuhan penduduk yang cenderung rendah. Berbeda dengan Tiongkok yang pada tahun 1950-an masih memiliki angka kelahiran yang tinggi, sehingga pada tahun 1970-an, terdapat peningkatan jumlah masyarakat produktif. Pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan mulai terbukanya perekonomian Tiongkok terhadap pasar bebas kemudian menyebabkan adanya pertumbuhan ekonomi yang pesat (Zhao, 2011). Tidak hanya itu, pertumbuhan ekonomi juga disebabkan oleh menurunnya skala dependensi dari 80 menjadi 39 karena banyaknya jumlah usia produktif. Namun, pemerintah Tiongkok dapat melihat permasalahan yang akan terjadi jika pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali terus berlangsung sehingga pada tahun 1970-an, pemerintah Tiongkok mengeluarkan kebijakan perencanaan keluarga (Zhao, 2011).

Lebih lanjut, kebijakan one child policy yang dikeluarkan oleh pemerintah Tiongkok berhasil menyebabkan adanya penurunan dalam angka kelahiran hingga rata-rata hanya terdapat dua sampai tiga anak dalam satu keluarga. Akibat dari penurunan angka kelahiran tersebut adalah munculnya aging population yakni tingginya jumlah masyarakat usia lanjut jika dibandingkan dengan usia produktif dan anak-anak yang ditunjukkan pada peningkatan jumlah masyarakat usia lanjut sebesar 0,7% di tahun 1982-1990 (Du & Wang, 2011). Lebih lanjut, Chan (2005) menjelaskan bahwa terdapat pendapat yang berbeda terkait bagaimana seseorang atau sebuah negara memandang peristiwa aging population karena adanya diskriminasi gender dan interpretasi kultural yang berbeda. Masyarakat lanjut usia dapat dipandang sebagai kelompok yang bijak dan dihormati karena wawasan religiusnya seperti di Malaysia, namun juga dapat dipandang sebagai beban karena tidak produktif dan tidak banyak berpartisipasi dalam kegiatan sosial (Chan, 2005). Di wilayah Asia Timur sendiri seperti yang sudah diketahui sebelumnya, terdapat konsep konfusianisme dimana dalam sebah keluarga terdapat suatu struktur hirarkis antara orangtua dan anak. Dengan kata lain, seorang anak dalam sebuah keluarga memiliki tanggung jawab moral untuk merawat orangtuanya yang lanjut usia. Masyarakat lanjut usia yang tidak memiliki fisik dan pikiran sekuat masyarakat usia produktif menyebabkan adanya kesulitan ekonomi yang dialami sehingga diperlukan bantuan.

Chan (2005) memaparkan bahwa bantuan yang diterima masyarakat lanjut usia dapat berasal dari sektor formal dan informal. Secara formal, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dapat meringankan beban anak dengan memberi bantuan langsung pada masyarakat lanjut usia seperti mengadakan program pensiun dan asuransi kesehatan yang diberikan kepada masyarakat lanjut usia. Selain itu, terdapat pula kebijakan yang mendukung anak untuk semakin membantu orangtuanya dengan kebijakan seperti memberikan gaji yang lebih tinggi dan meringankan pajak bagi anak-anak yang bersedia tinggal bersama orangtuanya. Sedangkan secara informal, bantuan dapat diberikan melalui pengaturan tempat tinggal dan transfer intergenerasional (Chan, 2005). Masyarakat lanjut usia yang tinggal bersama anak-anaknya dapat dikatakan lebih terjamin kehidupannya dan alira dana yang diberikan menjadi lebih mudah, terlebih dengan adanya tanggung jawab moral anak untuk merawat orangtuanya sehingga di Asia, jumlah anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya adalah tinggi, berbeda dengan negara Barat yang cenderung individualis. Sedangkan transfer intergenerasional dapat dilakukan dengan memberi bantuan dana, waktu, dan barang-barang secara berkala untuk menunjang kehidupan masyarakat lanjut usia yang sudah tidak memiliki pemasukan yang produktif.

Kebijakan populasi yang ketat di tahun 1970 dan 1980 kemudian mengalami kelonggaran di tahun 1990 ketika pembangunan ekonomi sudah mulai berjalan dengan pesat (Du & Wang, 2011). Terkait hal ini, aging population dapat menjadi permasalahan penting karena roda ekonomi dapat berjalan dengan konsumsi yang seimbang dengan produktivitas, sedangkan masyarakat usia lanjut cenderung rendah daya konsumsinya. Du & Wang (2011) memandang bahwa masyarakat lanjut usia memiliki prioritas konsumsi yang berbeda dengan masyarakat produktif sehingga terjadi transisi. Masyarakat lanjut usia cenderung memiliki daya beli yang rendah dalam barang-barang terkait pekerjaan, namun daya beli yang tinggi dalam produk kesehatan dan makanan. Tingginya kebutuhan dan pembangunan ekonomi kemudian memunculkan fenomena baru yakni migrasi dan urbanisasi. Pada awalnya migrasi telah dilakukan sejak dibukanya perekonomian Tiongkok di tahun 1970-an, namun tingginya jumlah populasi masyarakat usia produktif di tahun 1990-an menyebabkan semakin tinginya arus pergerakan masyarakat sebagai pekerja dari wilayah rural ke urban yang diiringi oleh perkembangan ekonomi (Athukorala, 2006). Pergerakan pekerja atau buruh tersebut dapat dibagi menjadi kelompok program pemerintah dan individu. Feng (2001) dalam Athukorala (2006) menjelaskan bahwa hambatan yang terjadi terkait program migrasi yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah ekspor buruh yang tidak dianggap lebih penting dari perdagangan bebas sehingga sistem dan legislasinya menjadi kurang sempurna, jaringan ekspor kurang luas sehingga banyak muncul migrasi gelap, dan hak-hak buruh tidak diproses secara efektif. Maka dari itu, meski sudah terdapat usaha pemerintah Tiongkok untuk meregulasi migrasi di negaranya namun jumlah populasi yang terlalu besar menyebabkan permintaan semakin tinggi sehingga akses semakin terbatas.

Migrasi kemudian dapat berdampak pada kondisi demografis masyarakat karena terjadi dinamika jumlah populasi yang masuk dan keluar dari satu negara ke negara lain. Bagi Tiongkok, migrasi dan urbanisasi dapat berdampak positif karena adanya pengurangan jumlah penduduk dalam negeri sehingga dapat mengimbangi peningkatan populasi yang terus terjadi (Athukorala, 2006). Selain itu, migrasi juga memunculkan floating population yang dapat memberi remittance bagi pemasukan negara. Akan tetapi migrasi juga dapat berakibat negatif pada aging population yang terjadi di Tiongkok karena semakin berkurangnya jumlah anak-anak yang dapat mendukung dan menaruh prioritas pada orangtuanya yang mana hal tersebut dapat meningkatkan skala dependensi (Chan, 2005). Lebih lanjut, Zhao (2011) beranggapan bahwa kondisi demografis Tiongkok di masa yang akan datang akan mengalami puncak masa produktif di tahun 2015 namun tetap dalam angka kelahiran yang relatif rendah, juga terjadinya aging population dan floating population akibat urbanisasi.

Dapat disimpulkan bahwa kondisi demografis yang dimiliki oleh suatu negara dapat berpengaruh terhadap stabilitas dan perkembangan di berbagai bidang termasuk ekonomi. Di wilayah Asia Timur khususnya Tiongkok, pemerintah telah melakukan intervensi dan pengaturan terhadap jumlah peningkatan populasi yang tidak terkendali dengan mengeluarkan kebijakan one child policy di tahun 1970-an. Penurunan jumlah angka kelahiran akibat kebijakan ketat tersebut kemudian menyebabkan tingginya usia produktif di tahun 1990-an yang menyebabkan adanya pertumbuhan ekonomi. Migrasi kemudian banyak dilakukan untuk meningkatkan pembangunan sekaligus mengatasi jumlah populasi yang terlalu tinggi. Pada saat yang bersamaan, terdapat istilah aging population dimana kondisi demografis Tiongkok mulai dipenuhi oleh masyarakat lanjut usia. Hal tersebut dapat menjadi pendukung kemajuan negara sekaligus dapat menjadi hambatan untuk perkembangan ekonomi yang sedang berjalan. Penulis beropini bahwa bagi negara-negara berkembang yang seringkali mengalami pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, intervensi pemerintah memang diperlukan untuk menjaga stabilitas demografis yang ada. Namun, kebijakan yang dikeluarkan harus didukung oleh pertumbuhan ekonomi, kondisi sosial yang stabil, dan terjaminnya aspek-aspek kehidupan seperti keamanan, pendidikan dan kesehatan.

Referensi:

Athukorala, Prema-Candra. 2006. International Labour Migration in East Asia: Trends, Patterns, and Policy Issues. Asia Pacific School of Economics and Government. The Australian National University and Blackwell Publishing Asia Pty Ltd.

Chan, Angelique. 2005. Aging in Southeast and East Asia: Issue and Policy Directions Journal of Cross Cultural Gerontology.

Du, Yang & Wang, Melyan. 2011. “Population Ageing, Domestic Consumption, and Future Economic Growth in China” dalam Ligang Song & Jane Gooley (eds.). Rising China: Global Challenges and Opportunities. Canberra: ANU E Press.

Zhao, Zhongwei. 2011. “China’s Demographic Challeges from a Global Perspective” dalam Ligang Song & Jane Gooley (eds.). Rising China: Global Challenges and Opportunities. Canberra: ANU E Press.

Ditulis oleh: Divany Nadila Relytanti